Konten dari Pengguna

Kerja Kiri & Kerja Kanan: Kinerja Minus Kepolisian yang Kita Agungkan

Nazam

Nazam

Penulis independen yang berfokus pada isu sosial - filosofis, pendiri Horizons of Existence

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kerja Kiri & Kerja Kanan Polisi. Dok: Pribadi (diolah oleh AI & dipoles Canva)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kerja Kiri & Kerja Kanan Polisi. Dok: Pribadi (diolah oleh AI & dipoles Canva)

Dulu, semenjak kuliah, saya sering lihat orang puju-puji kinerja polisi yang dalam sebulan misalkan bisa nangkap banyak pelaku kriminal dari beragam kasus, sampai teman saya berkata "kinerja mereka bagus, banyak pelaku kriminal yang ditangkap akhir-akhir ini!". Dengan arti yang sama, secara tidak langsung bunyinya bisa diterjemahkan seperti ini, "Semakin banyak yang ditangkap, maka semakin terbukti bahwa mereka sedang bekerja".

Sekilas, logika ini terdengar masuk akal, namun terdapat kesalahan berpikir yang fundamental dalam cara kita (masyarakat umum) menilai kinerja penegakan hukum. Narasi yang menyamakan kesibukan dengan efektivitas, dan kuantitas penangkapan dengan keberhasilan, justru mengaburkan hakikat dari fungsi kepolisian yang sesungguhnya. Persepsi konvensional ini perlu diluruskan dengan membedakan dua konsep kerja polisi, yakni "kerja kiri" dan "kerja kanan".

Mungkin analogi yang mendekati ketepatan terletak pada dunia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), di mana keberhasilan seorang ahli K3 bukan diukur dari sibuknya ia menangani korban kecelakaan, melainkan justru dari kemampuannya mempertahankan kondisi zero accident (nol kecelakaan) sepanjang proyek berlangsung. Dengan logika yang sama, tugas polisi sebenarnya juga adalalah berusaha menciptakan masyarakat yang tidak membutuhkan banyak penangkapan, bukan?

Dalam hal ini, saya membuat istilah konsep kerja kiri dan kanan hanya untuk memudahkan dalam penggambaran narasi. Konsep kerja kiri, yakni merujuk pada seluruh aktivitas yang bersifat reaktif dan kuratif. Ini adalah kerja yang terlihat spektakuler, seperti penggerebekan, penangkapan, penyelidikan kasus kriminal, dan proses peradilan yang berujung pada penjara.

Meskipun kerja-kerja ini penting dan memerlukan keahlian khusus, secara filosofis, ia tetap bernilai minus. Setiap penangkapan adalah cermin dari sebuah kegagalan sebelumnya, yaitu kegagalan mencegah kejahatan itu terjadi. Setiap narapidana yang masuk penjara adalah bukti bahwa masyarakat telah gagal dalam mendidik, ekonomi telah gagal memenuhi kebutuhan, dan sistem sosial telah gagal menciptakan rasa aman secara organik. Sibuknya polisi menangani kriminalitas bagaikan seorang dokter yang sibuk mengobati pasien penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi dan pola hidup sehat. Kerja ini hanya bersifat pembersihan atas kekacauan yang sudah terlanjur terjadi. Ia bersifat korektif, bukan preventif. Mengagungkan statistik penangkapan sebagai keberhasilan adalah seperti membanggakan banyaknya pasien yang dirawat di rumah sakit, alih-alih membanggakan masyarakat yang sehat dan produktif.

Sebaliknya, kerja kanan polisi adalah kerja yang bersifat proaktif, preventif, dan konstruktif. Ini adalah kerja yang sedikit sunyi, tidak sering muncul di berita, dan sulit diukur dengan statistik kasus. Inti dari kerja kanan adalah menciptakan kondisi di mana kejahatan tidak ada atau tidak mungkin terjadi, kendatipun itu mustahil dikondisi sekarang. Namun, paling tidak, target penangkapan selalu minim dan berimbang dengan kondisi lapangan yang kondusif. Kerja ini mencakup membina kemitraan dengan masyarakat (community policing), melakukan pembinaan terhadap generasi muda, mendorong terciptanya produktivitas, meningkatkan literasi hukum. Yang lebih penting, kerja kanan melibatkan membangun sistem yang integratif dengan institusi lain seperti pendidikan, sosial, dan ketenagakerjaan. Keberhasilan kerja kanan ini tidak diukur dari penuhnya sel penjara, tetapi justru dari sepinya lembaga pemasyarakatan. Sebuah negara dengan jumlah lapas yang sedikit dan penghuninya yang terus menyusut adalah negara di mana aparat penegak hukumnya telah melakukan kerja kanan dengan sangat baik. Mereka telah berhasil mempertahankan nol kejahatan atau setidaknya meminimalkannya hingga ke tingkat terendah.

Argumen bahwa kerja kiri lebih heroik dalam melaksanakan tugas adalah sebuah jebakan. Justru, kerja kanan-lah yang memerlukan kecerdasan, kesabaran, dan perencanaan strategis yang jauh lebih kompleks. Siapapun dapat bereaksi setelah sebuah perampokan terjadi; tetapi hanya polisi yang visioner yang dapat merancang sebuah lingkungan di mana perampokan itu tidak menguntungkan untuk dilakukan sejak awal. Mengalihkan fokus dari kerja kiri ke kerja kanan memerlukan perubahan paradigma dalam menilai kinerja kepolisian. Anggaran, penghargaan, dan promosi harusnya lebih banyak dialokasikan untuk unit-unit yang berhasil menekan angka kriminalitas di wilayahnya melalui pendekatan preventif, bukan hanya untuk satuan yang jago menembak dan menangkapi.

Oleh karena itu, adalah sebuah keniscayaan untuk mendesak redefinisi terhadap makna bekerja dalam institusi kepolisian. Polisi yang hebat bukanlah yang kantornya dipenuhi piala atas kasus-kasus yang terungkap, melainkan yang wilayah tugasnya aman, masyarakatnya sejahtera, dan lapasnya sepi. Mereka adalah ahli K3 bagi keamanan nasional. Ketika nol aksiden kejahatan dapat dipertahankan, barulah kita dapat menyatakan bahwa polisi telah melakukan kerja nyata—kerja kanan dan bukan sekadar membersihkan kekacauan dari kerja minus yang sering disebut sebagai kinerja. Masa depan penegakan hukum yang cerdas terletak pada kemampuannya untuk membuat dirinya tidak diperlukan secara reaktif, dan itulah puncak dari profesionalisme kepolisian.