Konten dari Pengguna

Mengapa Perempuan Desa Cenderung Lebih Menenangkan? Telaah Pemikiran Nietzsche

Nazam

Nazam

Penulis independen yang berfokus pada isu sosial - filosofis, pendiri Horizons of Existence

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kontras Suasana Desa dan Kepadatan Kota. Foto: Iurii Laimin/pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kontras Suasana Desa dan Kepadatan Kota. Foto: Iurii Laimin/pexels.com

"Aku suka tinggal di hutan, sebab di kota berkeliaran penyembah nafsu", ucap Friedrich W. Nietzsche dalam karyanya Thus Spake Zarathustra.

Dewasa ini, terdapat sesuatu yang mengganjal terhadap dinamika relasional kehidupan di perkotaan. Salah satunya adalah tergerusnya rasa ketenangan yang berganti menjadi kegelisahan tiada henti.

Nietzsche, dengan metaforanya menggambarkan kota sebagai tempat di mana manusia menjadi penyembah nafsu, sementara hutan menawarkan kesederhanaan yang lebih mendekati kemurnian hidup. Dalam konteks ini, perempuan desa ibarat penghuni hutan: mereka tidak terjebak dalam pusaran nafsu materialistik maupun hasrat yang mengobjektifikasi. Mereka hidup dengan cara yang lebih alami, lebih dekat dengan esensi kemanusiaan yang sebenarnya. Inilah mengapa perempuan desa terasa lebih menenangkan, karena mereka tidak terperangkap dalam permainan nafsu yang menggerogoti akal, sebagaimana yang sering terjadi pada kehidupan di kota.

Di perkotaan relasi antara laki-laki dan perempuan seringkali tereduksi menjadi transaksi. Laki-laki melihat perempuan sebagai objek pemuas hasrat seksual. Sementara perempuan dalam beberapa kasus, melihat laki-laki sebagai sumber materi belaka. Nietzsche menyindir hal ini ketika ia menyebut kota dipenuhi oleh "penyembah nafsu," karena di sana, manusia tidak lagi berinteraksi sebagai pribadi yang utuh, melainkan sebagai pemburu kepuasan instan dengan beragam manipulatifnya.

Sebaliknya, perempuan desa jarang terjebak dalam dinamika seperti ini. Mereka tidak hidup dalam budaya yang mengagungkan kecepatan, penampilan, atau kekayaan sebagai ukuran nilai seseorang. Mereka cenderung lebih mawas diri, tidak terlena oleh polesan standarisasi kecantikan. Mereka dihormati karena kerja keras, sikap yang ramah tanpa topeng-topeng manipulasi.

Nafsu di desa, jika boleh dikatakan adalah nafsu yang lebih jernih, seperti api unggun yang menghangatkan, bukan kobaran liar yang ganas melahap dunia. Perempuan desa tidak terobsesi dengan gemerlap duniawi, karena mereka hidup dalam ritme yang selaras dengan alam (kesadaran). Mereka tidak terburu-buru mengejar standar kecantikan yang tidak realistis atau status sosial artifisial. Ketika seorang perempuan desa tersenyum, senyum itu seringkali lahir dari kepuasan sederhana, bukan dari kalkulasi atau pretensi. Inilah yang membuat kehadiran mereka terasa lebih menenangkan, mereka tidak membawa beban ekspektasi palsu yang begitu berat di kota.

Sementara kehidupan di kota, segala sesuatu diperjualbelikan, termasuk tubuh dan perasaan. Media sosial memperparah hal ini dengan menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan harus dibeli, bahwa cinta harus diukur dengan pemberian materi (memang harus realistis, namun jika bentuknya transaksional dan melibatkan perasaan, ini bukanlah esensi dari ketulusan). Perempuan di kota, tanpa disadari, seringkali terjebak dalam pusaran ini, entah karena tekanan sosial atau karena mereka sendiri telah terasing dari nilai-nilai dasar kehidupan.

Sedangkan perempuan di desa, meski tidak sepenuhnya kebal dari pengaruh modernitas, masih memegang erat nilai-nilai kesederhanaan. Mereka tidak mudah terpikat oleh janji-janji kosong kapitalisme, karena kehidupan mereka dibangun atas prinsip-prinsip yang mendasar: nilai luhur yang diyakini, keluarga yang mereka rawat, lingkungan yang mereka jaga.

Laki-laki yang hidup di kota seringkali kehilangan kemampuan untuk melihat perempuan sebagai manusia seutuhnya. Mereka terbiasa dengan budaya yang mengobjektifikasi, sehingga ketika bertemu dengan perempuan desa yang tidak bermain dalam logika itu, mereka terkejut, seperti menemukan oasis (kesuburan) di tengah gurun.

Perempuan desa tidak memandang laki-laki sebagai mesin ATM, karena kebutuhan mereka tidak serumit perempuan di kota. Mereka tidak mengharuskan pasangannya membelikan tas bermerek atau makan di restoran mewah sebagai bukti cinta. Bagi mereka, cinta bisa diwujudkan dalam hal-hal kecil, seperti makan bersama di pinggiran jalan kalau hanya sekadar mengisi perut, dilanjut menjalankan kegiatan sosial bersama atau sekadar duduk di beranda sambil menikmati senja.

Nietzsche memilih hutan karena di sana, nafsu tidak menjadi tuan yang memperbudak akal. Begitu pula dengan perempuan desa—nafsu mereka, jika ada, adalah nafsu yang tidak merusak. Mereka mencintai dengan ketulusan, bukan dengan ketamakan. Mereka bekerja untuk menghidupi, bukan hidup untuk bekerja. Mereka tidak terobsesi dengan pencitraan, karena kehidupan mereka tidak diukur dari validasi.

Inilah mengapa kehadiran mereka terasa seperti angin sejuk di tengah hiruk-pikuk dunia, mereka mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidaklah rumit, bahwa cinta tidak harus transaksional seperti seorang lelaki yang merayu dengan fasilitas mewah demi seks, atau perempuan yang menukar keintiman demi uang dan gaya hidup konsumtif.

Tak bisa dipungkiri, kehidupan di kota menawarkan serba-serbi segala kemudahan, tetapi ia juga mengorbankan nilai-nilai moral yang berakibat hilangnya kedamaian batin apabila kita terjebak dalam ketidaksadaran. Perempuan desa, dengan kesederhanaannya, justru memegang kunci dari kedamaian itu. Mereka adalah representasi dari "hutan" yang dirindukan oleh Nietzsche, tempat di mana manusia bisa hidup tanpa menjadi budak nafsunya sendiri.

Di balik kesederhanaan perempuan desa, tersimpan makna filosofis tentang kebahagiaan yang banyak dicari orang. Mereka mengingatkan kita pada konsep Yunani kuno tentang eudaimonia - kebahagiaan yang muncul ketika seseorang hidup selaras dengan tujuan hidupnya yang paling mendalam. Perempuan desa mungkin tidak pernah membaca Aristoteles atau Nietzsche, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, mereka menjalankan prinsip-prinsip kebijaksanaan kuno ini dengan lebih baik daripada banyak intelektual di kota.

Tantangan terbesar zaman sekarang adalah menjaga kemurnian relasi manusiawi ini di tengah gempuran modernitas. Desa-desa hari ini perlahan tapi pasti akan terkena dampak globalisasi. Nilai-nilai kesederhanaan dan kejernihan hubungan mulai terkikis oleh materialisme yang merayap dari kota. Pertanyaan besarnya adalah: Sampai kapan oasis filosofis ini bisa bertahan? Bisakah kita menemukan cara untuk mempertahankan kemurnian relasi ala perempuan desa sambil tetap menikmati kemajuan zaman?

Mungkin jawabannya terletak pada kemampuan kita untuk mengambil pelajaran dari kedua sisi mata koin ini. Dari kota, kita beradaptasi terhadap segala kemajuan dan teknologinya. Dari desa, kita pertahankan kemurnian relasi manusianya. Seperti konsep Nietzsche tentang ubermensch (manusia yang unggul). Pada konteks ini yakni, manusia yang berlayar mengarungi samudera modernitas tanpa kehilangan kompas moral dan mengarah pada kehidupan yang otentik.

Pada akhirnya, di tengah hiruk-pikuk zaman yang sudah modern, ketenangan yang ditawarkan perempuan desa bukanlah tentang lokasi geografis dan yang berbeda kelamin semata. Ini adalah tentang cara memandang hidup dan bangun dari ilusi-ilusi yang telah kita konsumsi selama ini. kita semua - baik yang tinggal di kota maupun di desa, perlu mengevaluasi diri kembali dalam berelasi secara manusiawi untuk mencipta hubungan yang otentik dan harmonis. Belajar mencintai tanpa syarat, memberi tanpa pamrih. Sebab seperti yang diajarkan oleh perempuan desa (simbolis) melalui kesederhanaan hidup mereka: kebahagiaan sesungguhnya tak pernah datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam diri yang selaras terhadap semesta dan berdampak pada sesama kehidupan bersosial.