Sebenarnya Kita Beli Blind Box atau Beli Rasa Penasaran?

Saya adalah seorang mahasiswi jurusan manajemen di universitas pamulang.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Mia Rahma Sivana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Blind box memang punya cara unik untuk bikin orang penasaran. "Cuma satu kok." Kalimat itu kedengarannya sepele, sampai akhirnya satu blind box berubah jadi dua, tiga, bahkan satu seri penuh. Awalnya mungkin cuma iseng nonton orang buka kotak misterius di media sosial, terus muncul rasa penasaran, "kalau aku beli, kira-kira dapat yang mana ya?" Padahal sebelum kotaknya dibuka, kita bahkan nggak tahu pasti apa yang sebenarnya kita beli. Anehnya, justru ketidakpastian itu yang bikin blind box terasa menarik, apalagi buat Gen Z yang tiap hari dibanjiri konten unboxing, koleksi karakter, dan tren baru di media sosial.
Kita membayar sebuah produk tanpa tahu karakter atau figur apa yang bakal didapat. Ada sensasi menebak sebelum kotak dibuka, deg-degan saat momen pembukaan, lalu rasa senang kalau dapat karakter yang diinginkan, atau kecewa kalau ternyata dapat karakter yang sama lagi. Pengalaman semacam inilah yang bikin blind box terasa beda dari belanja produk biasa, karena yang dibeli bukan cuma figur di dalam kotak, tapi juga kejutan yang menyertainya.
Menariknya, media sosial bikin pengalaman itu nggak berhenti begitu kotak dibuka. Video unboxing, pamer koleksi karakter langka, sampai reaksi orang saat dapat figur incarannya, semua itu bisa menular ke orang lain yang ikut merasakan penasaran. Begitu lihat orang lain dapat karakter yang kita incar, muncul pikiran, "jangan-jangan kalau aku beli satu lagi, aku bisa dapat yang itu." Dari situ, rasa penasaran perlahan berubah jadi dorongan untuk beli lagi, apalagi kalau produknya sedang ramai dibicarakan dan muncul rasa takut ketinggalan tren.
Jadi sebenarnya kita membeli blind box, atau membeli rasa penasaran? Mungkin dua-duanya. Figur di dalam kotak memang jadi produknya, tapi rasa penasaran, kejutan, dan pengalaman saat membukanya adalah bagian yang bikin orang mau mencoba lagi. Inilah yang bikin fenomena blind box menarik untuk diamati, terutama di kalangan Gen Z, soal bagaimana sesuatu yang awalnya cuma kotak tertutup bisa berubah jadi pengalaman yang terus ingin diulang.
