Sekilas Kisah Pengeboran Sumur Artesis di Tambang Mangaan Kliripan, 1922-1924
Tulisan dari Michael Sacra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerita ini bermula ketika saya membaca arsip di Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Kota Bandung ketiga sedang melakukan magang. Salah satu arsip menceritakan percakapan telegram mengenai kegiatan pengeboran di wilayah Kliripan untuk keperluan tambang Mangaan dan berada di bawah tanggung jawab seseorang yang bernama E. G. Andreas. Beliau adalah seorang booropziener atau pengawas pengeboran dan memiliki rekan kerjanya yang berada di bawah tingkatannya yakni bernama J.J Lamers. Beliau adalah seorang ahli pengebor atau dapat disebut bormaster. Singkat cerita mereka berdua bekerja dibawah kepemerintahan Algemeene Industriële Mijnbouw Exploitatief Maatschappij (AIME) atau perusahaan pertambangan swasta Belanda yang beroperasi pada masa kolonial Hindia Belanda.
Sebagai seorang pengawas pengeboran, Andreas menjalankan pekerjaan lapangan yang mencakup pelaksanaan pengeboran tanah, pengamatan kondisi geologi setempat, serta pengelolaan kebutuhan teknis dan logistik, termasuk bahan bakar, peralatan bor, dan pelaporan berkala kepada kantor pusat di Weltevreden. Merujuk surat dari De Leider v.d Dienst v/h Grondpeilwezen dijelaskan bahwa pengeboran sumur artesis pertama kali dilakukan pada bulan September 1922. Sebenarnya untuk pengeborannya harusnya sudah dilakukan semenjak bulan Agustus 1922 namun saat itu J. J Lammers yang ditugaskan untuk sampai di Kedoengdang, Kulon Progo harusnya di tanggal 15 Agustus 1922 namun ia datangnya di bulan September yang tidak diketahui alasannya yang jelas. Andreas dan Lammers memiliki tempat tinggal sendiri di wilayah Kliripan. Selain itu untuk urusan gaji, mereka akan mendapatkan porsi sesuai dengan tingkat kesulitannya dan nantinya gaji tersebut berasal dari De Leider v.d Dienst v/h Grondpeilwezen.
Secara teknis, pengeboran sumur artesis di kawasan Tambang Mangaan Kliripan pada awalnya menggunakan bor tangan lalu pengeboran tumbuk dengan menggunakan balok tumbuk dan pahat tumbuk merek Fauck dari Jerman dengan kedalaman pemboran maksimum di 60 meter. Pada 27 Oktober 1922 ketika awal pengeboran terdapat adanya miskomunikasi yang menyebabkan pengerjaan pengeboran ditunda. Seperti contoh mesin Gardner yang telah dikirimkan kepada ahli pengebor dimana berada dalam kondisi yang sangat buruk sehingga awal pelaksanaan pengeboran terpaksa tertunda setidaknya selama empat belas hari. Selain itu, peralatan yang dikirim oleh Keasberry juga dilaporkan berada dalam keadaan yang kurang baik.
Pada dasarnya pengeboran yang dilakukan memang harus dengan kondisi kering di wilayah Kliripan agar diperoleh contoh batuan yang baik. Sebagaimana kedalaman pengeboran diperkirakan tidak akan melebihi 100 meter dan bahkan besar kemungkinan akan berakhir pada kedalaman sekitar 30 hingga 50 meter di kawasan tambang Mangaan Kliripan. Selain itu untuk keperluan pengeboran sendiri dijelaskan bahwa kantor pusat di Weltevreden juga mengirimkan beberapa peralatan teknis seperti pompa kerikil berdiameter 216 milimeter dan satu pompa serupa berdiameter 180 milimeter, serta satu sendok bor dengan pemukul cakram berdiameter 218 milimeter dan satu lagi berdiameter 180 milimeter. Namun untuk penggunaan peralatan berdiameter 216 milimeter sebenarnya tidak diperlukan dan kantor dari pusat langsung memerintahkan bormasteer untuk memulai pengeboran dengan diameter 180 milimeter.
Selain itu terdapat narasi dari beberapa telegram dan surat yang memusatkan perhatian khusus perlu diberikan pada pengambilan contoh bor. Seperti contoh jika dalam proses pengambilan contoh bor tidak dilakukan dengan cermat terdapat risiko bahwa lapisan bijih mangaan dapat terlewati atau kedalaman kemunculannya tidak dapat ditentukan dengan tepat di daerah Kliripan. Untuk itu, kepala pusat di Weltevreden mengharapkan agar contoh-contoh bor rangkap dikirimkan seperti satu set di antaranya harus diserahkan kepada J.J Lammers. Apabila di kemudian hari masih diperlukan tambahan pompa kerikil atau sendok bor berdiameter 150 milimeter, kepala pusat di Weltevreden meminta agar segera diberi pesan secepatnya.
Hal yang menjadi menarik ketika berbicara mengenai struktur pegawai pengeboran di sini ialah terdapat surat yang mengatakan bahwa 1 Februari 1924 Andreas pengawas pengeboran berangkat ke Magelang untuk kewajiban dinas militer dimana ia merupakan bagian dari Batalion Infanteri 7 Magelang di bagian suratnya. Maka dari itu kepala pusat di Weltevreden meminta agar muridnya yang bernama H. A Grenee menggantikan posisinya dimana ia nantinya akan mendapatkan tempat tinggal di Kliripan. Namun seminggu setelah diberikan surat, Andreas merasa tidak perlu dan tetap melanjutkan pengeborannya

