Kendaraan Listrik sebagai Perkembangan Teknologi Menuju Net-Zero Emission

Mahasiswa Teknik Industri Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Michelle Oskeviola Sibarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini, dunia sudah memasuki revolusi industri 4.0 yang mana teknologi sudah berkembang pesat. Manusia memperoleh banyak manfaat dari perkembangan teknologi. Contoh dari perkembangan teknologi yang telah mengubah kehidupan manusia adalah telepon genggam untuk menghubungi kerabat yang jauh, bahkan telepon genggam saat ini sudah berbentuk telepon pintar atau smartphone yang memiliki aplikasi, seperti Whatsapp, Instagram, Facebook, dan lainnya, untuk menghubungi kerabat jauh melalui pengiriman pesan yang instan atau cepat. Internet of Things (IoT) merupakan suatu benda atau perangkat yang memiliki kemampuan untuk terhubung dengan internet, mengumpulkan data, dan bertindak sesuai dengan data tersebut, seperti sensor, pintu otomatis, dan lainnya. Big data dan artificial intelligence (AI) juga dapat membantu sebuah perusahaan dalam mengambil keputusan yang lebih tepat dan efektif. Oleh karena itu, big data, IoT, dan artificial intelligence (AI) juga merupakan beberapa contoh dari perkembangan teknologi. Dari beberapa contoh di atas, terbukti bahwa perkembangan teknologi dapat mengubah kehidupan manusia menjadi lebih efisien dan modern. Ada salah satu perkembangan teknologi yang saat ini sedang digencarkan oleh dunia, yaitu kendaraan listrik.
Bumi sedang mengalami perubahan iklim akibat efek gas rumah kaca, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, kerusakan fungsi hutan, gas buang industri, dan beberapa hal lainnya. Salah satu solusi yang saat ini sedang digencarkan pemerintah baik di dunia maupun di Indonesia sendiri adalah dengan sosialisasi ke masyarakat luas terkait dengan penggunaan kendaraan listrik. Alasan yang mendasari kendaraan listrik menjadi solusi yang paling utama karena penggunaannya tidak menghasilkan emisi gas buang saat digunakan sehingga dianggap ramah lingkungan. Kendaraan listrik juga menggunakan baterai untuk menyimpan energi dan menggerakkan mesin sehingga tidak memerlukan bahan bakar fosil, seperti bensin atau diesel, yang biasanya digunakan pada mobil konvensional.
Saat ini, penggunaan kendaraan listrik di dunia sudah cukup tinggi. Bukti semakin berkembangnya kendaraan listrik di dunia, yaitu pada tahun 2016 – 2020, kendaraan listrik semakin berkembang dan banyak diproduksi sehingga dapat menguasai dunia otomotif. Indonesia ternyata memiliki potensi untuk menjadi salah satu produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia. Hal ini disebabkan cadangan nikel di Indonesia mencapai 21 juta ton yang setara dengan 30 persen produksi nikel di dunia. Material penting untuk baterai lainnya juga dimiliki Indonesia, seperti aluminium, tembaga, mangan, dan kobalt. Dengan memproduksi baterai kendaraan listrik sendiri, Indonesia dapat memproduksi Battery Electric Vehicle (BEV) dan Electric Vehicle (EV) dengan harga yang lebih terjangkau dan kompetitif. Hal ini juga mendukung tujuan Indonesia untuk melakukan transisi dari kendaraan konvensional yang berbahan bakar fosil menjadi yang lebih ramah lingkungan.
Beberapa universitas di Indonesia sudah berkontribusi dalam pengembangan energi listrik yang ramah lingkungan yang menjadi salah satu aspek dalam perkembangan kendaraan listrik. Institut Teknologi Bandung membuat platform kendaraan listrik, Universitas Indonesia membuat bus elektrik, Universitas Gadjah Mada membuat Recycle Li-Ion Battery, Universitas Sebelas Maret membuat Battery Cell dan Battery Pack, Institut Teknologi Sepuluh Nopember membuat platform dan main komponen kendaraan listrik, dan Universitas Airlangga berkontribusi dalam perkembangan kendaraan listrik, yaitu Charging Station, Management Operation untuk kendaraan listrik, dan Photovoltaics. Oleh karena itu, beberapa universitas di Indonesia sudah memiliki spesialisasi masing-masing untuk berkontribusi terhadap perkembangan kendaraan listrik di Indonesia.
Keuntungan dari penggunaan kendaraan listrik adalah mengurangi emisi gas yang menimbulkan polusi di udara dan menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan sehingga meningkatkan kualitas udara di kota-kota yang padat penduduk. Kendaraan listrik juga memiliki performa yang baik karena terdiri dari mesin-mesin yang sudah advanced sehingga mampu berkendara dengan cepat dan lebih halus. Selain itu, kendaraan listrik tidak berisik sehingga disebut juga silent vehicle yang tentunya membuat keadaan jalanan menjadi lebih tenang. Biaya penggunaan kendaraan listrik jauh lebih murah daripada kendaraan konvensional. Meskipun harga pembelian kendaraan listrik masih lebih tinggi daripada kendaraan konvensional, tetapi biaya pengisian baterai dan biaya pemeliharaannya jauh lebih rendah. Bahkan tahun ini, pemerintah Indonesia meluncurkan sebuah program, yaitu Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik di masyarakat dengan memberikan subsidi, tax holiday hingga 20 tahun, PPN dibebaskan atas impor dan perolehan barang untuk keperluan kendaraan listrik, dan PLN berencana memberikan diskon tarif listrik bagi para pemilik kendaraan listrik.
Namun, di samping keuntungan-keuntungan dari penggunaan kendaraan listrik, ada beberapa hal yang menjadi kekhawatiran masyarakat Indonesia. Jika terjadi banjir, bagaimana nasib dari kendaraan listrik tersebut? Kendaraan listrik sudah menggunakan mesin yang sangat advanced sehingga bisa kedap air dan yang perlu dilakukan hanya harus didesain dengan benar dan layak. Bagaimana dengan fakta bahwa kendaraan listrik perlu diisi dayanya dengan baterai atau di-charge dan membutuhkan waktu yang lama? Padahal, kendaraan konvensional saja perlu mengantre cukup lama di SPBU untuk mengisi bensin. Ternyata, sekarang ini sudah ada teknologi fast charging, bahkan ultra-fast charging sehingga daya dari kendaraan listrik bisa diisi ulang dengan waktu yang lebih singkat.
