Konten dari Pengguna

Sekadar Mengecek Ponsel, Kok Bisa Berujung Berjam-jam?

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Micsya Andaria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang terdistraksi oleh ponsel saat sedang belajar atau mengerjakan tugas. (Sumber: Ilustrasi AI dari Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang terdistraksi oleh ponsel saat sedang belajar atau mengerjakan tugas. (Sumber: Ilustrasi AI dari Dokumentasi Pribadi)

Membuka ponsel biasanya terdengar seperti kegiatan sederhana yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit—sekadar membalas pesan, melihat notifikasi masuk, atau mengecek jam. Namun, kenyataannya kerap tidak selaras dengan niat awal. Setelah membalas satu pesan, kita sering tergiur membuka aplikasi media sosial, menyaksikan satu video pendek, lalu tanpa sadar terus menggerakan jari dan scrolling ke konten berikutnya. Niat awal yang hanya beberapa detik pun berujung pada durasi berjam-jam yang terbuang.

Limpahan Dopamin dan Algoritma Media Sosial

Ponsel pintar dirancang sedemikian rupa untuk menyita perhatian penggunanya. Media sosial memicu rasa penasaran alami manusia melalui sistem endless scroll dan alur konten yang tak terbatas. Setiap kali kita menemukan unggahan yang menarik atau lucu, otak merilis dopamin—hormon yang menghadirkan sensasi senang dan penasaran. Dorongan inilah yang membuat kita terus merasa penasaran terhadap konten apa lagi yang akan muncul selanjutnya.

Kebiasaan ini paling sering muncul saat kita merasa bosan atau lelah. Alih-alih beristirahat sejenak, refleks pertama kita adalah meraih ponsel. Tanpa disadari, mindless scrolling ini menjadi mekanisme pelarian instan yang justru sering berakhir dengan rasa penyesalan, terutama ketika melihat jam sudah berganti atau tugas penting terabaikan begitu saja.

Mengambil Kendali atas Waktu Kita

Tentu saja, memegang ponsel bukan berarti suatu kesalahan besar. Ponsel tetap menjadi alat yang sangat krusial untuk komunikasi, pekerjaan, hingga pencarian informasi. Kunci utamanya terletak pada bagaimana kita memegang kendali atas penggunaannya, bukan malah dikendalikan oleh ponsel tersebut.

Untuk memutus rantai kebiasaan ini, kita dapat memulainya dari langkah-langkah kecil:

1. Membatasi durasi penggunaan aplikasi (screen time limit).

2. Mematikan notifikasi aplikasi yang tidak krusial.

3. Menjauhkan ponsel dari jangkauan fisik saat sedang fokus belajar atau bekerja.

Sebelum mengusap layar ponsel kembali, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya benar-benar perlu mengecek sesuatu yang penting, atau hanya sedang mencari pelarian dari rasa bosan?"