Konten dari Pengguna

Meugang: Tradisi Masyarakat Aceh yang Tak Lekang oleh Waktu

Midrar Yusya

Midrar Yusya

Mahasiswa Ilmu Jurnalistik Unpad yang sedang latihan nulis. impiannya sih jadi columnist buat Majalah The New Yorker dan The Economist #mimpiajadulu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Midrar Yusya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana pebeli daging meugang di pasar Uleekareng, Banda Aceh, Aceh. (Dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pebeli daging meugang di pasar Uleekareng, Banda Aceh, Aceh. (Dokumen pribadi)

Ramadhan sudah sampai pada hari-hari terakhir, hari kemenangan bagi umat Muslim sudah hampir tiba. Idul Fitri sudah di ambang mata, tinggal menunggu satu malam lagi saja untuk sampai ke sana. Di hari-hari terakhir ramadhan, masyarakat Aceh punya sebuah tradisi yang selalu dilakukan dari zaman Kesultanan Iskandar Muda pada abad ke-17 sampai saat ini. Tradisi tersebut adalah tradisi meugang, tradisi membagi-bagikan daging hewan ternak (kambing/sapi/kerbau) kepada masyarakat untuk dinikmati di hari lebaran.

Pada mulanya, tradisi meugang dilakukan oleh Kesultanan Iskandar Muda sebagai upaya untuk mensejahterakan masyarakat di Hari Raya Idul Fitri. Kesultanan akan membagikan daging hewan ternak kepada masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu agar dapat merasakan kenikmatan yang dicapai saat hari raya.

Sekarang, tradisi meugang tetap terus dilakukan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Jika dahulu terdapat lembaga negara yang membagikan daging kepada masyarakat, sekarang daging sapi juga dijual oleh penjual daging kepada masyarakat. Masyarakat akan membeli daging tersebut dari para penjual daging. Terlepas dari nuansa baru yang hadir dalam tradisi meugang, semangat yang dibawa pada tradisi meugang masih sama; tradisi berbagi daging hewan ternak untuk dibawa pulang dan disantap bersama keluarga.

Pada tradisi meugang, pemilik ternak atau penjual daging ternak akan berbondong-bondong menjual daging ternak mereka di pasar tradisional atau pasar dadakan di jalan-jalan kota. Salah satu lokasi penjualan daging ternak untuk meugang terdapat di Uleekareng, Kota Banda Aceh, Aceh. Para penjual daging memenuhi trotoar jalan umum dengan gerai dadakan yang mereka bawa. Para penjual daging ternak sudah siap setiap tahun datang ke Uleekareng untuk menjual daging ternak terbaik mereka di hari meugang.

Hamdani, salah satu penjual daging di hari meugang mengatakan bahwa ia sudah berada di lokasi berjualan sejak pukul 06.00 pagi. Ia mengatakan harus cepat datang ke lokasi untuk mempersiapkan daging yang akan ia jual.

"Jadeh loen ka troeh keuno dari poh 6 beungoh. Sebab tanyoe ta koh leumo dari poh 4, dari poh 4 ta koh dan ta proses mandum sie-sie yang keu meukat. Aleuh bereh nyan kamoe pajoh bu saho, seumayang suboh, kaleuh nyan ban betepat jak keuno." (Jadi saya sudah sampai ke sini dari jam 6 pagi. Karena kami memotong sapi mulai jam empat, di jam empat itu di potong dan di proses daging yang mau dijual. Setelah selesai, kami makan sahur, salat subuh, baru kemudian ke sini).

Hamdani dengan daging sapi yang ia jual di hari meugang. (Dokumen pribadi)

Hamdani menjual daging miliknya di lapak yang ia bawa dari rumah menggunakan becak. Lapak tersebut terbuat dari kayu dan berbentuk seperti balai kecil, terdapat empat kaki penyangga lapak dan atap untuk menghalangi sinar matahari yang terik menembus kulit. Daging-daging sapi yang telah ia siapkan dari rumah juga dibawa menggunakan becak ke lokasi jualan.

Daging sapi Hamdani belum dipotong menjadi bagian-bagian kecil seperti di supermarket, tetapi masih berupa bagian utuh tubuh sapi yang dipotong hanya untuk memisahkan bagian tubuh rusuk dan paha sapi. Kemudian paha-paha sapi digantungkan di tiang kayu lapak, sedangkan rusuk dan isi perut sapi diletakkan di bawah.

Ketika saya datang dan berbincang dengan Hamdani, daging yang tersisa di gerai miliknya hanya tinggal dua paha sapi, kepala sapi, dan sisa isi perut sapi. Dua paha sapi pun salah satunya sudah tidak tersisa dagingnya, hanya tinggal tulang saja, sedangkan satunya lagi sudah di beli oleh orang satu paha seluruhnya. "ka na ureng po nyoe" (ini sudah ada yang punya). Daging sapi yang ia jual habis hanya dalam hitungan jam saja.

Bagi Hamdani, tradisi meugang merupakan tradisi yang ia nantikan sebab ia dapat menjual daging ternak miliknya dan disaat bersamaan, melestarikan keberlangsungan tradisi meugang sebagai tradisi khas Aceh di bulan ramadhan.