Penjualan Risol Sempat Drop, Ibu Maryati Bangkit Lewat Menu Baru

Saya Miftahul Jannah adalah seorang mahasiswa Universitas Pamulang fakultas Ekonomi dan Bisnis, program studi manajemen
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Miftahul jannah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Ramadan kerap menjadi masa keemasan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner. Hal ini dirasakan langsung oleh Ibu Maryati, pemilik usaha kuliner lokal yang mengandalkan tiga menu andalannya: risol mayo, risol cokelat, dan risol matcha yang sedang tren.
Selama Ramadan, pesanan datang bertubi-tubi. Lonjakan permintaan takjil membuat dapur usahanya berproduksi tanpa henti dari pagi hingga menjelang magrib. "Pas bulan puasa itu saya sampai kewalahan. Pesanan risol mayo, coklat dan matcha buat berbuka nggak berhenti masuk," kenang Ibu Maryati saat menceritakan masa-masa bahagianya.
Namun, kejayaan itu tak bertahan lama. Masuk bulan-bulan setelah Lebaran, situasi berbalik drastis. Penjualan Ibu Maryati mengalami penurunan yang lumayan signifikan akibat pola konsumsi masyarakat yang kembali normal.
"Setelah lebaran, rasanya sepi banget. Kalau cuma ngandelin risol sama matcha, omzet turun jauh dan nggak menutup modal harian," ujar Ibu Maryati.
Menghadapi tantangan tersebut, Ibu Maryati tidak tinggal diam atau sekadar meratapi keadaan. Ia menyadari bahwa usaha kecil butuh napas baru agar tetap dilirik pelanggan. Dari pengamatannya terhadap kebiasaan jajan warga sekitar, ia memberanikan diri bereksperimen dengan menambah variasi menu baru yang ramah di kantong dan disukai semua usia: cireng isi dan sosis bakar.
Langkah diverifikasi produk ini terbukti jitu. Kehadiran cireng isi bertekstur kenyal dengan isian gurih serta sosis bakar berbumbu melimpah berhasil menarik perhatian pembeli lama maupun pelanggan baru. jajanan pasar ini menjadi daya tarik harian yang tidak bergantung pada momentum musim tertentu.
Kini, meja jualannya kembali ramai disinggahi pembeli setiap sore. Penjualan yang sempat lesu pun kembali merangkak naik secara stabil.
Di tengah ketatnya persaingan usaha kuliner harian, langkah sederhana Ibu Maryati memberikan pelajaran berharga. Fluktuasi pasar pasca-musim ramai adalah hal yang tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha. Kegigihan Ibu Maryati membuktikan bahwa kelincahan membaca selera pasar serta keberanian berinovasi adalah kunci utama bagi UMKM untuk terus bertahan dan berkembang.
