Multitasking ala Gen Z: Produktif atau Sekadar Sibuk?

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Miftahul Jannah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jika generasi sebelumnya terbiasa fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu, Gen Z justru tumbuh di era notifikasi tanpa henti. Tidak jarang seseorang membuka laptop untuk mengerjakan tugas, sambil mendengarkan musik, membalas pesan teman, dan sesekali mengecek media sosial.
Fenomena ini membuat multitasking menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut terasa normal. Bahkan, ada yang mengaku sulit berkonsentrasi jika suasana terlalu sepi tanpa musik atau notifikasi yang masuk
Multitasking atau Pindah Fokus dengan Cepat?
Banyak orang menganggap Gen Z memiliki kemampuan multitasking yang luar biasa. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa otak manusia sebenarnya tidak benar-benar melakukan banyak pekerjaan berat secara bersamaan. Yang terjadi adalah perpindahan fokus secara cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.
Misalnya, saat mengerjakan laporan lalu tiba-tiba membalas pesan, otak perlu beradaptasi kembali ketika kembali ke tugas utama. Proses ini mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi jika terjadi terus-menerus dapat memengaruhi produktivitas.
Meski begitu, Gen Z cenderung lebih cepat beradaptasi dengan perubahan informasi dibanding generasi sebelumnya karena sejak kecil sudah terbiasa hidup berdampingan dengan teknologi digital.
Notifikasi: Teman Sekaligus Pengganggu
Bunyi notifikasi sering kali menjadi "karakter utama" dalam kehidupan Gen Z. Saat sedang fokus mengerjakan sesuatu, satu notifikasi masuk bisa memicu aktivitas lain yang tidak direncanakan.
Awalnya hanya ingin membalas satu pesan, tetapi berakhir menonton video lucu, membaca komentar, hingga lupa alasan membuka aplikasi tersebut. Lima menit berubah menjadi tiga puluh menit tanpa terasa.
Situasi seperti ini sering menjadi bahan candaan di media sosial karena banyak orang mengalaminya. Bahkan, ada yang membuka kulkas lalu lupa ingin mengambil apa. Walaupun terdengar lucu, fenomena ini menunjukkan bagaimana perhatian manusia mudah teralihkan di era digital.
Di balik berbagai tantangan, kebiasaan multitasking juga memiliki sisi positif. Gen Z dikenal cepat mencari informasi, mampu beradaptasi dengan platform baru, serta lebih fleksibel dalam menjalankan berbagai aktivitas secara bersamaan.
Kemampuan ini menjadi nilai tambah di dunia pendidikan maupun pekerjaan yang semakin mengandalkan teknologi. Banyak anak muda dapat mengikuti rapat daring, mengelola media sosial, sekaligus menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang relatif singkat.
Kuncinya adalah memahami kapan harus multitasking dan kapan harus memberikan fokus penuh pada satu tugas tertentu.
Belajar Fokus di Tengah Dunia yang Ramai
Di era digital, kemampuan fokus menjadi keterampilan yang semakin berharga. Tidak semua notifikasi harus dibuka saat itu juga, dan tidak semua informasi perlu dikonsumsi secara bersamaan.
Gen Z memiliki peluang besar untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dengan menciptakan keseimbangan antara produktivitas dan hiburan. Sesekali menutup media sosial saat mengerjakan tugas mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar.
Karena pada akhirnya, tantangan terbesar Gen Z bukanlah kurangnya informasi, melainkan memilih informasi mana yang benar-benar layak mendapat perhatian.
