Konten dari Pengguna

Mengenal Bank Plecit dan Dampaknya Pada Masyarakat

Afriza Miftahul Falaq

Afriza Miftahul Falaq

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afriza Miftahul Falaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber : dokumentasi pribadi

Peminjaman uang atau hutang sampai kini masih menjadi salah satu sistem yang umum dikenal oleh masyarakat, termasuk melalui praktik bank plecit. Meskipun demikian, tidak sedikit orang yang mungkin masih penasaran mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan bank plecit.

Secara umum, bank plecit merujuk pada sistem peminjaman uang yang masih banyak digunakan oleh sebagian masyarakat, khususnya di wilayah tertentu. Lalu, apa itu sebenarnya bank plecit dan apa saja dampak yang ditimbulkannya?

Apa itu Bank Plecit?

Sebelum memahami bagaimana sistem kerjanya, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan bank plecit. Berdasarkan kutipan pada buku Bijak Memberdayakan Uang Plastik karya Heru Susanto dan Nataniel, bank plecit merupakan lembaga keuangan nonresmi atau ilegal yang bukan bagian dari sistem perbankan formal. Meskipun tidak diakui secara legal, keberadaan bank plecit cukup dikenal luas, terutama di kalangan masyarakat pedesaan dan daerah pinggiran kota. Bank plecit umumnya menawarkan pinjaman uang kepada masyarakat yang membutuhkan, dengan adanya kesepakatan tertentu antara pihak pemberi dan penerima pinjaman. Disebut bank plecit karena sistem pinjamannya mirip dengan bank pada umumnya, hanya saja proses pencairannya lebih cepat dan bunga yang dikenakan jauh lebih tinggi karena statusnya sebagai lembaga ilegal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bank plecit diartikan sebagai lembaga bukan bank atau perseorangan yang meminjamkan uang, biasanya dengan bunga tinggi dan penagihannya dilakukan setiap hari. Proses penagihannya biasanya dilakukan setiap hari, sesuai dengan jumlah cicilan yang telah disepakati bersama sebelumnya. Bank plecit ini biasanya bergerak langsung dengan target masyarakat di pasar tradisional, pedesaan ataupun orang yang sedang membutuhkan dana sangat mendesak. Karena besarnya bunga yang diberikan, tidak sedikit yang menunggak dan pada akhirnya akan dipaksa untuk meminjam uang lagi. Kita bisa mengenal bank plecit dengan sifatnya yang personal dan selalu bergerak. Ciri khas bank plecit adalah bunganya sangat tinggi tetapi syaratnya sangat mudah, malah seperti tanpa syarat, hanya modal KTP saja, atau catatan jika sudah kenal sebelumnya. Misal kita pinjam Rp 500.000, tapi mengembalikannya bisa mencapai Rp 650.000, dalam jangka waktu 3 bulan.

Cara Kerja Bank Plecit

Dalam bank plecit terdapat seorang rentenir yang merupakan pihak penyedia utang yang menerapkan bunga di setiap pinjaman dana yang diberikannya. Besarnya bunga yang dibebankan kepada peminjam terkadang melebihi batas kewajaran. Meski demikian, tidak sedikit orang yang terjebak dalam lilitan rentenir karena tergiur pinjaman dana yang cepat dan mudah. Bunga yang ditetapkan juga berbeda, tergantung kebijakan rentenir. Berbeda dengan bank yang mengikuti suku bunga Bank Indonesia, bunga ini harus dibayar bersama dengan cicilan per hari atau per bulannya. Jika peminjam gagal membayar cicilan dan bunganya, bunga akan tetap dihitung mengikuti lamanya penundaan pembayaran. Misal si peminjam gagal membayar pinjaman sebanyak 2 bulan, maka pada bulan ketiga dia harus membayar bunga sebanyak 3 kali. Semakin lama penundaan pembayaran, maka semakin besar bunga yang harus ditanggung oleh peminjam.

Saat peminjam gagal membayar cicilan dan bunga yang mencekik, rentenir biasanya akan mengajak rentenir lainnya untuk menawarkan dana segar kembali, agar bisa membayar utang pada rentenir pertama. Jika tawaran ini diambil, maka peminjam akan semakin sulit lepas dari jeratan rentenir. Apabila nasabah atau peminjam telah berkali-kali gagal membayar cicilan beserta bunga pinjaman, maka rentenir tidak akan segan menggunakan jasa debt collector yang akan berusaha membuat si peminjam membayar hutangnya dengan cara apa pun, bahkan mereka tak segan mengancam, menggunakan kata-kata kasar, dan mengintimidasi setiap peminjam yang melakukan kredit macet.

Dampak Terhadap Kesejahteraan Sosial

Akibat dari hutang bank plecit tentunya sangat merugikan tentunya bagi si peminjam. Dampak yang bermula dari hutang bank plecit dimulai dari ekonomi, seperti kehilangan aset hingga terjebak dalam kemiskinan yang diakibatkan dari bunga yang sangat besar tadi. Kemudian dampak berikutnya yaitu gangguan secara psikologis akibat rasa takut dan stress ketika ditagih hutangnya. Selain itu dampak secara sosialnya yaitu si pelaku hutang plecit dikucilkan oleh warga karena sering hutang kesana kemari dengan janji manisnya kepada tetangga disekitarnya untuk menutup hutangnya dan bahkan keluarganya pun tak luput dari target si penghutang, tak jarang juga dapat menyebabkan rusaknya hubungan dengan keluarga dan masyarakat, bahkan tidak sedikit juga orang yang terjerat hutang bank plecit kabur dan migrasi. Bahkan kasus dari hutang bank plecit ini dapat berdampak konflik pada sosial dan juga kriminalitas yang dapat mengganggu keamanan masyarakat.

Afriza Miftahul Falaq, mahasiswa Hukum Keluarga Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto