Derita Lajang Hadapi Pertanyaan 'Kapan Nikah' Saat Lebaran

Miftakhul Rozaq
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Konten dari Pengguna
3 April 2024 14:36 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Miftakhul Rozaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Momen lebaran bersama keluarga. Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Momen lebaran bersama keluarga. Foto: Dokumentasi Pribadi
ADVERTISEMENT
Acara kumpul keluarga saat lebaran menjadi kebahagian tersendiri bagi setiap orang, namun tidak dengan seorang lajang. Di momen tersebut banyak kerabat bertanya kepada kita: 'kapan nikah?'. Pertanyaan tersebut terasa menusuk sampai ke batin bagi seorang yang belum punya pasangan.
ADVERTISEMENT
Walau memang sulit menghindar dari pertanyaan tersebut, saya hanya menjawab “nanti dulu tante, masih ingin sendiri, belum cukup uang”. Itulah jawaban saya dengan menahan rasa sakit hati ini karena masih belum punya pacar atau jodoh sampai detik ini. Mungkin kerabat kita mempertanyakan hal tersebut karena melihat saya sudah besar dan sudah waktunya untuk menikah.
Tidak salah, bagi mereka yang mempertanyakan kapan nikah saat lebaran. Mungkin hal tersebut ada baiknya dari kita, bahwa kerabat keluarga tahu informasi mengenai kita bahwa belum siap untuk menikah karena banyak faktor entah dari kesiapan diri kita atau faktor lainnya. Sialnya mereka yang bertanya kapan nikah juga membandingkan dengan anaknya yang sudah berumur sekian, sudah ada yang punya pacar bahkan sudah menikah.
ADVERTISEMENT
Hasil yang mereka bandingkan kepada saya dengan kerabat sudah ada pacar, berbanding terbalik, kerabat yang memiliki pacar adalah mereka berumur masih anak-anak yang duduk dibangku sekolah, seperti diketahui cinta mereka masih cinta monyet hanya sementara saja.
Namun, dipikir-pikir saya kalah dengan anak sekolah, sedangkan saya sudah ingin lulus kuliah. Sampai saat ini masih belum punya pacar. Lalu apakah ada yang salah dengan diri saya dengan tidak mempunyai pacar?
Tentunya tidak. Bahkan kata mama jangan pacaran dulu, kamu itu masih belum cari uang sendiri. Landasan kata itulah yang sampai saat ini saya pegang untuk tidak mempunyai pacar, walau pikiran merenung di setiap malam memikirkan pasangan hidup yang tidak kunjung datang kepada saya.
ADVERTISEMENT
Harap dimaklumin saja lebaran mejadi momen bahagia berkumpulnya para kerabat kita jadi tidak usah heran lagi tiba-tiba ada pertanyaan kapan nikah, mungkin sesi inilah yang hanya bisa menyatukan kebersamaan dan kebahagian mereka. Mereka berkumpul bahagia, kita yang tidak punya pacar hanya bisa tertawa menghadapi pertanyaan kapan nikah, walaupun menusuk hati serta sedih rasanya belum mendapatkan pacar atau jodoh.
Seharusnya bahagia dengan para kerabat, batin saya sangat tersiksa menjadi seorang lajang di saat mereka bercerita tentang pasangannya, saya hanya duduk di pojokan dengan menikmati opor ayam sembari mendengarkan cerita kebahagian mereka bersama pasangan.
Saya jadi ingat, sebagian banyak orang tanpa terkecuali saya, berpegang pada keyakinan agama mengenai konsep jodoh ditangan Tuhan merupakan bagian integral dari kepercayaan. Saya percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang terbaik untuk setiap individu, termasuk dalam hal mempertemukan pasangan hidup yang sesuai. Tidak juga saya merasa pasrah dan kurang proaktif dalam mencari jodoh. Saya mungkin cenderung menunggu "tanda" atau "petunjuk" dari Tuhan.
ADVERTISEMENT
Sejujurnya, saya tidak tahan dengan keadaan belum punya pasangan. Hati ini iri melihat teman, kerabat dan sanak saudara sudah mempunyai pacar, sepertinya menyenangkan kalau sudah punya bisa berduaan dan berbagi cerita.
Sedikit cerita dulu saya punya teman perempuan satu tempat magang dengan saya. Dia orangnya imut, manis dan cantik yang sempat saya ajak nonton bioskop lalu makan berdua. Namun hati saya hancur ketika saya bonceng di atas sepeda motor, dia bercerita kalau sudah punya pacar. Betapa sakitnya hati ini menerima keadaan sampai tulisan saya ini buat.