Konten dari Pengguna
Tantangan Perdagangan Dunia: Perdagangan Bebas yang Tidak Bebas
27 Oktober 2025 13:12 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Tantangan Perdagangan Dunia: Perdagangan Bebas yang Tidak Bebas
Perdagangan bebas telah menjadi standar perdagangan di dunia. Namun, akhir-akhir ini banyak praktik yang kontra-produktif dengan hal ini. Mengapa?Mikhael Aulia Putra K JS
Tulisan dari Mikhael Aulia Putra K JS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sejak lama, perdagangan bebas telah menjadi tulang punggung ekonomi di dunia. Semenjak abad ke-16 hingga sekarang, perdagangan bebas terus berjalan. Kemudahan akses dalam melakukan perdagangan bebas juga membuat kegiatan ini semakin marak. Banyak yang percaya bahwa perdagangan bebas merupakan cara paling efektif dalam meningkatkan kemampuan ekonomi suatu negara, namun sekarang hal ini telah berubah dengan adanya kebijakan neo-merkantilisme yang diterapkan oleh negara.
ADVERTISEMENT
Neo-merkantilisme merupakan praktik yang mengedepankan proteksionisme untuk mencapai kekayaan. Proteksionisme ini bisa berupa hambatan tarif dan non-tarif.
Pada tahun 2025 sendiri, kita bisa melihat kebijakan Amerika Serikat oleh presiden Donald Trump, yang menerapkan tarif impor pada negara lain. Hal ini justru kontradiktif dengan perdagangan bebas, yang seharusnya bebas dari hambatan. Nyatanya, kebijakan proteksionisme seperti inilah yang harus dihadapi oleh dunia perdagangan bebas sekarang.
Prinsip perdagangan bebas hambatan sudah diterapkan dari abad ke-18 ini terguncang akibat perubahan ekonomi dunia yang dinamis. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak negara yang membatasi kemudahan perdagangan bebas ini dengan berbagai kebijakan.
Seperti yang terjadi di Vietnam, di mana negara ini sangat bergantung dengan kegiatan ekspor. Mereka terdampak akibat kebijakan seperti tarif yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Vietnam merupakan salah satu negara yang berperan penting dalam pasokan atau supply chain ekonomi dunia, dan hambatan ini telah menjadi masalah yang akan berdampak pada banyak sektor ekonomi dunia.
ADVERTISEMENT
Tak hanya sampai di sana, WTO yang berperan dalam mengawasi jalannya perdagangan bebas juga tidak bisa bergerak dalam menangani perubahan dinamis ini. Penerapan prinsip seperti non-diskriminasi dan liberalisasi juga tidak menggoyahkan negara seperti Amerika Serikat untuk menerapkan proteksionisme dalam melaksanakan perdagangan dunia. Hal ini juga diperparah dengan negara besar lainnya seperti Tiongkok yang membalas tarif dengan tarif. Tiongkok juga mulai menerapkan tarif pada produk impor dari Amerika sebagai balasan atas tarif yang diberlakukan oleh Amerika.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa di era sekarang, perdagangan bebas tidaklah sebebas yang kita bayangkan. Negara-negara mulai menerapkan kebijakan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya, seperti halnya neo-merkantilisme yang mendukung hal ini. Hambatan-hambatan dalam perdagangan ini menjadi salah satu indikator bahwa perdagangan bebas sudah mulai tergeser dengan ekonomi neo-merkantilisme agresif yang diterapkan banyak negara.
ADVERTISEMENT
Banyak negara yang memilih untuk menerapkan prinsip dari neo-merkantilisme ini untuk mengembangkan kemampuan ekonomi domestik mereka dan membatasi impor agar produk domestik bisa berkembang. Dengan hal ini, negara dapat mengembangkan produk domestik mereka untuk bersaing di pasar dunia. Namun, penerapan prinsip ini merupakan kemunduran dari prinsip pasar bebas dunia yang berakibat pada perdagangan bebas itu sendiri.

