Konten dari Pengguna

Kesenanganmu Menjadi Perenggut Nyawa Bagi Orang Lain

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Miko Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi beberapa orang sedang minum minuman keras. (Sumber: unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi beberapa orang sedang minum minuman keras. (Sumber: unsplash.com)

Minuman keras atau pada umumnya dikenal dengan singkatan miras merupakan sejenis minuman yang mengandung alkohol. Apabila berlebihan dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan efek seperti mual, pusing, bahkan emosi yang menjadi tidak stabil. Timbul pertanyaan kenapa orang-orang gemar menenggak miras dan mabok-mabokan? Jawaban yang paling tepat, karena minuman alkohol itu bisa membuat otak dipengaruhi oleh dopamin. Pada saat mengkonsumsi alkohol kadar zat dopamin akan meningkat seiring waktu ketika sedang mengkonsumsi miras. Apa yang dimaksud zat dopamin? Zat dopamin merupakan sebuah zat yang difungsikan sebagai neurotransmitter atau pembawa pesan diantara saraf sel otak. Hormon Kebahagiaan yaitu dopamin, akan memberikan rasa euforia seperti memicu rasa senang, penghargaan, dan motivasi. Pada umumnya zat dopamin bisa didapatkan dengan aktivitas yang positif seperti memakan makanan yang bergizi, olahraga, dan mendengarkan musik. Namun, adakalanya sebagian orang malah menggunakan jalan pintas dan instan. Ya, apalagi kalo bukan dengan cara mabok-mabokan.

Kenapa orang-orang suka mabok?

Ketika seseorang mengkonsumsi miras, selain mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan akibat dibanjiri dopamin. Alkohol sebagai bahan utama miras juga dapat mengakibatkan seseorang kehilangan kontrol atas diri mereka sendiri. Akibatnya, seseorang akan mengalami perubahan dalam penilaian fungsi rasionalitas dalam berpikir. Hal ini menyebabkan seseorang yang menenggak miras akan rentan sekali terjerat dalam kasus yang berhubungan dengan tindak pidana.

Terkait Perilaku menenggak miras yang berpotensi berbahaya dan merugikan orang lain jika dikonsumsi sembarangan. Kita bisa melihat dan menganalisis kenapa orang yang dibawah pengaruh alkohol rentan melakukan kekerasan terhadap orang lain. Ada satu teori yang namanya Psikoanalisis. Dalam psikologi kriminal teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Beliau mengatakan ada tiga hal yang dimiliki manusia dalam pikiran alam bawah sadarnya. Yang pertama Id, merupakan sebuah keinginan naluriah dan insting dasar manusia untuk mendapatkan kebutuhan biologis seperti makan, minum, bernafas, dan kebutuhan seksual. Saat mengkonsumsi alkohol, id yang sedari awal ada dalam alam bawah sadar manusia menjadi tidak terkendali. Dorongan primitif dan pencarian untuk kesenangan dapat melemahkan yang namanya ego dan super ego. Padahal ego yang seharusnya membuat manusia berpikir secara rasional, tiba-tiba menjadi tidak berfungsi karena lebih lemah dari id yang tidak terkendali akibat mengkonsumsi alkohol. Super ego yang merupakan moralitas dan terdapat pada manusia juga melemah. Disisi lain super ego penting karena berfungsi untuk mengatur dan menyimbangkan perilaku seseorang dalam menilai. Apakah tindakan untuk memenuhi keinginannya dapat dibenarkan dan diterima secara sosial dan moral yang ada dalam masyarakat.

Hukum menanggulangi si teler

Pemerintah dan aparat penegak hukum tentu saja sudah mencoba untuk mengatasi fenomena ini. Sesuai dengan tugas dan wewenangnya, mereka masih berupaya dalam mencegah perilaku masyarakat yang mengkonsumsi miras secara berlebihan. Buktinya bisa dilihat dengan banyaknya kampanye yang ditujukan untuk menekan jumlah penggunaan miras untuk hidup yang lebih sehat dan aman. Kampanye ini lebih difokuskan kepada golongan remaja dan pemuda yang biasanya dalam hal pengkontrolan dirinya sendiri masih dalam tahap perkembangan dibandingkan dengan orang dewasa. Dalam segi aturan, banyak pemerintah daerah yang ada di Indonesia membuat serta memberlakukan Perda (Peraturan Daerah) atau Perwali (Peraturan Wali Kota) yang mengatur tentang larangan peredaran minuman miras yang ilegal. Selain pemerintah, Aparat penegak hukum juga diharuskan berkontribusi dalam mengendalikan perilaku ini. Sebagai contoh, diberlakukannya secara rutin razia dan patroli untuk mencegah diadakannya pesta miras ilegal.

Namun, seperti yang kita tahu kenapa masih banyak terjadi kasus-kasus kekerasan akibat pelaku yang teranyata mengkonsumsi alkohol. Padahal, usaha yang dilakukan mulai dari kampanye, sosialisasi, segi aturan, razia rutin, dan juga patroli semuanya sudah. Terus apalagi?

Masyarakat bijak yang paham

Sebelum menyalahkan pemerintah yang ujungnya malah tidak terjadi apa-apa. Lebih baik kita benahi dulu diri kita sebagai bagian dalam masyarakat yang pastinya, jadi sasaran empuk akibat perilaku ini. kita setidaknya harus ikut berkontribusi untuk menangani perilaku semacam ini. Banyak caranya, seperti contoh dengan membentuk komunitas yang sehat, Membuat kegiatan yang bermanfaat dan positif, Mengawasi kegiatan-kegiatan yang menimbulkan potensi pesta miras, dan melaporkan kepada pihak berwenang untuk menindak segera apabila terdapat adanya perilaku tersebut. Jika ada kasus dimana seseorang yang mengkonsumsi miras itu ternyata masih remaja, maka disinilah peran orang tua diperlukan untuk memfasilitasi dan mengkontrol perilaku anakanya. Harus adanya pengawasan dan bimbingan yang lebih dari orang tua, terlebih lagi ketika anak mereka sendiri ketahuan terjeremus dalam kegiatan yang merugikan mereka sendiri dikemudian hari. Ketika anak sendiri menimbulkan gaduh dilingkungan masyarakat, pasti pertama kali yang ditanyakan masyarakat adalah peran orang tuanya.

Jika disimpulkan, Apabila semua kontribusi yang dilakukan oleh semua kalangan mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, masyarakat, atau bahkan orang tua dijalankan dengan baik dan sebagaimana mestinya. Maka ini bukanlah hal yang mustahil dan tidak mungkin jika mengatakan bahwa generasi Indonesia akan menjadi emas ditahun 2045 mendatang. Pastinya, disaat mengatakan hal tersebut harus diringi pemuda yang sudah mulai terbebas dari alkohol dan mejalankan gaya hidup sehat. Terlebih lagi penulis harap tidak akan ada lagi nyawa yang melayang sia-sia diakibatkan oleh perilaku ini. Jangan sampai ada lagi nyawa yang melayang dan direnggut paksa oleh orang lain yang sedang mengkonsumsi miras. Harga nyawa kita tidak sebanding denga itu.