Pulang Mendadak Menuju Pelukan Duka

Mila Rismaya Sriyatni
Journalism Student at Politeknik Negeri Jakarta
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 14:29 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mila Rismaya Sriyatni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pesawat di lapangan Bandara Juanda, Surabaya (Mila Rismaya S.)
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat di lapangan Bandara Juanda, Surabaya (Mila Rismaya S.)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada pagi yang cerah di 18 Agustus 2016, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur. Rutinitas harian di pesantren berjalan dengan tenang. Suara lantunan doa dan ayat-ayat suci mengisi udara, membawa kedamaian yang biasa kami rasakan setiap hari.
ADVERTISEMENT
Namun, pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Hati saya terasa gelisah, seolah ada bayang-bayang kelam yang menggantung di atas langit biru.
Tengah hari, kegelisahan saya semakin nyata ketika salah satu pengurus pesantren memanggil saya. Dengan nada serius, dia mengatakan ada telepon mendesak dari rumah yang harus saya terima. Jantung saya berdegup kencang, mengiringi langkah-langkah saya menuju ruang telepon. Ketika saya mengangkat gagang telepon, suara kakak saya terdengar di seberang, berat dan penuh ketidakpastian.
"Kamu harus pulang sekarang," katanya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Dalam suaranya tersirat kekhawatiran yang membuat hati saya semakin tak tenang. Tanpa tahu apa yang terjadi, saya hanya bisa menurut, segera mengemasi barang-barang saya dan berpamitan pada para kiai.
ADVERTISEMENT
Perjalanan dari Ponorogo ke Lombok bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalam bus menuju bandara, pikiran saya berputar tanpa henti. Ada apa yang sebenarnya terjadi di rumah? Mengapa saya harus pulang dengan begitu mendadak? Langit di luar jendela bus terlihat tenang, kontras dengan gejolak yang melanda hati saya.
Saat pesawat mengudara, saya duduk di kursi dengan pikiran yang melayang-layang di antara kekhawatiran dan ketidakpastian. Setiap detik terasa seperti sebuah misteri yang harus segera terungkap. Namun, seluruh pertanyaan itu terombang-ambing di dalam benak saya, tanpa ada jawaban yang pasti.
Setelah perjalanan udara yang panjang, saya akhirnya tiba di bandara Lombok. Sesampainya di sana, saya segera melangkah keluar menuju kendaraan yang menunggu untuk membawa saya pulang. Di dalam mobil, perasaan gelisah semakin menghimpit, seakan ada beban besar yang mencekik dadaku.
ADVERTISEMENT
Ketika mobil melaju melewati jalan menuju rumah, pandangan saya tertuju pada bendera kuning yang berkibar pelan di pinggir jalan. Bendera kuning, simbol duka yang menyergap hati setiap orang yang melintasinya. Mata saya terbelalak, hati saya berdegup semakin kencang. Apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah?
Saat mobil memasuki halaman rumah, pemandangan yang menyesakkan hati menyambut kedatangan saya. Kerumunan orang yang berdatangan, wajah-wajah penuh kesedihan, dan suasana yang begitu hening menggambarkan betapa besar kehilangan yang sedang dirasakan keluarga kami. Saya turun dari mobil dengan langkah gemetar, tak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Saat saya memasuki rumah, suasana duka menyelimuti setiap sudut. Mata saya mencari sosok ayah, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk yang bisa saya bangunkan. Namun, yang saya temukan hanyalah wajah-wajah penuh kesedihan, dan isak tangis yang terpendam di balik kesunyian.
ADVERTISEMENT
Di ruang tengah, ibu duduk dengan pandangan kosong, dikelilingi oleh saudara dan tetangga yang mencoba menghibur. Ketika mata kami bertemu, air mata ibu semakin deras. "Ayah meninggalkan kita," katanya dengan suara yang bergetar.
Dunia saya runtuh. Ayah, sosok yang selalu tegar dan penuh kasih, telah pergi tanpa saya tahu. Rasanya seperti ada pedang yang menusuk langsung ke dalam hati saya. Air mata saya tak bisa tertahan lagi, mengalir deras membasahi pipi saya yang terpaku.
Dalam kebingungan dan kesedihan, saya segera bertanya, "Di mana ayah sekarang?"
Salah satu tetangga menjawab dengan pelan, "Jenazah ayahmu sudah dikebumikan tadi sore, sebelum kamu tiba. Kami harus segera melakukannya sesuai dengan tradisi."
Perasaan terpukul seketika menyergap saya. Ayah telah dikebumikan tanpa saya sempat melihat jasadnya, tanpa kesempatan terakhir untuk mengucapkan selamat tinggal. Rasanya seperti ada bagian dari diri saya yang hilang bersama kepergiannya. Dengan langkah yang lemas, saya berjalan keluar menuju pemakaman yang tidak jauh dari rumah.
ADVERTISEMENT
Ketika sampai di pemakaman, saya menemukan seonggok tanah yang masih basah. Di sanalah ayah beristirahat untuk selamanya. Saya terjatuh berlutut di samping kuburnya, membiarkan air mata saya mengalir membasahi tanah merah yang baru saja menutupi tubuhnya. Saya merasakan kehilangan yang begitu mendalam, seperti ada lubang besar dalam hati saya yang tidak akan pernah bisa terisi kembali.
Di sisi kubur, saya merenung dan berdoa. Meskipun saya tidak sempat melihat ayah untuk terakhir kalinya, saya tahu bahwa ia selalu ada dalam setiap langkah saya. Kenangan tentang kasih sayangnya, kebijaksanaannya, dan setiap nasihat yang ia berikan akan terus hidup dalam diri saya.
Saat malam mulai merayap masuk dan bintang-bintang mulai bermunculan di langit, saya kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Kehilangan ini terasa begitu berat, namun di dalam kesedihan yang mendalam, saya menemukan kekuatan dari kenangan akan ayah. Saya tahu bahwa hidup harus terus berjalan. Dengan kenangan tentang ayah yang selalu menguatkan, saya berjanji untuk melanjutkan hidup dengan membawa semangat dan nilai-nilai yang telah ia tanamkan.
ADVERTISEMENT
Kehilangan ini terasa begitu mendalam. Namun, di tengah kepedihan yang melanda, saya tahu bahwa saya harus kuat. Ayah pasti ingin saya melanjutkan hidup, menghadapi tantangan dengan keberanian yang ia tanamkan dalam diri saya. Meskipun ia telah tiada, semangat dan pelajaran dari ayah akan terus hidup dalam diri saya, membimbing langkah-langkah saya dalam setiap perjalanan hidup.
Kehidupan di pesantren telah mengajarkan saya untuk selalu berpegang pada iman dan kesabaran, dan sekarang saya harus menggunakannya untuk mengatasi kehilangan terbesar dalam hidup saya. Ayah mungkin telah pergi, tapi cintanya akan selalu ada, menjadi cahaya yang menerangi jalan saya.