Konten dari Pengguna

Milenial Berjiwa Boomer: Mengapa Usia Tidak Selalu Menentukan Cara Berpikir?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Aditya Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi benturan antar generasi. (Sumber: Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi benturan antar generasi. (Sumber: Gemini AI)

Setiap kali mendengar istilah Baby Boomers, Milenial, atau Generasi Z, kita hampir selalu membayangkan karakter tertentu. Baby Boomers dianggap konservatif, menjunjung pengalaman, dan cenderung berhati-hati. Milenial dikenal lebih adaptif terhadap perubahan, sedangkan Gen Z dipersepsikan kreatif, inovatif, dan tumbuh bersama teknologi digital.

Pengelompokan tersebut memang memiliki dasar dalam kajian sosiologi karena setiap generasi dibentuk oleh konteks sejarah yang berbeda. Namun, persoalan muncul ketika kategori generasi berubah menjadi stereotip yang dianggap berlaku bagi setiap individu.

Realitas menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Tidak sedikit orang yang secara usia masih tergolong milenial atau bahkan Gen Z, tetapi memiliki cara berpikir yang justru lebih dekat dengan stereotip generasi yang lebih tua. Mereka sulit menerima gagasan baru, menolak perubahan tanpa terlebih dahulu memahaminya, menganggap pengalaman pribadi sebagai ukuran mutlak kebenaran, serta merasa pendapat orang yang lebih muda tidak layak dipertimbangkan.

Sebaliknya, banyak pula mereka yang telah memasuki usia lanjut justru tetap haus belajar, terbuka terhadap kritik, dan mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan kebijaksanaannya.

Ilustrasi milenial traveling bersama ibunya Foto: Shutter Stock

Fenomena ini mengajarkan satu hal penting: usia kronologis tidak selalu berjalan seiring dengan usia intelektual. Bertambahnya umur memang menambah pengalaman, tetapi tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih terbuka, lebih bijaksana, atau lebih siap menghadapi perubahan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran sosiolog Karl Mannheim dalam esainya *The Problem of Generations* (1928). Mannheim menjelaskan bahwa setiap generasi memang dibentuk oleh pengalaman sejarah yang sama sehingga memiliki kecenderungan cara pandang tertentu. Namun, ia juga menegaskan bahwa individu-individu dalam generasi yang sama dapat berkembang menjadi pribadi yang sangat berbeda karena dipengaruhi oleh pendidikan, lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan proses pembelajaran yang tidak sama. Dengan kata lain, generasi menjelaskan kecenderungan, bukan kepastian.

Jika menoleh ke belakang, sejarah memperlihatkan bahwa benturan antargenerasi bukanlah fenomena baru. Ia merupakan pola yang terus berulang dalam perjalanan peradaban manusia. Hampir setiap zaman memperlihatkan pertarungan antara mereka yang ingin mempertahankan kemapanan dengan mereka yang mendorong perubahan. Yang berubah hanyalah aktornya, sedangkan pola dasarnya relatif tetap.

Indonesia memiliki contoh yang sangat jelas melalui Peristiwa Rengasdengklok pada Agustus 1945. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, kelompok pemuda mendesak agar Proklamasi Kemerdekaan segera dilaksanakan. Mereka khawatir momentum sejarah akan hilang apabila Indonesia terlalu lama menunggu. Di sisi lain, Soekarno dan Mohammad Hatta yang saat itu dikategorikan sebagai golongan tua memilih pendekatan yang lebih hati-hati karena mempertimbangkan konsekuensi politik dan keamanan.

Perbedaan tersebut sering dipahami sebagai konflik antara golongan muda dan golongan tua. Padahal, inti persoalannya bukan sekadar perbedaan usia, melainkan perbedaan cara membaca perubahan. Kelompok muda melihat keberanian sebagai tuntutan sejarah, sedangkan kelompok tua menilai kehati-hatian sebagai bentuk tanggung jawab politik. Pada akhirnya, kedua pendekatan itu justru saling melengkapi dan mengantarkan Indonesia menuju Proklamasi 17 Agustus 1945.

Pola yang sama dapat ditemukan dalam berbagai peristiwa besar dunia. Revolusi Prancis memperlihatkan bagaimana generasi baru mempertanyakan legitimasi tatanan lama yang telah berabad-abad dianggap tidak dapat diganggu gugat. Gelombang demonstrasi mahasiswa pada 1968 di berbagai negara kembali menunjukkan keberanian generasi muda menantang struktur sosial dan politik yang mapan. Di Indonesia, Reformasi 1998 menjadi contoh bagaimana mahasiswa tampil sebagai motor perubahan ketika rezim Orde Baru dipandang tidak lagi mampu menjawab tuntutan zaman.

Ketiga peristiwa tersebut terjadi pada ruang dan waktu yang berbeda, tetapi memiliki pola yang serupa. Perubahan besar hampir selalu diawali oleh benturan gagasan antara kelompok yang mempertahankan status quo dan kelompok yang menawarkan cara pandang baru. Dalam banyak kasus, benturan itu kemudian diterjemahkan sebagai benturan antargenerasi.

Filsuf sains Thomas S. Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolutions (1962) menunjukkan bahwa perubahan besar dalam ilmu pengetahuan hampir selalu lahir melalui benturan paradigma. Paradigma lama dipertahankan karena dianggap telah terbukti, sedangkan paradigma baru sering kali dipandang sebagai ancaman. Meskipun Kuhn berbicara mengenai perkembangan ilmu pengetahuan, pola tersebut juga tampak dalam kehidupan sosial. Penolakan terhadap perubahan tidak selalu disebabkan oleh lemahnya gagasan baru, melainkan karena manusia cenderung merasa nyaman dengan cara berpikir yang telah lama dikenalnya.

Jauh sebelum Mannheim maupun Kuhn, Ibn Khaldun dalam *Muqaddimah* telah mengamati bahwa setiap peradaban bergerak dalam siklus. Generasi pendiri biasanya lahir dari situasi penuh tantangan sehingga memiliki semangat juang yang tinggi. Ketika kemapanan tercapai, muncul kecenderungan untuk mempertahankan keadaan yang ada. Pada saat itulah generasi baru kembali hadir membawa energi perubahan. Gagasan Ibn Khaldun mengingatkan bahwa benturan antargenerasi bukanlah anomali, melainkan bagian dari dinamika sejarah manusia.

Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Yang sesungguhnya menjadi persoalan bukanlah usia, melainkan kekakuan berpikir.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih sering mendengar kalimat, "Kamu masih muda, belum banyak makan asam garam kehidupan." Tidak dapat dimungkiri bahwa pengalaman memang memberikan pelajaran yang berharga. Pengalaman membantu seseorang memahami risiko, mengambil keputusan dengan lebih hati-hati, dan melihat persoalan dari berbagai sudut.

Akan tetapi, pengalaman tidak identik dengan kebijaksanaan.

Ketika pengalaman dijadikan satu-satunya sumber kebenaran, ia justru dapat berubah menjadi penghalang bagi pembelajaran. Senioritas digunakan untuk mengakhiri diskusi, bukan memperkaya percakapan. Kritik dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Gagasan baru ditolak sebelum diuji. Pada titik inilah seseorang mulai terjebak dalam mentalitas status quo, berapa pun usia yang tertera di kartu identitasnya.

Karena itu, seseorang dapat saja lahir sebagai milenial, tetapi memiliki cara berpikir yang lebih dekat dengan stereotip Baby Boomers. Sebaliknya, seorang Baby Boomer dapat tetap berpikiran progresif karena tidak pernah berhenti belajar. Tahun kelahiran tidak otomatis menentukan cara seseorang memandang dunia.

Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki kekuatan sekaligus keterbatasannya masing-masing. Generasi muda membawa keberanian mempertanyakan kemapanan, sedangkan generasi yang lebih tua menawarkan pengalaman agar perubahan tidak kehilangan arah. Yang dibutuhkan bukanlah saling merendahkan, melainkan kesediaan untuk saling belajar.

Pada akhirnya, yang diwariskan antargenerasi bukan hanya pengetahuan, tetapi juga cara berpikir. Dan ketika seseorang berhenti belajar, menutup diri terhadap gagasan baru, serta merasa dirinya selalu benar, pada saat itulah ia mulai menjadi bagian dari status quo—tidak peduli apakah ia lahir sebagai Baby Boomer, Milenial, ataupun Generasi Z.