Dilema “Green Growth” Investasi Lingkungan dalam Rangka Stabilitas Makroekonomi

Mahasiswa Universitas Pamulang Program studi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sarmila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan antara mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan menjaga keberlanjutan lingkungan jangka panjang. Konsep green growth atau pertumbuhan hijau menawarkan solusi untuk menggabungkan keduanya, tetapi penerapannya masih penuh dilema.

Di satu sisi, investasi lingkungan seperti transisi energi terbarukan, rehabilitasi hutan, hingga pengelolaan limbah berkelanjutan diyakini mampu menciptakan fondasi makroekonomi yang lebih stabil. Dengan mengurangi ketergantungan pada energi fosil, Indonesia bisa menekan risiko defisit transaksi berjalan akibat impor energi, sekaligus mengurangi tekanan inflasi dari gejolak harga minyak dunia. Namun di sisi lain, jalan menuju green growth bukan tanpa tantangan. Investasi hijau membutuhkan biaya besar dan jangka waktu balik modal yang panjang. Pemerintah perlu menyeimbangkan antara belanja fiskal untuk stimulus jangka pendek dengan kebutuhan dana untuk proyek hijau jangka panjang. Selain itu, transisi energi bisa menimbulkan friksi sosial, seperti potensi hilangnya pekerjaan di sektor batubara yang masih menjadi penopang ekonomi di beberapa daerah. Secara makroekonomi, dilema ini sangat jelas: terlalu cepat mendorong green growth bisa menekan daya saing industri yang belum siap, sementara terlalu lambat justru membuat Indonesia rentan terhadap krisis energi, degradasi lingkungan, dan tekanan biaya sosial di masa depan. Kunci stabilitas ada pada keseimbangan. Kebijakan fiskal harus diarahkan untuk mendukung investasi hijau yang produktif, sementara kebijakan moneter menjaga stabilitas harga dan iklim investasi. Di sisi lain, insentif pajak, pembiayaan hijau, dan kemitraan publik-swasta menjadi jembatan penting agar transisi ekonomi hijau tidak sekadar jargon, melainkan motor pertumbuhan yang inklusif. Pada akhirnya, dilema green growth tidak bisa dihindari, tetapi harus dikelola. Jika berhasil, Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi juga menempatkan diri sebagai pemain penting dalam ekonomi hijau global.
