3 Alasan Milenial Ingin Jadi Bos untuk Diri Sendiri

Millennialverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pekerja milenial. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pekerja milenial. Foto: Shutterstock

Banyak dari sebagian orang yang menganggap milenial sebagai generasi kutu loncat di dunia kerja, alias gemar berpindah kerja dalam kurun waktu yang sebentar. Hal inilah yang terkadang membuat orang-orang memandang generasi milenial sebelah mata, ketika mereka ingin menjadi bos untuk dirinya sendiri.

Selain itu karena fakta usia yang masih muda serta kurangnya pengalaman juga sering digunakan untuk memprediksi kegagalan mereka. Padahal ketika mereka memiliki cita-cita menjadi bos bagi diri sendiri, justru harus didukung untuk mulai diwujudkan sejak masih muda.

Seseorang cenderung akan ragu mengambil keputusan, seiring bertambahnya usia, sama halnya dengan milenial yang memiliki cita-cita ini bukan tanpa alasan. Lantas, apa sebenarnya yang melatar belakangi generasi milenial memiliki keinginan menjadi bos untuk dirinya sendiri? Berikut lebih lengkapnya.

Trauma karena pernah terkena PHK

ilustrasi PHK. Foto: Shutterstock

Tidak ada yang lebih ditakutkan oleh karyawan mana pun selain terkena PHK. Setiap orang tentu membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan agar bisa hidup dengan layak.

Saat terkena PHK, ini bukan hanya bisa membuatnya kehilangan mata pencaharian, melainkan juga meningkatkan risiko milenial mengalami stres dan trauma. Inilah mengapa milenial memiliki keinginan menjadi bos buat dirinya sendiri, agar tidak menjadi korban PHK lagi.

Mereka hanya percaya pada dirinya sendiri mengenai keuangan

Ilustrasi keuangan. Foto: Shutter Stock

Adanya peristiwa masa gejolak finansial menjadikan kaum milenial mulai menabung dan belajar cara menangani masa-masa sulit tersebut. Tentu, hal ini menjadi salah satu yang menyebabkan kaum muda hanya memercayai diri mereka sendiri dengan uang mereka.

Rasa percaya diri ini telah mendorong dorongan mereka untuk tidak hanya menjadi bos bagi diri sendiri, tetapi juga menciptakan bisnis sendiri. Kira-kira 75 persen dari 2 ribu generasi milenial berpendapatan tinggi berpikir kemungkinan besar mereka akan memulai perusahaan mereka sendiri. Mereka tahu kemampuan mereka dan tidak ingin bergantung pada siapa pun untuk mewujudkan impian mereka.

Mereka ingin mengubah dunia

Ilustrasi perempuan dan ide. Foto: Shutterstock

Setelah menyaksikan dunia berubah, berantakan, dan memperbaiki diri berkali-kali, kaum milenial tahu yang terbaik dan terburuk yang bisa ditawarkan dunia.

Dengan berusaha menjadi bos bagi diri sendiri, mereka tahu bahwa mereka dapat membuat perbedaan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Dalam sebuah studi baru-baru ini oleh WorkplaceTrends, hampir 50 persen generasi milenial mendefinisikan kepemimpinan sebagai memberdayakan orang lain untuk berhasil daripada memilih definisi yang sebenarnya.

Saat generasi milenial mendapat kesempatan untuk mengambil alih kemudi, mereka akan membawa orang lain bersama mereka sehingga pasar kerja menjadi tempat yang lebih positif didorong oleh kerja sama tim. Mereka tahu bagaimana rasanya menghadapi kesulitan sendirian, jadi mereka ingin mengubah tempat kerja untuk memastikan hal itu tidak terjadi pada generasi setelah mereka.

Laporan Mutiara Oktaviana