Entertainment30 Juni 2018 18:00

3 Stereotip Anak Hukum, Salah Satu Jurusan Favorit SBMPTN 2018

Konten Redaksi kumparan
3 Stereotip Anak Hukum, Salah Satu Jurusan Favorit SBMPTN 2018 (233590)
Ilustrasi mahasiswa Hukum. (Foto: Pixabay)
Menjadi mahasiswa dari sebuah program studi, tak jarang membuat orang di sekitar memiliki anggapan tertentu terhadap diri kita, atau dikenal juga dengan istilah stereotip. Entah karena melihat ilmu yang dipelajari atau hal lainnya, anggapan dari orang-orang tersebut terkadang bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan, atau bahkan merugikan.
ADVERTISEMENT
Hal yang sama juga dialami oleh mereka yang berkuliah di jurusan Hukum. Salah satu jurusan yang menjadi favorit bagi pendaftar SBMPTN 2018 ini, memiliki profil lulusan yang, secara awam, diketahui akan menjadi pengacara. Hal itu membuat tak sedikit orang yang beranggapan bahwa setiap mahasiswa Hukum memiliki karakter yang 'keras' dan vokal.
Selain itu, stereotip apa lagi yang kerap ditujukan kepada mahasiswa jurusan Hukum? berikut ini, kumparan merangkum tiga stereotip lain yang kerap 'menyerang' mahasiswa jurusan Hukum.
1. Jago debat
Seperti yang disebutkan sebelumnya, profesi lulusannya yang erat dengan berbagai macam prosedur hukum dan hak-hak orang lain, membuat frase 'pasti jago debat' menjadi sebuah anggapan yang cukup umum untuk dikatakan kepada para mahasiswanya.
ADVERTISEMENT
Bagi Indira (21), alumni jurusan Hukum salah satu PTN di Jabodetabek, hal tersebut mungkin ada benarnya, namun bukan tanpa alasan. Menurutnya, hal tersebut memang telah dilatih selama masa kuliah, untuk mempersiapkan mental para mahasiswanya saat memasuki dunia kerja.
"Soalnya itu dibutuhkan untuk kami yang nanti bakal kerja di lingkungan orang-orang yang jago berargumen. Tapi bukan sekadar debat, tapi punya dasar yang pasti juga," tuturnya.
2. Orang kaya
Lingkaran pergaulan dan biaya kuliah yang sering dianggap mahal, mungkin menjadi titik bagi stereotip mahasiswa hukum sebagai 'orang kaya'. Namun, benarkah demikian?
Menurut Indira, anggapan tersebut belum tentu tepat. Sebab, berdasarkan pengalamannya, tak sedikit dari mahasiswa di kampusnya yang justru berkuliah dari uang beasiswa.
ADVERTISEMENT
"Di tempat aku malah ada sistem subsidi silang. Jadi siapapun bisa berkesempatan untuk kuliah di jurusan Hukum," lanjutnya.
3. Berwawasan luas dan hafal undang-undang
Masih berlanjut dari stereotip yang pertama, hal lain yang muncul sebagai imbasnya adalah adanya aggapan bahwa anak Hukum pasti memiliki wawasan yang luas. Apalagi karena urusan sehari-harinya berkaitan undang-undang, tak jarang semua mahasiswa Hukum dianggap hafal hal tersebut di luar kepala.
"Padahal kenyataannya, enggak semua anak hukum kritis dan berwawasan luas. Enggak semua anak Hukum juga tahu/hafal undang-undang," kata Gloria, alumni jurusan Hukum dari salah satu Universitas swasta di Bandung.
Bagi kamu yang kemarin daftar SBMPTN 2018 ke jurusan Hukum, sudah siap untuk 'meluruskan' stereotip tersebut? Tulis komentarmu di bawah, ya!
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white