5 Hal yang Harus Kamu Syukuri Setelah Putus sama Pacar

Putus sama pacar emang enggak enak dan begitu menyedihkan, apalagi kalau hubungan terjalin cukup lama. Rasanya, ada bagian dari dirimu yang hilang dan remuk sekaligus. Setuju?
Tapi, terlepas daripada itu, mungkin kamu juga harus bersyukur karena sudah putus dari pacarmu, kenapa?
Berikut beberapa alasan kamu perlu bersyukur setelah putus.
Enggak perlu selalu merasa takut
Entah takut dia marah terus putusin kamu, atau kamu takut dia mutusin kamu karena ketemu seseorang yang lebih dari kamu. Harusnya kamu bersyukur karena sekarang, kamu enggak lagi hidup dalam rasa takut dan jadi lega.
Enggak lagi diganggu oleh masalah keluarga
Ada yang bilang, pernikahan itu bukan cuma tentang dua orang, tapi tentang dua keluarga. Nah, kalau dari pacaran aja kamu sudah enggak nyaman sama keluarganya, gimana kalau nanti kamu nikah?
Terkadang, kamu juga mungkin enggak suka dengan perilaku orang tua pacarmu atau juga kamu udah menyerah untuk mendapat persetujuan dari keluarganya.
Jadi, daripada backstreet terus, mungkin jalan terbaik saat ini adalah putus.
Pertengkaran kecil maupun besar
Katanya, pertengkaran dalam hubungan itu adalah bumbu yang bakal bikin kamu dan pasangan makin lengket. Tapi, ya, kalau kebanyakan berantem juga capek, sih.
Pertengkaran kecil ataupun besar yang menguras tenaga dan emosi enggak akan kamu temui lagi saat putus dari pacarmu. Terkadang, masalah yang kecil bisa menjadi besar dan merembet ke hal lain, itulah yang bikin lelah untuk dilewati.
Jadi, daripada masalah yang sama terus terjadi, lebih baik untuk kesehatan mentalmu dan pasangan, lebih baik kamu udahan dulu, deh, alias putus.
Saling menyalahkan
Ego jadi hal yang selalu dipertahankan posisinya supaya enggak diinjak-injak oleh pasangan. Jadi, saat bertengkar, secara enggak langsung, kamu dan dia bukannya menyelesaikan masalah, malah saling menyalahkan.
Kamu dan dia lebih fokus untuk menyudutkan dan meminta satu sama lain untuk minta maaf duluan. Dalam hubungan, maaf aja enggak cukup, harus ada action dari kalian untuk bisa menyelesaikan masalah.
Intinya, siapa yang paling banyak salah, dia-lah yang harus meminta maaf. Daripada terus main salah-salahan dan bikin hubungan enggak sehat, mendingan kamu dan dia introspeksi dulu, deh, supaya sama-sama dewasa.
Enggak perlu terlalu memikirkan dia
Kebiasaan mendahulukan kepentingannya daripada kepentingan diri sendiri bisa kamu hilangkan jika kamu putus. Belajar mencintai diri sendiri dulu, deh.
Buat apa kamu memikirkan kehidupan orang lain, sedangkan orang tersebut enggak pernah memikirkan kamu? Duh! Jadi, saat kamu putus, kamu harusnya bisa lebih lega karena enggak ada beban untuk memikirkan perasaan dan kehidupan orang lain lagi.
Fokus memperbaiki diri, kehidupan, dan menyenangkan diri sendiri adalah kunci kebahagiaan.
Penulis: Stefanny Tjayadi
