A Luta Continua: Playlist untuk Suarakan Keresahanmu

Millennialverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahasiswa yang membawa poster #ReformasiDikorupsi. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa yang membawa poster #ReformasiDikorupsi. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Beberapa waktu belakangan, banyak kejadian tidak mengenakkan terjadi. Mulai dari isu rasialisme Papua, kebakaran hutan di beberapa titik daerah di Indonesia, revisi UU KPK yang dinilai mematikan kinerja lembaga antirasuah, RKUHP yang diprotes, hingga RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang belum juga disahkan.

Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa di depan gedung DPR, Jakarta Pusat, pada Senin (23/9). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Atas hal ini, sejumlah massa yang didominasi mahasiswa turun ke jalan. Aksi demonstrasi juga tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Enggak cuma melangsungkan protes langsung, di media sosial tagar #HidupMahasiswa dan #MosiTidakPercaya pun ramai sebagai bentuk dukungan aksi massa.

Tuntutan yang dibawa Mahasiswa saat melakukan aksi demo dari lapangan Renon ke gedung DPRD Bali. Foto: Denita/Kumparan
Demo Mahasiswa di Kantor DPRD Tegal Foto: panturapost

Di tengah kalutnya situasi seperti ini, rasanya semua orang berhak mengemukakan apa yang mengganggu dan menjadi kegelisahan mereka. Untuk itu, berikut kumparan rekomendasikan playlist yang pas buat mengutarakan keresahan kamu sama kondisi akhir-akhir ini.

  • The Stone Roses - Bye Bye Badman

embed from external kumparan

John Squire dan Ian Brown terinspirasi oleh gerakan protes yang dilakukan para mahasiswa di Prancis pada 1968. Dikutip dari Q Magazine, Squire bercerita bahwa Brown pernah bertemu seorang cowok Prancis yang ikut terlibat dalam gerakan tersebut.

Cowok itu memberi tahu Ian bagaimana ia menggunakan lemon sebagai penangkal gas air mata.

"Bayangkan seorang pengunjuk rasa menyanyikan lagu ini di wajah seorang polisi selama kerusuhan Paris. Lalu, kamu akan tahu ini semua tentang apa," kata Brown.

kumparan post embed

  • Koil - Kenyataan Dalam Dunia Fantasi

embed from external kumparan

Di negara busuk ini kita tersenyum pedih

Kita membicarakan kenyataan

Dalam dunia yang tak kumengerti

Kita membicarakan kepasrahan

Dalam spektrum yang hitam dan putih

  • Morgue Vanguard - Kontra Muerta

embed from external kumparan

Dalam lagu ini, Morgue Vanguard mengkritisi soal banyak hal. Mulai dari konflik agraria, isu politik identitas yang memuakkan, hingga fasisme. Semua dikemas dalam lirik yang menghujam bagai peluru.

  • Pulp - Mis-Shapes

embed from external kumparan

We want the things you won't allow us

We won't use guns, we won't use bombs

We'll use the one thing we've got more of

That's our minds

And brothers, sisters, can't you see?

The future's owned by you and me

  • Bob Dylan - The Times They Are A-Changin'

embed from external kumparan

Awalnya, lagu ini lekat dengan anak muda anti kemapanan atau yang dikenal sebagai hippie dan konflik gap generation antara orang tua-anak. Kemudian, lagu ini juga banyak dikaitkan pada gerakan hak sipil di Amerika Serikat.

"Saya ingin menulis lagu besar, semacam lagu tema, dengan syair pendek dan ringkas yang saling menumpuk dengan cara menghipnotis. Ini jelas sebuah lagu dengan tujuan. Saya tahu persis apa yang ingin saya katakan dan pada siapa saya ingin mengatakannya," ujar Dylan dalam salah satu buku biografinya.

  • Rage Against The Machine - Take The Power Back

embed from external kumparan

Rage Against the Machine termasuk band yang terkenal vokal menyuarakan pandangan politiknya. Mereka menggunakan musik sebagai medium untuk menyuarakan keresahannya. Tema dan lirik mereka pun sering mengkritik kebijakan dalam dan luar negeri pemerintah Amerika Serikat.

Dikutip dari Genius, De la Rocha, sang vokalis, mengungkap bahwa "Take The Power Back" berfungsi sebagai pesan untuk memberdayakan individu untuk merebut kembali kekuasaan dari pemerintah sehingga dapat dikembalikan kepada rakyat.