Alasan Fresh Graduate Kerap Alami Kesulitan saat Bekerja

Millennialverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sering merasa ngantuk dan kelelahan di siang hari bisa menjadi tanda gejala penyakit yang serius. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Sering merasa ngantuk dan kelelahan di siang hari bisa menjadi tanda gejala penyakit yang serius. (Foto: Thinkstock)

Sebagai angkatan yang baru saja menyelesaikan urusan akademiknya, fresh graduate, memang kerap mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan dunia kerja.

Masa transisi dari seorang pelajar menjadi seorang pekerja tak heran menimbulkan kebingungan tersendiri dan butuh melakukan adaptasi.

Sebagai seorang fresh graduate, pekerjaan pertama seharusnya mejadi kesempatan untuk belajar menjadi seorang profesional, membentuk rutinitas diri dan memperluas relasi kerja.

Namun sebuah survei yang dilakukan Monster.com mengungkap, 29 persen dari milenial fresh graduate mengaku berhenti dari pekerjaan pertama mereka sebelum mencapai setahun masa kerja karena belum siap dan menemukan kesulitan menangani pekerjaan mereka.

Lebih dari itu, hasil survei dari Monster.com menunjukkan bahwa fresh graduate ini terlalu terburu-buru menerima pekerjaan pertama mereka tanpa mempertimbangkan beberapa faktor sehingga mereka menyesali itu.

Kurangnya riset terhadap perusahaan dan job desc pekerjaan, juga menjadi faktor mengapa mereka kesulitan menangani pekerjaan saat sudah menjadi karyawan, karena mereka terlalu fokus pada gaji yang diberikan.

Beberapa dari mereka bahkan merasa pekerjaan pertama mereka tidak sesuai ekspektasi hingga kesulitan untuk beradaptasi.

com-Lelah Bekerja (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
com-Lelah Bekerja (Foto: Thinkstock)

Namun menurut Yoris Sebastian, penulis buku ‘Generasi Langgas: Millennials Indonesia’ sekaligus Founder OMG Creative Consulting, milenial fresh graduate kini sudah jauh lebih enak dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang minim informasi mengenai dunia kerja atau karier.

Yoris menceritakan, jika dulu dirinya harus banyak menggali informasi mengenai dunia kerja dari orang tua, kakak atau saudara yang lebih senior. Sementara milenial fresh graduate sekarang sudah banyak disediakan informasi seputar karier.

Mulai dari buku, internet, hingga media sosial kini masif menginformasikan panduan bagaimana menjadi seorang fresh graduate yang baik dan berkualitas.

Dalam buku Generasi Langgas yang dia tulis, Yoris juga menemukan bahwa milenial cenderung meminta contoh setiap mereka disuruh melakukan suatu pekerjaan. Namun, permintaan mereka itu dilakukan agar bisa melakukan pekerjaan seefisien mungkin.

“Saya mencoba memahami dan bertanya pada mereka, ternyata banyak milenial yang menginginkan pekerjaan lebih efisien. Jadi atasan atau bos jangan hanya kasih kerjaan terus mematok deadline, kemudian ketika pekerjaan mereka tidak sesuai dengan yang dinginkan, atasan jangan langsung nyalahin. Padahal mereka (milenial fresh graduate) mau efisien. Mereka mau contoh dan tips supaya tidak salah, dan mereka cenderung bisa mengembangkannya jadi lebih baik,” papar Yoris.

Yoris juga menyarankan, agar dibuat kesepakatan antara bos dengan milenial fresh graduate ini agar pekerjaan mereka jadi lebih nyaman. Jika tidak, tenggat waktu pengerjaan akan terbuang sia-sia. Dia juga menambahkan, bahwa generasi atasan sebelumnya tidak bisa menyamakan asumsi mereka terhadap milenial soal bagaimana menangani pekerjaan.