Awas Terjebak! Ini 3 Tahap Gaslighting Terjadi dalam Pacaran
·waktu baca 2 menit

Istilah gaslighting berlaku saat seseorang berusaha memanipulasi orang lain, dan membuat mereka mempertanyakan pendapat, kenyataan, atau ingatannya sendiri.
Dalam pacaran, ada berbagai tindakan yang termasuk dalam gaslighting. Misalnya ketika pasangan berusaha membuat kamu merasa bersalah, padahal mereka yang melakukan kesalahan.
Menurut dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Primatia Yogi Wulandari, ada dua hal yang menyebabkan seseorang sulit keluar dari hubungan tersebut.
Pertama, kemungkinan dia enggak menyadari tengah dimanipulasi dan ke-2 enggak dapat menolak pelaku.
3 Tahap Gaslighting Terjadi dalam Pacaran
Selain itu, ada tiga tahapan gaslighting terjadi dalam hubungan. Berikut selengkapnya seperti dilansir laman Unair.
Disbelief atau Ketidakpercayaan
Korban merasa kebingungan dan enggak percaya saat pelaku menuduhnya melakukan kesalahan. Tapi pelaku akan terus menuduh bahwa korbanlah yang salah dalam memahami situasi.
Defense atau Pembelaan
Semakin disalahkan, korban semakin melakukan pembelaan, argumentasi, dan melawan tuduhan pelaku bahwa kesalahan ada padanya.
Depression atau Depresi
Pada tahap ini korban akhirnya menerima tuduhan pelaku tanpa membela diri, enggak mencoba membuktikan jika tuduhan tersebut benar adanya. Hal tersebut dilakukan salah satunya untuk mempertahankan hubungan.
“Pada tahap depresi, kehidupan sehari-hari dapat turut berpengaruh, seperti tidak dapat merasakan makanan yang enak dan tidak menikmati aktivitas bersama teman-teman," jelas Primatia.
"Korban mungkin mengalami kesulitan untuk membuat keputusan-keputusan sederhana seperti mau makan di mana, menonton film apa, memakai baju yang mana,” lanjutnya.
Korban gaslighting dapat merasa frustrasi, cemas, disorientasi, obsesif, putus asa, takut, dan akhirnya merasa kalah, kosong, dan malu.
Bahkan ada pula rasa bersalah, harga diri melemah, dan kecenderungan menyakiti diri sendiri.
Yang Bisa DIlakukan untuk Bantu Korban Gaslighting
Untuk membantu korban gaslighting bisa pulih, Primatia menyebut ada beberapa terapi yang biasa dilakukan. Salah satunya terapi kognitif untuk mengembalikan kendali atas tindakan dan respons emosional, dengan mengelola kesalahan berpikir yang terjadi selama berada pada hubungan gaslighting.
"Target akhirnya adalah meningkatkan keyakinan pada diri sendiri,” ucapnya.
Sementara sebagai teman atau keluarga, dapat menjadi pendengar yang baik dan meminta korban mengomunikasikan pikiran dan perasannya kepada pelaku. Dengan harapan akhirnya sadar dan memperbaiki perilakunya.
“Namun, kita tidak tidak dapat memaksa korban untuk meninggalkan hubungan tersebut. Sebagai orang terdekat, kita harus mencoba menguatkan korban secara bertahap. Bagaimanapun juga, semua keputusan berada di tangan korban,” pungkas Primatia.
