Berkat Film Dokumenter, 3 Mahasiswa UMM Lulus Tanpa Skripsi
·waktu baca 3 menit

Skripsi merupakan tahapan akhir yang harus dilalui setiap mahasiswa S1 untuk meraih gelar sarjana. Banyak mahasiswa tingkat akhir beranggapan bahwa skripsi adalah hal yang paling berat karena dalam proses penggarapannya dapat menguras waktu dan tenaga.
Tak banyak mahasiswa yang ingin melewati masa-masa perkuliahan ini tanpa harus melewati fase tersebut. Ternyata, ada beberapa kampus yang bisa meluluskan mahasiswanya tanpa skripsi, lho. Salah satunya adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Tapi, tentu saja lulus tanpa skripsi ini bukan hal mudah, kesempatan ini hanya diberikan kepada mahasiswa-mahasiswa yang memenuhi syarat. Salah satunya adalah mahasiswa harus memiliki karya atau penelitian yang meraih penghargaan.
Lulus tanpa skripsi ini pun dirasakan oleh ketiga mahasiswa UMM, di antaranya adalah Devano Ramadhan Pratama, Ahmad Ali Mahfud, dan Muhammad Sofwan yang merupakan lulusan dari program studi Ilmu Komunikasi. Mereka berhasil membuat film yang berhasil tayang di Wathcdoc Documentary pada pertengahan Juni lalu.
Mengutip laman UMM, ketiganya menggarap film yang mengangkat tentang isu lingkungan, film tersebut berjudul Menyisir Pesisir Gili Ketapang. Dalam film itu ketiganya coba memperlihatkan kebiasaan masyarakat yang ternyata memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.
“Kondisi pemukiman yang semakin padat, sampah menumpuk, kebiasaan masyarakat yang susah diubah dan solusi yang tak kunjung datang akan berujung pada hilangnya pulau ini,” kata Mahfud dikutip dari laman UMM, Senin (4/7).
Ide Datang Setelah Melihat Permasalahan Laut yang Memprihatinkan
Devano bercerita bahwa ide film ini muncul sejak ia duduk di semester dua. Di mana, mereka diajak untuk membuat film yang berlokasi di Gili Ketapang.
Setiba di lokasi, mereka justru melihat permasalahan lingkungan sangat memprihatinkan, seperti sampah yang menumpuk, pengerukan pasir, hingga pengambilan terumbu karang untuk membangun rumah.
“Jika kebiasaan itu berlanjut, tentu akan memberikan dampak buruk bagi pulau ini ke depannya. Apalagi mengingat bahwa Gili Ketapang adalah salah satu objek wisata bahari unggulan Jawa Timur,” ungkap Devano.
Pariwisata Gili Ketapang mulai memang dikenal banyak orang sejak 2012, namun puncaknya di 2016 hingga 2017. Setiap harinya banyak wisatawan yang datang melancong.
Tingginya geliat wisatawan yang datang ke Gili Ketapang pun membawa perubahan bagi masyarakat sekitar.
”Banyak orang di sana merasakan hal positif dari datangnya pariwisata, sehingga mulai dipandang oleh pemerintah dengan pembangunan dermaga selatan. Sayangnya, pertumbuhan pariwisata yang tinggi ini tidak dibarengi dengan perawatan lingkungan yang mumpuni,” jelas Sofwan.
Ketiganya pun berharap, dari film dokumenter ini bisa menyadarkan masyarakat untuk menjaga lingkungan. Begitupun dengan pemerintah yang harus segera bergerak dan memberikan solusi kepada masyarakat Gili Ketapang.
Laporan Afifa Inak
