Curhat Murid Sekolah Homogen: Lebih Nyaman hingga Kuatnya Solidaritas

Pernah terpikir bahwa sekolah homogen itu membosankan? Hm, rasanya anggapan itu harus kamu hilangkan segera, deh. Soalnya, menurut para alumni dari SMA Tarakanita 1 dan SMA Pangudi Luhur yang merupakan contoh dari sekolah homogen tersebut, mengatakan sekolah mereka jauh lebih seru dari sekolah pada umumnya.
SK, salah satu alumni dari SMA Tarakanita 1 menuturkan pada kumparan, bahwa sekolah di Tarki, -- nama singkatan dari sekolahnya, justru terasa lebih hidup dan berwarna karena isinya perempuan semua. Dia dan beberapa temannya merasa jauh lebih nyaman bercerita satu sama lain, karena banyaknya kesamaan pemikiran di antara mereka.
“Kita kalo ngomong, lebih blak-blakan gitu dan enggak apa-apa. Kita juga enggak tergantung sama laki-laki. Jadi kalau ada acara di sekolah semua cewek ya angkat-angkat barang, kecuali mungkin buat keamanan minta tolong sama anak Pangudi Luhur (PL), meskipun ada juga anak Tarki yang jadi panitia bagian keamanan,” ujarnya.
Hal berkesan dan seru juga dialami oleh MA, salah satu alumni SMA Pangudi Luhur Jakarta (PL). Ini adalah kali pertamanya masuk sekolah homogen dan dia merasa kebersamaannya lebih terasa karena sistem di sekolahnya yang semi militer.
“Sistem di sana (PL) semi militer, jadi kalau ada salah satu orang salah bisa dianggap mewakili banyak bahkan bisa satu angkatan. Tapi serunya di PL banyak acara yang variatif, obrolannya juga luas, misalnya musik indie, umum, pameran seni underground, film-film indie,” kata MA menjelaskan.
Selain keseruan yang dialami para murid di sekolah homogen tersebut, ada juga percikan drama yang enggak ditampik pasti terjadi. Sebagaimana anak SMA pada umumnya, emosi yang enggak stabil, bergejolak, dan lain sebagainya juga menjadi faktor terjadinya konflik.

SK memutar kembali ingatannya saat teman kelasnya dulu ada yang berkelahi hingga terjadi jambak-jambakan dan banting pintu.
“Awalnya mungkin bercanda gitu, ya, terus baper jadi keluarlah makian sampai teriak gitu terus banting pintu. Bahkan yang sampai jambak-jambakan juga ada. Tapi mungkin itu di kelasku doang, ya. Kelas lain mungkin enggak ada,” paparnya.
Meski terdengar menyeramkan, namun SK memastikan bahwa perkelahian tersebut tidak berlangsung lama.
Lain lagi dengan anak PL, karena sistemnya ‘satu salah semua kena’, mau enggak mau, semua siswa di sana harus menyatukan visi misi seangkatan. Sehingga kekompakan tersebut akan terjalin dan lebih mudah untuk bersatu. Setidaknya itu yang dialami MA.
Dia memberi contoh kasus sederhana, misal, seniornya meminta dia untuk membeli sepatu seharga Rp 500 ribu dengan merk dan model yang spesifik. Nah, salah satu teman MA yang lain, sebut saja Andi, punya anggapan bahwa sepatu tersebut bisa dibelinya dengan harga yang lebih murah, yaitu Rp 400 ribu.
Padahal, secara ketentuan Andi tidak bersalah karena harganya enggak melebihi uang yang diberi sang senior. Tapi, hal itu tetap salah karena dianggap enggak sesuai dengan perintah dan senior tersebut bisa saja enggak mau menerima sepatu itu.
MA juga menuturkan, senioritas di PL ada banyak macamnya. Bisa dalam bentuk lelucon, bisa dalam bentuk mental, namun enggak selamanya berkonotasi negatif.
Semua itu berbalik pada reputasi si junior sendiri. Karena masing-masing junior juga dilihat reputasinya. Misalkan junior tersebut sering enggak mematuhi aturan dan punya perangai buruk, sudah pasti junior tersebut ‘diincar’.

MA bahkan enggak menutup-nutupi, bahwa di PL masih ada tindak senioritas yang main fisik. Namun, berbalik lagi, hal itu terjadi karena adanya sebab-akibat. Bukan semata-mata karena si senior tersebut ingin terlihat jagoan.
“Dibilang enggak ada sih, enggak juga, tetap ada (kekerasan fisik). Cuma balik lagi itu tergantung gimana si subjeknya, kalo misalnya dia (junior) nyolot ya itu kena,” aku MA.
Sebagaimana di sekolah pada umumnya, senioritas masih tetap ada di sekolah homogen sekalipun. Meski konotasinya enggak selalu merujuk ke perpeloncoan atau yang identik dengan hal-hal negatif.
Seperti yang dirasa SK. Tujuan senioritas di Tarki lebih kepada mendidik para adik kelas agar menjadi pribadi yang lebih mandiri.
“Dulu alasan untuk milih sekolah di Tarki juga karena emang enggak tertarik sekolah di negeri, kan. Terus meski ada senioritas di Tarki tapi kita jadinya respect ke kakak kelas. Unik aja soalnya isinya cewek semua, penasaran aja gimana rasanya sekolah di sana,” ungkap SK.
‘Sisterhood’ yang terjalin di antara anak-anak Tarki dirasa sangat solid. Bahkan hingga sudah lulus pun TM dan teman-teman serta seniornya masih akrab dan sering mengobrol.
Yap, keakraban yang terjalin nyatanya mampu membuat para murid di sekolah homogen ini jadi sangat cair. MA bahkan menyebut, perkumpulan alumni PL cukup terbilang sering diselenggarakan dan dia merasa mudah berbaur dengan satu sama lain.
“Misal gue ketemu salah satu anak PL yang enggak terlalu deket nih, tapi gue enggak bakal canggung. Sesimpel itu sih,” tutupnya.
