Hanya Mahasiswa Jurusan Sejarah yang Mendapat 5 Stereotip Berikut Ini

Dipungkiri atau enggak, tiap jurusan seakan memiliki ciri khas mahasiswanya sendiri. Ciri khas ini lantas menempel dan berujung kepada stereotip orang lain terhadap mahasiswa di jurusan tertentu.
Dari rumpun Sosial Humaniora, mahasiswa jurusan Sejarah juga mendapatkan bermacam stereotip yang enggak jarang menjengkelkan. Apa saja, ya? Berikut lima di antaranya.
1. Susah move on
Hanya karena jurusan Sejarah mempelajari kejadian di masa lalu, stereotip 'susah move on' pun melekat pada tiap mahasiswanya. Bagi Nuraini, seorang alumni jurusan Sejarah di Universitas Padjadjaran, stereotip 'susah move-on' ini sangat menyebalkan.
"Jadi gini, ya. Kalau ada orang yang bilang belajar sejarah itu cuma terjebak di masa lalu dan enggak relevan dengan masa sekarang, nampaknya mereka itu yang pikirannya harus di-upgrade supaya lebih update dan enggak sok tahu," tegas Nuraini, saat dihubungi kumparan, Kamis (30/8).
Nuraini menjelaskan, jurusan Sejarah memang menitikberatkan kepada jejak lampau yang dilakukan manusia. Tapi, sejarah itu bisa jadi acuan bagi seseorang, bahkan negara, untuk mengambil keputusan.
"Misal, dulu zaman pergerakan segala upaya untuk membebaskan diri dari penjajah sudah dilakukan dengan segala taktik, baik nonkooperatif hingga kooperatif. Dari kedua hal itu bisa dilihat mana yang lebih banyak membawa keuntungan? Jadi sederhananya gitu," terang Nuraini.
2. Ilmunya enggak berguna
Mahasiswa jurusan Sejarah kerap disebut mempelajari ilmu yang enggak berguna karena mempelajari peristiwa di masa lampau. Menurut Nuraini, hal ini juga karena di negara berkembang hanya memfokuskan kepada ilmu-ilmu yang berguna bagi pembangunan.
"Metodologi yang kami pakai di Ilmu Sejarah sama aja kayak merekonstruksi sebuah rangkaian peristiwa yang bisa dikisahkan. Kisah, cerita, narasi, itu penting, loh. Sama aja kayak kamu buat cerita, berita, artikel, perlu riset, kan? Sejarah juga melakukan itu," katanya.
3. Mengurus fosil, artefak, dan candi
Sebagai mantan mahasiswa jurusan Sejarah di Universitas Indonesia, Nesia mengaku sering diidentikkan dengan mempelajari candi dan artefak. "Padahal enggak belajar itu sama sekali. Kalau itu arkeologi," ucap Nesia.
Memang enggak sedikit yang masih bingung antara Arkeologi dan Sejarah. Perbedaannya yakni, ranah Arkeologi mempelajari masa ketika manusia belum mengenal tulisan. Sedangkan Sejarah fokus kepada masa ketika manusia sudah mengenal tulisan.
4. Kutu buku
Banyaknya referensi membuat mahasiswa jurusan Sejarah harus berkutat dengan buku-buku tua dan tebal selama kuliah. Hal ini yang dirasakan Adis, mahasiswa Universitas Padjadjaran, yang sering mendapatkan stereotip 'kutu buku'.
"Anak Sejarah biasanya dianggep kutu buku. Bisa tahu semua sejarah yang ada di dunia. Ya, aku enggak masalah, sih, soalnya jadi keliatan pintar gitu," ujarnya.
Senada dengan Adis, mahasiswa Universitas Indonesia bernama Mia justru menganggap stereotip ini sebagai pujian bagi anak Sejarah. "Bagi gue itu pujian dengan cara yang berbeda. Jadi biasa aja, dan gue mengiyakan hal itu," timpal Mia.
5. Peluang kerjanya kecil
Menurut Marcia, seorang alumni jurusan Sejarah Universitas Indonesia, anggapan umum yang paling menyebalkan adalah seputar prospek karier lulusan Sejarah.
"Sering banget dapet pertanyaan kayak 'Wah, anak sejarah kerjanya jadi guru doang, ya?' dan 'Anak sejarah emang ada peluang kerjanya?'. Entah candaan atau beneran," ungkap Marcia.
Eits, jangan salah. Prospek karier bagi lulusan Sejarah menjanjikan, kok. Mulai dari di bidang hukum, arsip, media, sampai politik.
