ILO Sebut 1 dari 6 Anak Muda Jadi Pengangguran karena Pandemi COVID-19

Millennialverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pandemi COVID-19. Foto: Maulana Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pandemi COVID-19. Foto: Maulana Saputra/kumparan

Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) melaporkan lebih dari satu dari enam anak muda kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19.

Anak muda yang masih memiliki pekerjaan juga terkena dampaknya. Jam kerja mereka akhirnya terpotong sampai 23 persen.

Pandemi COVID-19 tidak hanya menyebabkan pengangguran, tapi juga menghambat pendidikan, menghilangkan kesempatan magang, dan program pelatihan lainnya untuk mencetak tenaga siap kerja.

Guy Ryder selaku Director-General ILO menegaskan, hambatan ini bisa merugikan anak muda untuk kembali memasuki dunia kerja saat pandemi berakhir.

"Hal ini dapat merusak masa depan dan membuat pembangunan ekonomi pascapandemi jadi lebih sulit," kata dia, dikutip dari Aljazeera.

Ilustrasi mencari pekerjaan Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Sebenarnya sebelum pandemi COVID-19, anak muda sudah kesulitan mencari kerja. Di 2019, sebanyak 13,6 persen anak muda di seluruh dunia menganggur.

Sebanyak 267 juta lainnya tidak punya pekerjaan dan tidak mendapatkan pendidikan atau pelatihan yang mumpuni. Sementara, anak muda berusia 15-24 tahun yang bekerja, kebanyakan tidak diberi upah yang layak.

ILO meminta pemerintah untuk mengambil langkah pasti agar dapat mencegah risiko lahirnya 'generasi lockdown'.

"Krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19 menyerang anak muda, khususnya perempuan. Kalau tidak segera ditangani, dampak dari wabah virus corona ini bisa terjadi sampai puluhan tahun," ujar Ryder.