Ini Bedanya Kehidupan Kaum Milenial dan Baby Boomer
ยทwaktu baca 4 menit

Milenial telah menjadi istilah umum bagi generasi yang lebih baru dan lebih muda, tetapi istilah ini secara teknis terbatas pada mereka yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, artinya orang ini biasanya berusia 25 tahun hingga 40 tahun. Sedangkan rekan baby boomer mereka biasanya dari kalangan anggota yang berusia 57-75 tahun. Di mana hal ini menjadikan baby boomer sebagai orang tua dari generasi milenial.
Dari perbedaan periode waktu kelahiran antara milenial dan baby boomer, menjadikan kehidupan antara anak dan orang tua ini pun memiliki kebiasaan kehidupan yang sangat berbeda. Mulai dari cara mereka memikirkan soal pernikahan, tempat kerja, hingga masalah kesehatan.
Lantas, apa yang menjadikan perbedaan utama antara kehidupan milenial dengan baby boomer? Berikut adalah lima perbedaannya.
Milenial lebih suka kehidupan kota besar dan biaya hidup yang menyertainya
Generasi milenial yang berpendidikan cenderung pindah ke pusat kota yang lebih mahal. Tidak seperti baby boomer dan orang tua mereka, yang bermigrasi ke pinggiran kota secara massal, generasi milenial menemukan kebahagiaan di kota, menurut laporan Studi Regional. Lingkungan yang lebih besar dan lebih perkotaan menawarkan manfaat keragaman, peluang ekonomi, hiburan, keamanan, dan perasaan status kepada generasi milenial.
Sebaliknya, ketika baby boomer berusia 20-an dan 30-an, mereka lebih bercita-cita untuk tinggal di rumah pinggiran kota di daerah penggembalaan yang lebih kecil. Saat ini, generasi milenial adalah generasi pertama yang lebih senang dengan kehidupan perkotaan daripada kehidupan pedesaan. Tidak seperti baby boomer, mereka paling tidak senang tinggal di tempat dengan populasi kurang dari 8 ribu orang. Sedangkan milenium adalah satu-satunya generasi yang lebih bahagia tinggal di tempat dengan 250 ribu orang atau lebih.
Milenial lebih ingin mendapatkan lebih banyak dari pekerjaan
Dibandingkan dengan generasi baby boomer, generasi milenial lebih termotivasi oleh kemampuan mereka untuk memberikan pengaruh di mana pun mereka bekerja. Menurut survei Global Report, 74% persen kandidat pekerja milenial menginginkan pekerjaan yang menurut mereka penting.
Mereka juga menginginkan potensi pertumbuhan dan promosi, seperti penelitian dari grup Addison yang menemukan bahwa lebih dari 67 persen generasi milenial ingin mencapai status manajer, dibandingkan dengan hanya 58 persen tenaga kerja secara keseluruhan. Mereka juga tidak terlalu takut dibandingkan generasi sebelumnya untuk berganti pekerjaan atau bekerja secara mandiri.
Sedangkan untuk seorang baby boomer, mereka lebih didorong oleh loyalitas, dan mereka lebih cenderung bekerja untuk perusahaan yang sama untuk jangka waktu yang lama. Seperti hasil dari jajak pendapat tahun 2016 yang menemukan 40 persen dari boomer bertahan dengan majikan setidaknya selama 20 tahun, dan 18 persen tinggal selama 30 tahun atau lebih.
Milenial lebih sadar akan kesehatan
Milenium adalah konsumen yang lebih sadar kesehatan daripada pendahulunya. Seperti jajak pendapat Aetna tahun 2013 yang menemukan baby boomer kemungkinan besar mendefinisikan "sehat" sebagai tidak jatuh sakit dan memiliki berat badan yang sesuai dengan tinggi badannya.
Sementara itu, generasi milenial adalah generasi yang cenderung mempertimbangkan kebiasaan makan yang baik dan aktivitas fisik dalam definisi mereka tentang sehat. Namun, faktanya generasi milenial Indonesia lebih menyukai untuk membeli makanan dari restoran cepat saji. Kondisi inilah yang dianggap sebagai kesempatan emas bagi para industri makanan untuk mendirikan bisnis kuliner sebanyak-banyaknya.
Mereka memiliki uang lebih sedikit daripada orang tua mereka, dan mereka lebih lambat membeli rumah
Dalam dekade terakhir, persentase pemilik rumah dan penyewa milenial terus menurun. Ini mungkin karena fakta bahwa secara keseluruhan, generasi milenial memiliki lebih sedikit uang daripada orang tua mereka pada usia yang sama. Menurut Federal Reserve, milenial memiliki penghasilan lebih rendah, aset lebih sedikit, dan kekayaan lebih sedikit dibandingkan dengan baby boomer.
Sebuah studi oleh Pew Research Center menemukan bahwa generasi milenial menghasilkan lebih sedikit uang, tetapi pendapatan pasangan menikah (pendapatan rumah tangga) meningkat. Dalam hal pengeluaran, generasi milenial juga lebih lambat memiliki rumah daripada baby boomer.
Adapun penelitian dari laporan Charles Schwab yang menemukan bahwa alih-alih hipotek, kaum milenial lebih cenderung menghabiskan gaji mereka untuk transportasi seperti Ubers, maupun kopi, gadget, pakaian, serta hiburan langsung dan olahraga.
Milenial suka menunda pernikahan
Generasi termuda Amerika cenderung menikah selama usia 20-an. Hampir 50 persen baby boomer menikah antara usia 18 hingga 32 tahun, sementara hanya 26 persen generasi milenial yang menikah dalam rentang usia yang sama. Penurunan tingkat pernikahan di kalangan milenial mencerminkan sejumlah pergeseran budaya dan ekonomi, termasuk resesi di akhir tahun 2000-an. Tren lain seperti peningkatan jumlah perempuan dalam angkatan kerja dan penurunan religiusitas juga telah membentuk pandangan milenial tentang pernikahan.
Laporan Mutiara Oktaviana
