Kasus Bunuh Diri di Remaja AS Meningkat Akibat '13 Reasons Why'

Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Journal of The American Academy of Child and Adolescent Psychiatry melaporkan tingkat bunuh diri pada remaja di Amerika Serikat meningkat setelah serial orisinal Netflix ‘13 Reasons Why’ dirilis. Menyusul temuan ini, layanan streaming tersebut ikut buka suara.
Laporan yang didanai oleh National Institute of Health itu menemukan bahwa ada lebih dari 195 kasus bunuh diri; terjadi dalam kurun waktu sembilan bulan setelah musim pertama ‘13 Reasons Why’ diluncurkan. Tepatnya pada Maret 2017.
Walaupun ‘13 Reasons Why’ menceritakan kisah bunuh diri yang dilakukan oleh karakter perempuan, studi tersebut menemukan peningkatan kasus bunuh diri di kalangan remaja laki-laki.
Menanggapi hal ini, juru bicara Netflix menjelaskan pihaknya akan menangani isu ini secara bertanggung jawab.
“Kami baru melihat laporan ini dan masih dipelajari. Ini adalah isu yang sangat penting,” katanya dilansir NME.
Namun, pihak Netflix mengatakan bahwa studi itu berlawanan dengan riset yang dilakukan University of Pennsylvania. Riset tersebut melaporkan bahwa mereka yang menonton ‘13 Reasons Why’ sampai selesai, cenderung enggak berisiko melakukan kekerasan kepada diri sendiri atau bunuh diri.
Serial ‘13 Reasons Why’ menceritakan tentang kehidupan seorang cewek 17 tahun bernama Hannah Baker. Hannah bunuh diri dan meninggalkan sekotak kaset yang menjelaskan apa yang terjadi kepadanya.
Serial yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Jay Asher di 2007 itu dilanjutkan di musim kedua pada 2018. Netflix juga telah mengkonfirmasi bahwa ‘13 Reasons Why’ akan kembali untuk musim ketiganya, meski belum diumumkan tanggal rilisnya.
