Komik: Cegah Sebar Kabar Hoaks!
ยทwaktu baca 4 menit

Fenomena hoaks semakin merajalela di dunia maya dan penyebaran informasinya sangat mudah melalui social media. Menurut riset yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) tahun 2019, penyebaran hoaks paling banyak diterima tetap melalui media sosial yang mencapai 97,50 persen. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Path, Line, WhatsApp, dan Telegram jadi wadah penyebarannya.
Dalam survei tersebut, disebutkan juga bahwa topik yang paling banyak dibahas dalam berita hoaks adalah seputar sosial-politik, isu SARA, info pekerjaan, dan kesehatan juga menjadi topik yang sering diangkat dalam berita palsu.
Sayangnya, belum semua pengguna internet punya etika digital yang baik. Padahal, etika digital sangat diperlukan dalam menggunakan media sosial seperti mampu menyadari, mencontohkan, mempertimbangkan konten informasi yang diterimanya.
Di Indonesia, berita hoaks masih menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Masih dalam riset yang sama, bahwa dari 941 responden 44,30 persen di antaranya menerima berita hoaks setiap hari.
Sampai saat ini, berita hoaks kian mencemaskan, apalagi ditambah situasi pandemi. Kominfo mencatat terdapat 1.854 isu hoaks Covid-19 pada 442 unggahan media sosial hingga Minggu 15 Agustus 2021.
Kominfo juga mencatat terdapat 293 isu hoaks seputar vaksin virus corona pada 1997 unggahan di media sosial. Lalu, terdapat 42 isu hoaks PPKM Level 4 pada 640 unggahan di media sosial.
Hoaks memang menjadi musuh besar pengguna internet di Indonesia yang jumlahnya mencapai 202,6 juta jiwa. Karenanya perlu berbagai upaya untuk mencegah berita hoaks menyebar.
Tak hanya pemerintah, tapi kita juga harus ikut berkontribusi lewat cara ini!
Bersikap kritis dengan informasi yang provokatif
Berita hoaks umumnya punya judul dan isi yang mengundang sensasi serta bersifat menghasut atau provokatif. Bahkan yang lebih parah, judul atau isinya diambil dari media atau surat kabar resmi. Hanya saja, sedikit diubah dengan memasukan opini agar pembaca tergiur membacanya.
Padahal belum tentu berita itu benar adanya. Untuk menghindari hoaks jenis ini, kamu sebaiknya mencari berita yang sama dari sumber yang terpercaya seperti media berita yang terverifikasi dewan pers di sini.
Jangan sampai terkecoh, kadang ada oknum yang tidak bertanggung jawab membuat berita bohong dengan menggunakan tautan atau situs yang mirip dengan media berita asli.
Cek keaslian foto, video, hingga caption
Berita hoaks ada kalanya berupa foto atau video yang telah dimanipulasi. Dalam riset Master 2019, selain tulisan, ada bentuk hoaks lain yang sering diterima yakni foto, caption, hingga video lama yang di-posting ulang.
Untuk mengecek keaslian foto, kamu bisa memanfaatkan mesin pencari Google, dengan melakukan drag and drop. Lewat cara ini kamu bisa membandingkan hasilnya dan mengambil kesimpulan apakah foto tersebut asli atau bohong.
Untuk video atau caption, kamu bisa ikut serta grup diskusi anti-hoaks. Dilansir Kominfo, ada beberapa fanpage atau grup diskusi anti-hoaks di Facebook yang bisa diikuti seperti Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoaks (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoaks Buster, Fanpage Indonesian Hoaks, dan Grup Sekoci.
Segera laporkan!
Setelah melakukan semua cara untuk mencari kebenaran informasi dan kamu menemukan suatu berita adalah hoaks, jangan ragu untuk melaporkannya agar berita tersebut tidak memakan banyak korban. Sebab tidak sedikit masyarakat yang percaya hoaks dan tertipu baik secara materil maupun moril.
Bila menemukan berita hoaks di media sosial, kamu bisa gunakan fitur report dan kategorikan informasi hoaks sebagai hatespeech/ harrasment/ rude/ threatening, atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari netizen, biasanya situs media sosial akan menghapus status konten informasi tersebut.
Kamu juga bisa mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui situs aduankonten.id atau email ke aduankonten@mail.kominfo.go.id.
Ajak teman untuk mendukung gerakan anti hoaks
Yuk #MakinCakapDigital dan jadi garda terdepan untuk perangi hoaks! Kontribusi kecil kamu dapat melindungi banyak orang agar tidak terpapar hoaks. Caranya sederhana, ajak sebanyak mungkin saudara, sahabat, hingga lingkungan terdekatmu seperti tetangga rumah untuk mendukung gerakan anti-hoaks.
Gerakan ini merupakan bagian dari Program Kementerian Komunikasi dan Informatika Bekerjasama dengan Siberkreasi untuk memerangi berita palsu serta meningkatkan literasi digital di masyarakat lewat ajakan untuk berbagi kreativitas lewat konten positif dan memanfaatkan internet secara bijak dan bertanggungjawab.
Untuk informasi menarik mengenai literasi digital lainnya, kunjungi laman Siberkreasi melalui https://info.literasidigital.id atau kunjungi akun media sosialnya di sini.
Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Siberkreasi dan Kemkominfo
