Entertainment
·
27 Juli 2021 15:27
·
waktu baca 5 menit

Kunto Aji Hingga Hindia, 7 Musisi Ini Ciptakan 3 Film Pendek dalam Collabonation

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kunto Aji Hingga Hindia, 7 Musisi Ini Ciptakan 3 Film Pendek dalam Collabonation (734897)
searchPerbesar
3 film dalam 1 dunia, Collabonation Series 3.0 suguhkan cerita bermakna. Dok. YouTube/IM3 Ooredoo.
Collabonation dari IM3 Ooredoo kembali hadir dengan konsep segar yang memberikan hiburan spesial bagi masyarakat di rumah. Kali ini, IM3 Ooredoo menyuguhkan Collabonation Series 3.0 melalui kolaborasi tiga film pendek karya musisi dan sineas Indonesia.
Dibuat untuk menemani masyarakat di tengah pandemi, makna yang tertuang dalam plot setiap filmnya memberikan kesan hangat dan pesan yang mencerminkan kehidupan di situasi serba terbatas seperti saat ini.
Menggandeng tujuh musisi tanah air sebagai sutradaranya, yakni Iga Massardi, Kunto Aji, Hindia, Petra Sihombing, Asteriska, Rendy Pandugo, dan Sal Priadi; tiga film pendek ini identik dengan latar dunia, bumi, dan alam. Tak hanya itu, masing-masing cerita juga memberikan “ruang” interpretasi terbuka.
Produksi ketiga film ini juga melibatkan filmmaker terkenal asal Indonesia, IM3 Ooredoo menggandeng Naya Anindita, Gianni Fajri, dan Surya Penny yang menemani setiap sutradara sebagai co director.
Kali ini, kumparan akan menilik pesan di balik film Collabonation Series 3.0 ini satu-persatu. Sudah siap masuk ke dalam imajinasi setiap film pendek ini?

1. “Putaran” oleh Petra Sihombing, Rendy Pandugo, dan Gianni Fajri

Kunto Aji Hingga Hindia, 7 Musisi Ini Ciptakan 3 Film Pendek dalam Collabonation (734898)
searchPerbesar
Cuplikan film pendek "Putaran". Tonton sekarang! Dok. YouTube/IM3 Ooredoo.
Mengangkat cerita tentang survival di akhir zaman, Putaran bercerita soal sejarah planet bumi, ketika kehidupan dan kematian selalu menjadi sebuah siklus yang seimbang. Akan tetapi, siklus tersebut perlahan-lahan rusak karena ulah manusia.
Akhirnya, hanya tersisa roh semesta yang enggan memberikan kesempatan bagi manusia untuk dapat bertahan di bumi.
Adegan awal memperlihatkan dua pemuda terakhir di bumi yang berusaha untuk menuntaskan misi penyelamatan, yakni dengan meletakkan tiga batu mulia pada prasasti yang telah ditentukan. Hanya dengan cara itulah roh semesta dapat mengetahui bahwa manusia masih percaya terhadap kehidupan.
Namun, salah satu pengembara dengan nama Shaman (Maha Nanda) harus gugur karena penyakit di tubuhnya semakin ganas. Ternyata, penyakit inilah yang membuat populasi manusia semakin sedikit. Membunuh perlahan setiap manusia, hingga kini hanya tersisa Petra (Petra Sihombing) sebagai pejuang terakhir di bumi.
Entah berapa milenia telah berlalu, di sisi kehidupan yang lain, Rendy (Rendy Pandugo) sebagai “spesies” manusia kembali datang dan berusaha untuk menyingkap cara menyelamatkan bumi.
Dengan warisan dari ibunya (Lili Agustina), Rendy hanya memiliki waktu sebanyak 90 menit untuk mencari tiga batu mulia sebagai satu-satunya alat untuk menyelamatkan planet kelahiran manusia ini.
Seperti judulnya, Putaran berhasil memutarbalikkan lini masa sejarah ini. Antara Petra dan Rendy yang hidup pada eranya masing-masing, berjuang untuk tujuan yang sama. Meskipun berusaha dengan cara yang berbeda, bumi harus tetap diselamatkan.
Cerita ini ingin penonton melihat makna kehidupan yang sesungguhnya. Lewat imajinasi dan latar pegunungan, sungai, serta hutan dengan pepohonan tinggi; Putaran berhasil menangkap penantian sekaligus upaya penyelamatan bumi dari kedua bola mata yang berbeda.
Penasaran bagaimana kelanjutan cerita ini? Saksikan pada video di bawah ini.
Setelah selesai menonton, yuk, kita lanjut ke film pendek kedua yang enggak kalah seru!

2. “Tim Pegulat (Irama)” oleh Sal Priadi, Kunto Aji, dan Surya Penny

Kunto Aji Hingga Hindia, 7 Musisi Ini Ciptakan 3 Film Pendek dalam Collabonation (734899)
searchPerbesar
Cuplikan adegan Kristo Immanuel dalam film pendek "Tim Pegulat (Irama)". Sudah nonton? Dok. YouTube/IM3 Ooredoo.
Dengan konsep action-comedy, film pendek Tim Pegulat (Irama) akan membuatmu terbahak dan terenyuh dalam satu waktu.
Di balik cerita yang mengundang gelak tawa, kamu tidak akan percaya bahwa film ini berkisah tentang cita-cita yang harus pupus, siklus hidup statis, momen kehilangan perasaan, hingga kekecewaan.
Semua bermula ketika seorang bersama Tim (Kristo Immanuel) yang telah menjadi suami dan ayah harus mulai melepaskan impiannya sejak lama. Nah, siapa yang sudah merasa relate dengan cerita ini?
Tak hanya sampai di sana, potongan cerita membawa penonton untuk melihat alam bawah sadar Tim yang dihantui mimpi buruk. Tim harus terus mengulang kejadian yang sama, dalam ruangan yang sama, dan melalui paradoks yang sama.
Namun setiap kali mengulang kejadian tersebut, ia selalu mendapatkan pesan yang berbeda. Tim berjalan semakin jauh dan bertemu dengan banyak orang. Sampai akhirnya ia harus berhenti di depan sebuah ruangan. Dari ambang pintu, terlihat Bosnya (Ichal Kate) sedang menyeringai sambil duduk menunggu Tim.
Perbincangan dimulai, sang Bos kemudian menanyakan dan menegur etos kerjanya. Hanya bisa manggut dan mengikuti keinginan si empunya kuasa, Tim mati kutu di depan Bosnya. Selang beberapa menit, karena tidak merasa puas atas jawabannya, Bos mulai mengejek passion Tim terhadap olahraga gulat.
Tim di-roasting habis-habisan. Tak kuat menahan emosi, ia pun akhirnya menyentil bibir Bos.
Latar waktu dan tempat mulai membeku, terjadi pertengkaran yang begitu chaotic tetapi nyentrik dan menarik. Tim terjatuh dan terhindar dari adu pukul, ia merangkak menuju sebuah pintu yang diharapkan dapat membawanya lari dari kenyataan.
Akan tetapi, mana yang jadi kenyataan sesungguhnya? Jangan-jangan, ia masih berada dalam paradoks dan dunia yang berkali-kali ia ulangi barusan?
Daripada kamu ikut terhanyut dalam alam bawah sadar Tim, segera temukan kelanjutan ceritanya dengan melihat video di bawah ini!
Bagaimana? Film pendek yang jenaka ini ternyata menyimpan begitu banyak pesan, bukan? Jangan berhenti di sini! Yuk, lihat film berikutnya.

3. “Angin di Lautan” oleh Baskara, Iga Massardi, Asteriska, dan Naya Anindita

Kunto Aji Hingga Hindia, 7 Musisi Ini Ciptakan 3 Film Pendek dalam Collabonation (734900)
searchPerbesar
Panorama lautan dalam film pendek "Angin di Lautan". Yuk, tonton pada video di bawah! Dok. YouTube/IM3 Ooredoo.
Embus angin laut yang dingin dan asin menyelimuti Suku Bajo, tempat tinggal sebuah keluarga nelayan yang sederhana. Beberapa tahun sebelumnya, sang Ayah (Yayat) harus dijemput yang Maha Kuasa ketika sedang berlayar ke tengah laut.
Akan tetapi, pesan Ayah tak membuat keluarga ini berkecil hati. Pasti sedih, namun tetap bangga. Hal ini karena Suku Bajo memiliki kedekatan dengan laut, sebuah tempat terbaik yang mereka percaya menjadi ranjang peristirahatan nenek moyang.
Inilah yang selalu diingat oleh Kakak (Ajis Santoso) ketika ia mencapai usianya untuk pertama kali berlayar. Adiknya (Fadil Wardana) merengek, tidak ingin ditinggalkan oleh Kakaknya karena takut ia tak kembali seperti yang terjadi pada Ayah mereka berdua.
Di sana pun, di tengah adrenalin yang kian memuncak, ia masih menyempatkan waktu untuk menenangkan si Adik.
Keindahan bahari ditunjukkan dalam setiap menit film pendek ini berlangsung. Angin di Lautan berpesan kepada penonton bahwa alam masih memberikan kesempatan hidup bagi setiap insannya yang berani dan mau berjuang.
Lewat perjalanannya, Angin di Lautan membawa Kakak bersatu dengan samudera lepas, seperti yang Ayahnya lakukan. Dan ketika Adik nantinya sudah cukup dewasa, momen yang sama akan kembali terulang.
Film pendek dengan gaya dokumenter ini begitu menyentuh dan hangat di hati. Apalagi ketika senyuman para nelayan Suku Bajo yang bahagia karena dapat kembali berlabuh dengan selamat.
Saksikan Angin di Lautan dengan menonton video di bawah ini!
Begitulah sekilas cerita dan makna yang diberikan oleh ketiga film pendek Collabonation Series 3.0. Karya-karya ini menjadi saksi bahwa masih ada harapan di tengah pandemi yang sedang berlangsung. Walaupun terpisah secara jarak, tetapi kita semua berada dalam satu dunia yang sama.
Rilis bersamaan, film “Putaran”, “Tim Pegulat (Irama), dan “Angin di Lautan” dapat kamu tonton dan sebarkan secara gratis dari kanal YouTube IM3 Ooredoo. Pastikan juga kamu tidak kehabisan kuota dengan berlangganan Prime dari IM3 Ooredoo Propaid.
Prime dari IM3 Ooredoo Propaid akan memberikan kuota hingga 150 GB dengan Data Rollover dan berbagai keuntungan eksklusif lainnya. Yup! Tentunya fitur dan fasilitas yang tersedia akan menambah kenyamananmu saat menyaksikan Collabonation Series 3.0. Cocok untukmu yang sedang beraktivitas di rumah aja dan harus melakukan semuanya lewat jaringan internet!
Dapatkan Prime dari IM3 Ooredoo Propaid di im3.do/shop, atau mengunjungi Gerai Indosat dan Eraplus terdekat. Melalui sambungan seluler, kamu dapat memilih paket dan periode pembayaran (di awal atau belakangan) yang paling sesuai untukmu!
Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan IM3 Ooredoo