Lawan Hoaks, Sekolah di Brasil Punya Mata Pelajaran Analisis Media

Dilansir Straits Times, Brasil telah mengambil sikap melawan ledakan berita palsu atau hoaks yang membanjiri internet dengan membuat studi analisis media wajib bagi anak-anak sekolah.
"Tujuannya adalah untuk mengajari para siswa untuk mengidentifikasi berita palsu dan ini sudah jadi bagian dari kurikulum nasional di Brasil, karena negara telah memutuskan bahwa itu penting," kata Leandro Beguoci, Direktur Editorial di spesialis pendidikan Brasil, Nova Escola.
Studi analisis media telah menjadi kurikulum wajib sejak Desember lalu, dan masuk menjadi mata pelajaran penting bersama mata pelajaran tradisional lain seperti matematika dan sejarah di beberapa sekolah di Brasil.
Kayo Rodrigues (14) mengatakan, pers Brasil memang tidak sempurna, tetapi memainkan peran penting dalam memberantas berita palsu, karena tidak semua orang memiliki Internet atau alat untuk memeriksa fakta. Dia mendaftar di program "Young Press" yang diluncurkan enam tahun lalu di sekolah umum Casa Blanca di Sao Paulo.
Lucilene Varandas dan Hildenor Gomes do Santos, guru di Casa Blanca memastikan siswa mereka yang berusia 8 hingga 14 tahun, untuk tidak mempercayai semua yang mereka tonton atau baca dari media.
"Ketika saya menerima sepotong informasi, saya mencarinya di Internet dan bertanya lagi, apakah itu benar?," kata Helena Vital (11) yang orang tuanya juga berprofesi sebagai guru.
Dia mengatakan program “Young Press” telah mengajarinya untuk melihat media dari perspektif yang berbeda.
Vital juga menambahkan, bahwa tidak semua hal seburuk kelihatannya. Dia berpesan pada orang-orang agar jangan mengkonsumsi berita tanpa mempertanyakannya atau mengkritisinya terlebih dahulu.
Lucilene Varandas berujar, anak-anak memang tidak memiliki alat khusus untuk memeriksa segala berita secara sistematis, tetapi mereka dapat melihat siapa yang menulis artikel tersebut dan di mana mereka diterbitkan.
“Ini adalah cara dasar bagi semua orang yang kerap mempertanyakan soal kesahihan informasi,” kata Varandas yang juga sedang mencari kemitraan dengan lembaga pemeriksa fakta untuk kepentingan pendidikan anak-anak.
Pemberlakuan mata pelajaran analisis media ini nampaknya berhasil meskipun diterapkan pada usia muda atau anak-anak. Dengan populasi hampir 208 juta orang, Brasil memiliki pengguna media sosial yang sangat besar: 120 juta pengguna WhatsApp, lebih dari 100 juta orang di Facebook dan 50 juta lainnya adalah pengguna Instagram.
Kini, tidak kurang dari 14 rancangan undang-undang yang terkait dengan "berita palsu" sedang diperiksa di Parlemen Brasil. Sepuluh dari 35 partai politik Brasil bulan lalu pun menandatangani perjanjian dengan otoritas pemilihan untuk melawan penyebaran informasi palsu.
"Yang begitu menarik di Brasil adalah literasi media dan teknologi dianggap sama pentingnya dengan literasi klasik," kata Beguoci, seorang jurnalis.
Veronica Martins Cannata, koordinator studi teknologi dan komunikasi di sekolah swasta Dante Alighieri, anak-anak memiliki tanggung jawab sendiri ketika menemukan berita palsu.
"Karena lahir di zaman digital, anak-anak dan remaja harus mengambil tanggung jawab untuk menganalisis konten itu sebelum membagikannya lebih luas," katanya.
