Lebih Dekat dengan Masa Lalu Rosa Verhoeve di Pameran Foto 'Kopi Susu'

2 Agustus 2019 17:00 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Rosa Verhoeve dalam pameran foto 'Kopi Susu' dok Hesti Widianingtyas/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rosa Verhoeve dalam pameran foto 'Kopi Susu' dok Hesti Widianingtyas/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Mendengar kata 'kopi susu' sepintas mengingatkan kepada minuman manis-pahit menyegarkan yang tengah digandrungi banyak kalangan. Tapi, bagi fotografer asal Belanda, Rosa Verhoeve, dua kata ini punya makna lain yang lebih mendalam.
ADVERTISEMENT
Kala itu, ia berada di sebuah bus sesak penumpang di Solo, Jawa Tengah. Di depannya, duduk seorang perempuan tua memandangi Rosa dari atas sampai bawah.
Tiba-tiba, telunjuknya menyentuh hidung Rosa.
"Kopi susu?" tanya dia.
"Kamu kopi dicampur susu?" tanya perempuan itu sekali lagi.
Rosa terheran. Ia tahu yang dimaksud oleh perempuan itu adalah ras campuran dalam dirinya. Sebagai perempuan berkulit putih, darah Indonesianya ternyata masih dapat dikenali.
Pameran foto 'Kopi Susu' dok Hesti Widianingtyas/kumparan
Ya, neneknya berasal dari Jawa Timur. Begitu pula dengan ibunya. Sedangkan kakek dan ayah Rosa berasal dari Limburg, Belanda. Ia juga lahir di Amstelveen --kota dekat Amsterdam-- pada 1959. Tepatnya, dua tahun setelah orang tuanya kembali dari Indonesia.
Tapi, Rosa cuma tahu Indonesia dari cerita kakaknya, dan foto-foto usang yang tersimpan dalam foto album berlapis kulit.
ADVERTISEMENT
"Walau masih kecil, aku sudah merindukan negeri eksotis itu, (negeri) yang membuat orang tuaku terlihat lebih bahagia dalam foto yang menguning akibat dimakan usia," tulis Rosa dalam buku 'Kopi Susu' yang ia terbitkan pada November 2017.
Pameran foto 'Kopi Susu' dok Hesti Widianingtyas/kumparan
Pameran foto 'Kopi Susu' dok Hesti Widianingtyas/kumparan
Lantas, pada 2007, Rosa terbang ke Indonesia untuk memulai proyek 'Kopi Susu'. Sekaligus, agar lebih dekat dengan masa lalu keluarganya. Ia enggak cuma mengunjungi Pulau Jawa, tapi juga ke sejumlah tempat terpencil di mana dirinya tinggal selama berminggu-minggu dengan penduduk lokal.
Proyek ini pun selesai pada 2017. Di tahun yang sama, ia menerbitkan buku 'Kopi Susu' dan memamerkan foto-fotonya di Belanda.
Rosa meninggal dunia pada 2018. Tapi, karyanya masih dikenang di mana-mana. Seperti sekarang, 'Kopi Susu' tengah dipamerkan di Erasmus Huis, Jakarta, mulai hari ini (2/8) sampai 24 Agustus 2019.
Jan Banning di pameran foto 'Kopi Susu' dok Hesti Widianingtyas/kumparan
Menurut Jan Banning selaku seniman dan teman baik Rosa yang turut menemaninya selama berada di Indonesia, pameran ini menyorot dua hal. Pertama adalah identitas, dan kedua adalah masyarakat.
ADVERTISEMENT
"Sungguh suatu hal yang monumental 'Kopi Susu' bisa dipamerkan di Indonesia, tempat kelahiran ibunya Rosa. Proyek ini menjadi contoh ideal yang fokus kepada identitas dengan konteks sosial sebagai latarnya. Mengutip perkataan Rosa, 'Kopi Susu' menjadi percampuran dari realitas dan fiksi. 'Kopi Susu' bukan hanya tentang masa lalu yang enggak bisa diubah, tapi menjadi ruang khayal yang kekal'," tutupnya.