Mengenal Istilah JOMO, Kebalikannya dari FOMO

7 Desember 2022 8:34 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
com-Ilustrasi wanita yang bahagia karena menjaga kesehatan mental. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi wanita yang bahagia karena menjaga kesehatan mental. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Selama beberapa tahun terakhir, banyak dari kita mungkin mendapati diri kita terpengaruh ke dalam perilaku FOMO atau Fear of Missing Out tanpa menyadarinya. Perasaan inilah yang membuat kamu ingin bergabung atau atau mencoba sesuatu yang sedang trendi.
ADVERTISEMENT
FOMO terjadi akibat penggunaan media sosial yang berlebihan, sehingga bisa membuat seseorang membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain. Untuk meminimalisir rasa FOMO yang berlebihan, seseorang harus beralih menjadi JOMO atau Joy Of Missing Out.
Lantas sebenarnya apa itu JOMO? Istilah ini merujuk pada perasaan dan keadaan senang atau baik-baik saja ketika ketinggalan sesuatu yang lagi ramai diperbincangkan banyak orang.
JOMO adalah sebuah fenomena sosiologis kebalikan dari FOMO. FOMO bukanlah hal baru, kita pernah mengalami FOMO hanya karena takut kehilangan sesuatu yang penting, tetapi FOMO diperparah oleh teknologi dan media sosial.
Kemudian, menurut Svend Brinkmann, profesor psikologi Denmark dan penulis buku “The Joy of Missing Out: The Art of Self – Restraint in an Age of Excess”, kehilangan sebenarnya dapat membantu kita menemukan makna kedalaman dalam hidup dan membantu kita menjadi lebih bahagia. 
ADVERTISEMENT
JOMO memungkinkan kita menggunakan waktu, perhatian, upaya, dan uang kita untuk hal-hal yang benar-benar penting untuk mengembangkan hubungan yang lebih sehat, mendapatkan kesadaran diri yang lebih dalam, dan menjadi lebih produktif dalam hidup.
Lalu bagaimana cara beralih dari FOMO ke JOMO?

Bersikaplah nyaman untuk mengatakan tidak

Ilustrasi Perempuan Menolak. Foto: Shutter Stock
Kita semua merasa tertekan untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan, apakah itu bertemu seseorang untuk minum kopi atau menjadi sukarelawan untuk proyek terbaru yang ada di hadapan kita. Maka berhenti untuk mengatakan ya secara otomatis. 
Cobalah untuk mempertimbangkan apakah kamu benar-benar ingin atau perlu melakukannya. Jika kamu tergoda untuk melakukannya hanya karena menurutmu orang lain mengharapkannya, itu alasan yang sangat bagus untuk menolak.
ADVERTISEMENT

Membuat jadwal

com-Ilustrasi membuat to-do-list. Foto: Shutterstock
Rapat kerja, shift sukarela, kewajiban keluarga semuanya menghabiskan sebagian besar jadwal harian kita. Latih JOMO dengan menjadikan waktu untuk diri sendiri sebagai prioritas. Ini bisa berarti waktu sendirian di gym, membaca buku, atau hanya satu jam ekstra untuk berkreasi di dapur dan mencoba resep baru yang ingin kamu buat.

Fokus pada satu hal

com-Ilustrasi seorang wanita sedang membuat list pengeluarannya Foto: Shutterstock
Kamu bisa berfokus pada satu hal yang ingin kamu kerjakan. Jika terlalu banyak hal yang dipikirkan akan membuat kamu semakin panik karena tidak bisa menyelesaikannya semua. Susunlah hal-hal yang paling menjadi prioritas sampai yang tidak.

Ambil jeda media sosial

Ilustrasi ponsel yang dicharge Foto: Unsplash/Andreas Haslinger
Apakah kamu meninggalkan umpan media sosial selama seminggu, atau hanya mengatur beberapa jam tanpa teknologi setelah makan malam setiap harinya? Melepaskan penghasut FOMO online ini adalah langkah menuju arah JOMO. 
ADVERTISEMENT
Ambil tindakan yang disengaja untuk berhenti terjebak dalam apa yang orang lain lakukan atau katakan atau apa yang mereka banggakan dan gunakan waktu itu untuk fokus pada hal-hal yang bermakna bagi hidupmu.
Laporan Mutiara Oktaviana