Mengenal Istilah Quiet Firing dalam Dunia Kerja
ยทwaktu baca 3 menit

Usai ramai istilah quiet quitting di LinkedIn, TikTok maupun media sosial lainnya, kini sebagai tandingannya muncul fenomena baru sebagai respons atas tren sebelumnya, yaitu quiet firing.
Berbeda dengan quiet quitting yang dilakukan oleh pekerja, quiet firing rupanya dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja. Fenomena ini tentu memiliki dampak yang signifikan bagi pekerja.
Dari sisi pekerja, perlakuan quiet firing dapat membuat mereka merasa tidak mempunyai kompetensi di kantor, terisolasi, tidak diapresiasi yang akhirnya menimbulkan pekerja mengundurkan diri (resign).
Lalu, sebenarnya apa sih quiet firing ini?
Mengutip Washington Post, Quiet firing adalah fenomena pemecatan secara diam-diam yang dilakukan perusahaan pemberi pekerjaan atau atasan. Fenomena ini dilakukan oleh perusahaan agar mereka tidak harus memberikan pesangon maupun semua hal yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sederhananya, quiet firing adalah ketika perusahaan dengan sengaja menciptakan iklim kerja buruk sehingga kamu pelan-pelan memilih untuk mengundurkan diri. Ini seperti seseorang yang ingin putus tetapi tidak memiliki keberanian untuk melakukannya sendiri.
Contoh quiet firing bisa kamu lihat, misalnya bertahun-tahun tanpa kenaikan gaji atau promosi, mengalihkan tanggung jawab ke tugas-tugas yang membutuhkan lebih sedikit pengalaman, atau penarikan pengembangan dan peluang kepemimpinan yang disengaja.
Salah satu sinyal paling jelas bahwa kamu mengalami quiet firing adalah ketika atasanmu mulai mendelegasikan tugas kepada bawahan atau mengurangi jam kerjamu. Ketika hal itu terjadi tanpa penjelasan, hal ini merupakan tanda yang diberikan oleh atasan agar kamu bisa meninggalkan pekerjaanmu saat ini.
Kemudian, tanda lainnya yang harus kamu perhatikan adalah ketika kamu diberikan proyek atau kegiatan yang tidak diinginkan siapa pun. Kamu tidak lagi mendapatkan tugas yang menantang atau menarik di mana kamu dapat berkembang, atau lebih buruk lagi, atasan kamu secara aktif berperilaku sedemikian rupa sehingga menyebabkan kamu untuk mengundurkan diri.
Lalu bagaimana cara menanganinya?
Kalau kamu sudah merasa akan diperlakukan seperti itu, tindakan pertama yang kamu harus lakukan adalah dengan menyelesaikan konflik secara langsung. Ada baiknya untuk berbicara dengan manajer divisi. Setelah itu kamu akan melihat apakah perubahan di kantormu akan terjadi atau sebaliknya.
Kemudian, jika berbicara dengan manajer divisi tidak berhasil, cobalah berbicara dengan atasan yang lebih tinggi darinya. Kemungkinan manajer divisimu ini juga merasakan hal yang sama. Hal ini mungkin mengapa atasanmu tidak dapat memberi umpan balik dan perhatian yang layak kamu dapatkan.
Membawa masalah ke pemberitahuan atasan mereka mungkin memberimu jawaban yang kamu butuhkan. Sementara itu, jika kamu kesulitan berkomunikasi dengan manajemen, carilah kelompok sumber daya karyawan atau serikat pekerja yang dapat membantu menyampaikan pendapatmu kepada otoritas yang tepat. Ini juga membantu kamu memahami hak-hak sebagai karyawan agar tidak dieksploitasi.
Laporan Mutiara Oktaviana
