Mulai Meragukan Kemampuan Diri adalah Ciri Seseorang Alami Quarter Life Crisis

Millennialverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi quarter life crisis. Foto: Dok. Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi quarter life crisis. Foto: Dok. Freepik

Quarter life crisis terjadi pada usia 18-30 tahun yang merupakan masa transisi dari fase remaja ke fase dewasa.

Menurut Psikolog Klinis Fakultas Psikologi UGM Azri Agustin, ciri-ciri seseorang mengalami quarter life crisis salah satunya adalah mulai ragu dengan kemampuan diri sendiri.

"Seperti bertanya, 'Apakah aku bisa? Jangan-jangan aku gagal," ucap dia, dilansir laman UGM.

Selain meragukan kemampuan diri, ciri lainnya ialah mempertanyakan tujuan hidup. Misalnya untuk apa hidup dan untuk apa dihadirkan di dunia ini.

Sehingga memunculkan ciri lainnya yakni, enggak termotivasi, ada kekhawatiran terhadap masa depan, dan kecewa dengan pencapaian yang sudah didapat.

“Kalau krisis ini terus-terusan tidak tertangani maka akan menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih berat misal cemas atau anxiety, terlalu khawatir, dan takut. Jika kita menilai diri sendiri tidak memiliki kemampuan, tidak berharga, maka ini akan menjadi indikasi bahwa orang mempunyai depresi,” jelas Azri.

Ilustrasi . Foto: Thinkstock

Seseorang yang sudah berada di tahap cemas akan khawatir terhadap hal-hal yang dianggap menjadi sumber ancaman, muncul ketegangan motorik seperti merasa tegang, tidak nyaman, gelisah, detak jantung meningkat, hingga penurunan konsentrasi.

Sedangkan depresi ditandai dengan tiga gejala utama yaitu murung atau sedih berlebihan, hilang minat, dan mudah lelah.

“Gejala ini menetap, setiap hari ada, bangun tidur sudah merasa lelah, merasa sedih terus bahkan menangis, lalu tidak minat untuk makan, belanja, dan beraktivitas. Jika gejala ini menetap sampai dua minggu bisa dikatakan sebagai depresi,” sebut Azri.

Kiat Hadapi Quarter Life Crisis

Ilustrasi . Foto: Shutterstock

Quarter life crisis dapat terasa begitu berat karena pada masa ini seseorang dituntut untuk mengembangkan dirinya dan hidup mandiri. Mulai dari memilih dan menyelesaikan pendidikan, sampai mengembangkan karier untuk ditekuni.

"Selain itu, juga ada tuntutan dari lingkungan untuk mulai menemukan pasangan, membentuk keluarga, dan diharapkan bisa mapan secara finansial," jelas Azri.

Adanya ketimpangan antara tuntutan dengan kemampuan seseorang dalam mengatasinya inilah yang jadi penyebab quarter life crisis terjadi.

Maka itu, untuk menghadapinya, ia menyarankan fokus dan komunikasikan harapan serta masalah yang dihadapi kepada orang sekitar.

"Jangan ragu juga untuk membantu bantuan psikolog atau profesional, tidak perlu menunggu masalahnya menjadi rumit untuk mendatangi psikolog,” pungkas Azri.