Overthinking, Kebiasaan Merugikan yang Sering Tidak Disadari

Millennialverified-green

·waktu baca 1 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi overthinking. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi overthinking. Foto: Shutter Stock

Overthinking saat ini mungkin sudah menjadi pembahasan yang melekat di kalangan anak muda.

Namun sering kali tidak menyadari sedang mengalami overthinking. Maka itu, penting untuk mengetahui apa artinya supaya memiliki kesadaran terhadap diri sendiri.

Overthinking adalah menggunakan terlalu banyak waktu untuk memikirkan suatu hal dengan cara yang merugikan," ujar Wirdatul Anisa Psikolog pada Kuliah Online CPMH UGM, dilansir laman UGM.

Ketika seseorang mengalami overthinking, justru dia menghambat penyelesaian masalah dan bukan mencari solusi. Hal ini dapat mengarah kepada ruminasi dan khawatir.

ilustrasi Foto: Shutterstock

Ruminasi adalah kecenderungan untuk terus memikirkan hal yang telah berlalu. Contohnya merasa hari ini akan lebih baik jika kemarin melakukan suatu hal tertentu.

Sedangkan khawatir adalah kecenderungan memikirkan prediksi yang negatif.

Jika khawatir dan ruminasi terus berlanjut, dapat berubah menjadi catastrophizing yaitu salah satu bentuk distorsi kognitif.

Ketika seseorang mengalami catastrophizing, ia akan melebih-lebihkan, memiliki pikiran yang tidak rasional, serta merasa tidak mendapatkan jalan keluar.

“Sering kali seseorang yang mengalami catastrophizing tidak menyadari dan percaya bahwa mereka tidak punya kuasa atas kecemasan ekstrem yang dirasakan. Mereka cenderung merasa tidak berdaya,” jelas Wirdatul.

Ilustrasi. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Mengubah kebiasaan overthinking

Untuk mengubah kebiasaan overthinking perlu kemauan dan tekad yang kuat.

Mengurangi kebiasaan overthinking bisa dimulai dari menyadari apa yang sedang dipikirkan, kemudian mengarahkan pikiran ke arah yang lebih rasional.

Sebenarnya pikiran negatif belum tentu salah, namun yang terpenting menyadari bahwa kita memiliki kendali atas pikiran tersebut.

Pikiran, perasaan, dan perilaku merupakan hal yang berkaitan. Sehingga ketika mampu berpikiran positif, maka akan muncul perilaku yang positif.