Penghasilan Besar Sulit Menabung? Waktunya Cek Kesehatan Finansial!

Millennialverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi melakukan transaksi keuangan dengan bank syariah. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi melakukan transaksi keuangan dengan bank syariah. Foto: Shutterstock

Gaji besar di atas UMR tapi akhir bulan tetap kehabisan uang, masih punya utang, dan tidak bisa investasi, kamu merasakannya?

Jika iya, kamu tidak sendiri. Pasalnya fenomena ini memang sering terjadi pada orang-orang yang ada di usia produktif. Padahal, ada saja di antara mereka yang belum punya tanggungan.

Pengelolaan keuangan memang bukan jadi kendala mereka yang berpenghasilan rendah, tapi juga oleh yang berpenghasilan tinggi, lho. Ada beberapa faktor yang membuat seseorang kesulitan mengelola keuangannya.

Kendalanya bisa berasal dari gaya hidup boros, kebutuhan mendadak tidak terduga, dan kurangnya literasi keuangan dengan baik. SVP Islamic Ecosystem Solution Bank Syariah Indonesia (BSI), Muhammad Syukron Habiby, mengatakan bahwa kunci dari keuangan adalah perencanaan.

“Kekayaan itu ternyata bukan soal besaran, tapi soal bagaimana merencanakan. Bisa saja kita memiliki penghasilan yang di atas rata-rata, tapi kalau tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik tentu juga tidak akan membuat kita khusnul khotimah. Sampai ke tujuan akhir yang benar,” jelasnya.

Pentingnya Perencanaan Keuangan Syariah

Melalui Instagram Live bertajuk Sehat Financial Bersama Bank Syariah Indonesia pada 17 April lalu, Habiby mengatakan, kini ada banyak produk finansial yang membantu anak muda untuk melakukan perencanaan keuangan.

BSI punya beberapa produk yang sesuai dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan anak muda. Mulai dari tabungan berencana, tabungan emas, cicil/gadai emas, reksadana syariah, kepemilikan rumah, dan masih banyak lagi.

video youtube embed

Khusus mengenai keuangan di masa Ramadhan dan Lebaran, termasuk pengelolaan THR, Habiby mengajak setiap orang untuk mempertimbangkan membayar kewajiban.

“Setiap kali kita mendapat rezeki, pertama kali kita harus pertimbangkan sisihkan kewajiban, utang kita. Karena utang itu dibawa sampai akhirat, jelas Habiby.

Ia pun menjelaskan, saat memutuskan berutang kita perlu mempertimbangkan porsi 30 persen. Artinya, setiap orang tidak boleh punya utang di atas 30 persen dari penghasilannya.

Selanjutnya, Habiby mengatakan bahwa setiap kali menerima THR atau gaji, kita perlu menunaikan pembayaran zakat atau sedekah untuk membersihkan rezeki. Setelah itu, barulah sisihkan investasi, lalu pengeluaran.

“Ambil 10 sampai 30 persen untuk cadangan investasi sesuai kemampuan dan ketertarikan kita. Kemudian ambil 20 hingga 40 persen untuk pengeluaran rutin kita,” tegasnya.

Jika semua porsi ini bisa dikelola dengan baik, barulah seseorang bisa memakai uangnya untuk urusan lifestyle seperti jalan-jalan atau beli gadget. Dengan begitu, hidup bisa selalu terencana.

“Manusia sukses dalam mengelola kekayaan bukan bergantung pada jumlah yang diterima, tapi bagaimana melakukan pentasyarufan atau penyaluran dana dengan tata kelola dengan baik,” tambahnya.

Ya, perencanaan keuangan dengan panduan syariah bisa membantu kita mengelola keuangan dengan baik. Tak hanya itu, bahkan membantu kita menyelesaikan kewajiban dan ibadah melalui tata cara syariah.

Masih banyak info menarik terkait keuangan dan keuangan syariah dalam IG Live Sehat Financial Bersama Bank Syariah Indonesia. Kamu yang ketinggalan, bisa tonton selengkapnya melalui YouTube kumparan berikut ini, ya!

Advertorial ini dibuat oleh kumparan Studio