Psikolog: Merawat Boneka Arwah Layaknya Bayi Mengarah pada Perilaku Tak Wajar

Millennialverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Photo by Jansel Ferma from Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Photo by Jansel Ferma from Pexels

Tren spirit doll atau boneka arwah sedang viral di masyarakat. Boneka yang merupakan benda mati, dianggap seperti makhluk hidup bagi sebagian orang.

Beberapa orang tersebut bahkan tidak segan untuk merawat boneka arwah layaknya seorang bayi.

Menanggapinya, psikolog dan dosen Unair Prof. Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., melihat fenomena tersebut sebagai hal yang perlu menjadi perhatian.

Menurutnya tindakan tersebut telah mengarah kepada perilaku yang tidak wajar.

“Ketika seseorang menganggap boneka hidup dan percaya bahwa mereka akan bertumbuh besar, maka hal itu telah keluar dari batas akal sehat. Perilaku tersebut menjadi keanehan tersendiri yang disebabkan oleh berbagai faktor,” tuturnya, dilansir laman Unair.

Salah satu faktor yang mungkin ada yakni mengikuti tren di kalangan selebritis.

“Bisa jadi mereka hanya mencari sensasi agar popularitasnya naik,” sambung Nurul.

Meskipun demikian, segala sesuatu tetap ada batasnya agar tidak merugikan kesehatan mental.

“Karena apabila perilaku tersebut dibiarkan terjadi secara terus-menerus, maka akan berdampak terhadap kondisi kesehatan mental," terang dia.

"Jika ketidakwajaran itu tidak segera dihentikan, maka berisiko pada keadaan psikopatologinya (ketidakstabilan fungsi kejiwaan yang meliputi indera, kognisi, dan emosi). Segala kondisi berisiko harus ditangani sedini mungkin agar tidak semakin sulit untuk mengembalikan kepada kondisi yang rasional dan realistis,” tambah Nurul.

Boneka Bisa Jadi Strategi Pemulihan Mental, asal...

Sejatinya bagi sebagian orang boneka juga dapat menjadi strategi pemulihan mental.

“Misalnya ketika seseorang pernah kehilangan anaknya, maka boneka dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. Karena secara psikologis boneka bisa menjadi sarana penyegaran pikiran bagi individu asal tidak berlebihan, dan harus tetap di bawah pendampingan dari psikolog atau psikiater,” jelas Nurul.

Akan tetapi terlepas dari manfaat tersebut, sejatinya boneka hanyalah benda mati. Mereka menjadi perangkat yang tidak memiliki hal-hal khusus, kecuali ada pengaruh dari perlakuan sang pemilik.

Ketika memperlakukan boneka secara spesial, maka cari tahu alasannya. Apabila hanya mengarahkan kepada perilaku negatif yang melampaui batas kewajaran, harus segera dihentikan agar tidak terjebak pada situasi yang kurang sehat, baik secara psikologis maupun mental.