kumparan
28 Mei 2019 14:05

Riset: 39 Persen Pelajar Cewek Akui Dibully Saat Menstruasi

Ilustrasi Menstruasi
Ilustrasi Menstruasi Foto: Shutterstock
Tiap cewek pasti bakal mengalami menstruasi sebagai salah satu tanda pubertas. Tapi sayangnya, masih ada pelajar cewek yang mengalami perundungan atau bullying karena menstruasi masih dianggap tabu.
ADVERTISEMENT
Bahkan sebanyak 39 persen pelajar cewek mengaku pernah mengalami situasi bullying saat menstruasi. Hasil ini didapat dari studi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) yang dilakukan Yayasan Plan Internasional Indonesia pada 2018 di SD dan SMP di tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, NTT, dan NTB.
Laisa Wahanudin, Ketua Pelaksana Harian Jejaring AMPL (Air Minum dan Penyehatan Lingkungan), menjelaskan bullying ini karena kurangnya pengetahuan ketika seorang pelajar cewek mengalami ‘tembus’ di rok atau celananya.
“Hal ini mengakibatkan masalah psikis, misalnya mereka jadi malu dan enggak mau sekolah. Jadi melepas kesempatannya belajar secara penuh dan bermain di sekolah,” terangnya dalam acara Aksi Remaja untuk Peduli Menstruasi dalam Peringatan Menstrual Hygiene Day 28 Mei, Kuningan, Selasa (28/5).
Youth Festival: Action for Menstrual Hygiene Education
Youth Festival: Action for Menstrual Hygiene Education Foto: Hesti Widianingtyas/kumparan
Silvia Devina selaku Water, Sanitation, Hygiene, & Early Childhood Development Advisor dari Yayasan Plan Internasional menambahkan, studi ini juga menunjukkan 56 persen pelajar cewek mengalami keluhan psikis saat menstruasi.
ADVERTISEMENT
“Hal ini akibat ditertawakan, disebut genit, sampai dianggap jijik oleh teman-teman,” ujarnya.
Selain itu, 33 persen sekolah enggak memiliki toilet yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Di sisi lain, sekolah dinilai enggak sigap untuk menyediakan fasilitas yang baik bagi pelajar yang sudah menstruasi.
“Fasilitas kebersihan di sekolah masih memprihatinkan dan enggak ramah perempuan. Sekolah harusnya menyediakan fasilitas sanitasi yang higenis. Air yang bersih dan baik. Sering kali air enggak ada atau kurang, dan enggak ada kamar mandi khusus siswi. Sehingga menimbulkan ketidaknyamanan jika mengalami menstruasi ketika akan mengganti pembalutnya.” tutup Laisa.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan