Riset: Cowok Lebih Banyak Jadi Korban Kekerasan Saat Pacaran

Millennialverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Berantem (ilustrasi). (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Berantem (ilustrasi). (Foto: Thinkstock)

Jika kamu mengira bahwa mayoritas korban kekerasan saat remaja pacaran adalah cewek, studi terbaru di Kanada malah menunjukkan hasil yang sebaliknya. Para cowok yang ternyata lebih banyak dilaporkan menjadi korban kekerasan cewek.

Para peneliti dari University of British Columbia (UBC) dan Simon Fraser University (SFU) mencoba melihat tren kekerasan dalam pacaran dalam 10 tahun terakhir (2003-2013). Menggunakan data British Columbia Adolscent Health Survey, mereka meneliti siswa sekolah cowok dan cewek masing-masing sebanyak 18.441 dan 17.459 orang.

Hasilnya, tren kekerasan pacaran turun secara umum dari 5,9 persen ke 5 persen saja. Namun penurunan ini dianggap punya perbedaan antara siapa yang menjadi korban kekerasan berdasarkan gender. Cowok masih jadi korban kekerasan sebanyak 5,8 persen, berbeda dengan cewek yang berada di presentase lebih rendah, 4,2 persen.

Apa sebabnya? Penulis utama penelitan ini, Catherine Shaffer yang juga mahasiswa S3 di SFU menjelaskan bahwa riset lebih lanjut diperlukan untuk memahami fenomena mengapa cowok lebih banyak menerima perilaku kekerasan saat pacaran.

“Mungkin dikarenakan bahwa secara sosial dimaklumi bagi cewek untuk memukul atau menampar cowok dalam hubungan pacaran. Fenomena ini juga ditemukan pada penelitian-penelitian remaja di negara lain,” kata Shaffer dilansir situs resmi kampus UBC.

Shaffer menambahkan bahwa para remaja yang mengalami kekerasan saat pacaran cenderung untuk melakukan hal-hal yang berisiko. Mereka bisa mengalami depresi dan bahkan melakukan percobaan bunuh diri.

“Itulah mengapa sangat baik melihat adanya penurunan (presentase) kekerasan pacaran dalam rentang 10 tahun terakhir,” terang Shaffer.

Menurut peneliti senior Elizabeth M. Saewyc yang juga profesor di UBC, banyak intervensi kebijakan yang dilakukan untuk mencegah kekerasan pacaran punya asumsi bahwa cewek yang sering jadi korban.

“Namun temuan ini memberitahu kita tidak selalu demikian adanya. Dan kekerasan dalam pacaran, baik itu secara fisik, seksual, atau bentuk lainnya, siapapun pelakunya, tidak pernah dibenarkan,” kata Saewyc.

Saewyc juga berpesan, “Penyedia layanan kesehatan, orang tua, dan sekolah atau pihak lainnya bisa melindungi para remaja dari kekerasan pacaran dengan membantu mereka mendefinisikan seperti apa hubungan pacaran yang sehat, bahkan (harus diberitahu) sebelum mereka melakukan pacaran.”