Riset: Video Game Kekerasan Justru Bikin Anak Muda Punya Rasa Tolong-menolong

Millennialverified-green

·waktu baca 1 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi. Foto: REUTERS / Mike Blake
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Foto: REUTERS / Mike Blake

Mungkin video game yang menampilkan kekerasan dianggap berdampak buruk buat anak muda.

Tapi, menurut riset terbaru yang diunggah di Computers in Human Behavior, melaporkan sebaliknya. Jenis video game ini justru dapat memunculkan rasa tolong-menolong, lho.

Ilustrasi bermain game. Foto: Shutterstock

Dilansir Psy Post, risetnya berjudul 'The Fortnite social paradox: The effects of violent-cooperative multi-player video games on children’s basic psychological needs and prosocial behavior', dengan tim peneliti beranggotakan Anat Shoshani dan Maya Krauskopf.

Penelitiannya diikuti 845 pelajar di Israel. Responden terbagi antara pemain Fortnite dan Pinball, baik sebagai single player atau multiplayer.

Mereka ditanyakan tentang seberapa suka bermain video game, seberapa akrab dengan pemain lainnya, dan seberapa percaya diri dalam bermain.

Peneliti juga menanyakan kalau mereka dapat hadiah uang USD 150 atau Rp 2,1 juta, berapa banyak yang mau disumbangkan ke yayasan anak-anak.

Kemudian, ketika responden menganggap risetnya sudah selesai, mereka ditanya apakah ingin ikut lagi di penelitian lainnya dan seberapa banyak waktu yang mau diberikan buat terlibat.

Hasil Riset

Ilustrasi bermain game. Foto: Shutterstock

Ternyata, pemain Fortnite lebih mau menyumbang uang dan waktunya daripada mereka yang bermain Pinball.

Responden yang bermain Fortnite sebagai single player juga lebih prososial.

Ini bisa disebabkan oleh beberapa alasan, yang utama di antaranya mungkin karena kesenangan bermain. Peneliti menyebut permainan kekerasan menghasilkan lebih banyak emosi positif, dan skor prososial meningkat seiring dengan meningkatnya kepuasan bermain.