“Seragam Sekolah Saya Disobek dan Dicoret dengan Pulpen”

Menjadi seorang tunarungu enggak membuat cowok pemilik nama lengkap Gustian Hafidh Mahendra ini berputus asa.
Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, Hafidh bersama teman-temannya sesama tunarungu justru membuat satu gerakan positif, yakni mendirikan kelas bahasa Indonesia yang ditujukan untuk para difabel di Yogyakarta.
Tujuan Hafidh saat itu hanya satu, yakni untuk menjauhkan teman-temannya dari kejadian buruk yang pernah menimpanya.
Yap, beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum Hafidh memulai aksi positifnya ini, cowok yang kini menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini rupanya punya sederet cerita pilu yang pernah ia alami dulu.
Kepada kumparan, Hafidh mengaku karena keterbatasan fisiknya, dia kerap menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman-teman sekolahnya. Sebab, saat itu, Hafidh memilih untuk bersekolah di SMP dan SMA untuk umum.

“Saat SMP, saya sering dibully. (Tindakannya) bermacam-macam,” kenang Hafidh dengan raut muka sedih.
Enggak sekadar bullying secara verbal. Hafidh bahkan kerap mendapatkan tindakan bully yang mengacu pada tindakan kekerasan.
“Saya sering dipalak (diminta uang secara paksa). Bahkan, seragam sekolah saya disobek dan dicoret-coret dengan pulpen,” lanjut Hafidh dengan menggunakan bahasa isyarat.
Karena kejadian itu, Hafidh sempat merasa enggak percaya diri untuk bergaul dengan anak-anak lainnya. Alhasil, dia lantas menarik diri dari pergaulan.
“Saya takut untuk mengajak anak normal berkomunikasi. Dulu, untuk ngobrol, saya menggunakan tulisan,” timpal pemilik akun Instagram @gustian.hm.
Singkat cerita, Hafidh lulus dari bangku SMP. Dia lalu melanjutkan pendidikannya ke sekolah umum, SMAN 1 Sewon, Yogyakarta.
Di sekolah ini, dia lantas menyadari bahwa bahasa Indonesia bisa dipahami dan dipelajari dengan sebuah proses secara bertahap.
“Saat SMA, saya mulai mengerti dan paham bagaimana membuat kalimat yang baik. Makanya, April 2015, saya membuat kelas bahasa Indonesia ini dan kelas bahasa isyarat untuk masyarakat umum,” lanjut Hafidh.
Perjuangan Hafidh dan teman-temannya berbuah manis. Teman-teman tunarungu di Yogyakarta enggak lagi bergantung pada fitur video call untuk berkomunikasi dengan sesamanya.
Kini, mereka bahkan bisa berkomunikasi dengan banyak orang dengan menggunakan aplikasi pesan instan karena sudah mampu menyusun kalimat dengan baik dan benar.
“Saya ingin tunarungu bisa berkomunikasi dan punya masa depan yang layak sama seperti yang lainnya,” tutup Hafidh menegaskan.
