Suka Duka Jadi Siswa Sekolah Asrama, Mana yang Pernah Kamu Alami?

Siswa sekolah asrama memiliki segudang cerita yang enggak dialami oleh siswa sekolah reguler. Suka dan duka yang dihadapi siswa sekolah asrama pun berbeda dengan siswa sekolah reguler.
Salah satu duka yang hanya dialami siswa sekolah asrama adalah terbatasnya interaksi dengan dunia luar. Selain itu, ada juga empat kekurangan lain yang hanya dialami oleh siswa asrama. Apa saja, ya?
1. Makanan seadanya

Menurut Firya, alumni SMA Plus Negeri 17 Palembang, berada di asrama berarti harus berbagi makanan dengan ratusan teman lainnya. Alhasil menu makanan yang disediakan pihak sekolah seadanya saja.
"Kalau makan siang sama malam harus buru-buru, karena berebut dengan yang lain. Soalnya ada yang ambil ayamnya dua, satunya diumpetin dalam nasi," kata dia kepada kumparan, Rabu (3/10).
2. Minim hiburan
Salah satu aturan yang ada di sekolah asrama yakni membatasi siswanya dalam menggunakan handphone dan laptop. Firya sendiri sudah tiga kali handphone-nya disita.
Beda lagi dengan Mia, alumni SMA Islam Nurul Fikri Boarding School, yang mengaku selama SMA enggak pernah menonton film High School Musical. "Film yang boleh ditonton, harus dilihat dulu sama tim disiplin asrama. Waktu itu ada teman bawa film High School Musical, terus ketahuan dan akhirnya kami enggak jadi nonton," ujar Mia.
3. Banyak aturan

Firya menilai, menjadi siswa asrama berarti harus siap diatur hidupnya oleh sekolah. Mulai dari bangun tidur sampai kembali terlelap, semua kegiatan sudah terjadwal dengan jelas. Siswa pun wajib untuk mengikuti aturan ini, atau harus siap-siap kena hukuman.
"Bangun pagi pukul 04.00, terus mandi, ibadah, sarapan, apel pagi, dan masuk sekolah pukul 06.45. Baru pulang sekolah pukul 16.30, dan ibadah lagi, disusul belajar malam. Baru tidur pukul 22.00," terang Firya.
Enggak jarang siswa merasa jengah dengan padatnya jadwal dan peraturan yang ada. "Banyak yang kabur kegiatan pas di asrama. Aku sendiri pernah kabur enggak ikut ibadah dengan sembunyi di balik ranjang. Hahaha...," kenang dia.
4. Waktu bersama keluarga berkurang
Biasanya, sekolah asrama hanya memperbolehkan siswa dikunjungi orangtuanya sebulan dua kali atau bahkan satu kali. Bagi Mia sendiri, kurangnya waktu bersama orangtua dan keluarga menjadi hal paling menyedihkan.
"Jauh dari orangtua adalah duka paling nyata, sih. Jauh dari orangtua ini juga memberikan banyak implikasi. Seperti saat nenekku sakit, aku tahunya ketika sudah dalam kondisi parah, dan baru dijemput pas nenekku meninggal. Padahal aku sangat dekat dengan nenek," tutur Mia.
Meski begitu, asrama enggak selalu buruk. Ada juga hal-hal seru yang hanya dialami oleh siswa sekolah asrama. Berikut empat di antaranya.
1. Selalu bersama teman

Salah satu hal yang paling disukai Firya yaitu menjalani hari bersama teman. Semua kegiatan di sekolah, mulai dari belajar, makan, sampai tidur selalu dilakukan bersama-sama.
"Seru karena selalu ramai. Belajar bareng, ada teman mengerjakan PR, sampai dihukum juga bareng-bareng," katanya.
2. Hubungan pertemanan jadi solid
Tingginya intensitas bertemu teman menyebabkan kuatnya hubungan yang dimiliki. Mia menyebut pertemanannya dengan siswi lain di sana masih terjaga kuat hingga lulus.
"Gue merasa pertemanan yang dibentuk di sekolah itu solid banget. Iyalah, dari bangun sampai tidur ketemunya orang-orang itu lagi," ucap dia.
Menurut Mia, hal ini juga membuatnya belajar menghargai karakter orang yang berbeda-beda. "Aku banyak belajar untuk kompromi sama sifat dan karakter teman. Contohnya, ada yang suka tidur kalau lampunya mati, tapi ada juga yang suka kalau lampunya nyala. Jadi kami rembukin dulu biasanya biar sama-sama enak," tutur Mia.
3. Diperlakukan spesial oleh orangtua

Sekolah asrama berarti harus berada jauh dari orangtua. Namun saat kembali berkumpul dengan orangtua, pasti siswa sekolah asrama akan diperlakukan spesial karena sudah lama enggak bertemu.
"Orangtua melihatnya aku susah makan dan hidup sulit di asrama, jadi biasanya tiap bulan dikirim makanan ringan satu dus besar. Belum lagi kalau pulang ke rumah, orangtua jadi baik sekali menyediakan semua makanan yang aku suka," kata Mia.
4. Lebih mandiri
Bagi Firya, jauh dari orangtua juga berarti bisa belajar untuk hidup mandiri. Sebab, di sekolah asrama dituntut untuk bisa mengendalikan diri, dan mengatur kebutuhan sehari-hari seorang diri.
"Kan jadwal sekolahnya padat, dan dulu di SMA juga cukup disiplin, jadi mentalnya kuat. Makanya teman-temanku yang merantau kuliah di luar kota semuanya kuat," ujar dia.
