Syarat Jadi Kurator: Harus Bisa Pahami Sudut Pandang Pengunjung

Meski tidak harus lulusan Seni atau Sejarah saat berkuliah, menjadi seorang kurator setidaknya harus punya wawasan dan referensi literasi yang baik berkenaan dengan tema kurasi yang dia kelola.
Ryzki Wiryawan, seorang kurator Museum Kota Bandung menyarankan, seorang kurator harus rajin membuat tulisan ilmiah baik buku atau artikel serta membekali dirinya dengan memperluas wawasannya.
Semisal, karena Ryzki adalah seorang kurator museum yang memaparkan sejarah Kota Bandung, maka minimal dia harus memahami teori metodologi sejarah, sehingga segala jenis koleksi yang diperlihatkan pada publik nantinya bisa dipertanggungjawabkan.
Ryzki menambahkan, sebagai seorang kurator museum, dia juga harus meghadapi tantangan untuk mengemas sejarah menjadi sesuatu yang tidak membosankan dan menarik untuk diamati.

“Selebihnya kurator harus bisa memahami sudut pandang pengunjung museum. Karena yang dianggap menarik oleh kurator kan belum tentu disukai pengunjung,” jelas Ryzki yang juga merupakan salah satu pendiri Komunitas Aleut.
Seorang kurator baiknya juga mengantongi sertifikat dari Kemendikbud dan mengikuti kegiatan sertifikasi sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Sertifikasi ini nantinya juga berpengaruh pada penghasilan yang dimiliki oleh seorang kurator.
Meski menurut Ryzki sistem pembayaran kurator berbeda-beda, umumnya, seorang kurator tetap akan dapat gaji bulanan. Sedangkan untuk yang sifatnya temporer, seperti pameran, event, dan lain-lain, kurator akan dibayar per project.
“Besaran gaji kurator tergantung pada pengalaman, sertifikat yang dia punya dan banyaknya karya ilmiah yang dihasilkan,” ujar Ryzki.
