Ternyata Ini Alasan Kenapa Lulusan D3 dan S1 Banyak yang Menjadi Pengangguran

14 Juli 2022 12:57
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi mencari lowongan pekerjaan secara online di tengah pandemi. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mencari lowongan pekerjaan secara online di tengah pandemi. Foto: Getty Images
ADVERTISEMENT
Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2022, tingkat pengangguran di Indonesia tercatat telah mencapai 5,83 persen dari total penduduk usia kerja sejumlah 208,54 juta orang. Dari angka tersebut, hampir 14 persennya merupakan lulusan diploma dan sarjana (S1).
ADVERTISEMENT
Menurut Head of Human Capital di PT Praweda Ciptakarsa Informatika dan alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNAIR 2009, Alfeus Nehemia, data ini menunjukkan sebuah ironi. Bagaimana tidak, masih banyak lulusan pendidikan tinggi yang justru berakhir menjadi pengangguran.
Mengutip laman UNAIR, Alfeus mengungkap bahwa sebagai seorang Human Capital, dirinya kerap kesusahan mencari orang yang layak dipekerjakan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Banyak para pelamar kerja yang enggak relevan atau enggak dibutuhkan oleh perusahaan saat ini.
“Kalau kalian bilang susah cari kerja, kami sebagai perusahaan juga bilang susah ya cari karyawan. Akibat adanya mismatch antara keterampilan yang dibutuhkan dan yang tersedia,” kata Alfeus dikutip dari laman UNAIR, Kamis (14/7).
Alasan yang kedua menurut Alfeus adalah ekspektasi penghasilan dan juga status yang tinggi dari para pelamar kerja. Saat lulus dari perguruan tinggi yang bergengsi, enggak sedikit para fresh graduate memiliki ekspektasi yang tinggi untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Mereka terlalu percaya diri dengan melabeli dirinya sebagai fresh graduate yang tinggi padahal belum tentu memiliki kompetensi yang layak.
Ilustrasi mencari kerja secara online. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mencari kerja secara online. Foto: Shutter Stock
“Perusahaan enggak hanya melihat almamater sekolah saja, tapi juga melihat kompetensinya seperti apa, layak kita bayar tinggi atau enggak,” jelas Alfeus.
Alasan yang ketiga ini adalah terbatasnya penyedia lapangan kerja. Situasi pandemi menyebabkan banyak perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran. Hal ini membuat angka pengangguran dengan lapangan kerja yang ada pun juga enggak sebanding.
“Hampir 29,12 juta penduduk usia kerja terdampak pandemi. Mungkin sudah sedikit recover tapi perlu diingat, lulusan baru yang menunggu mendapatkan pekerjaan selalu bertambah setiap tahunnya,” ungkapnya.
Alfeus mengingatkan bahwa tantangan generasi muda pasca-pandemi ini dalam mencari kerja akan jauh lebih berat. Mereka harus bersaing dengan ribuan orang untuk memperebutkan lapangan kerja yang semakin sedikit.
ADVERTISEMENT
Laporan Afifa Inak
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020