Tips Memulai Karier Sebagai Fotografer dari Kelas Pagi

Fotografi kini menjadi hobi yang banyak digemari orang bahkan beberapa sudah menganggapnya sebagai gaya hidup. Sama seperti seni lainnya, fotografi bisa menjadi salah satu bentuk mengekspresikan diri. Enggak sedikit juga orang yang ingin menjadikan hobi ini menjadi karier.
Dalam acara Kelas Pagi yang menjadi salah satu rangkaian acara Jakarta International Photo Festival (JIPFest) kemarin (26/6), Kelas Pagi berbagi pengalaman serta tips berkarir sebagai fotografer komersil lewat talkshow bertajuk 'Idealis VS Komersil' di CoHive Filateli, Jakarta.
Bagi pemula, membangun portofolio menjadi hal yang sangat penting. Tanpa portofolio, seorang fotografer enggak bisa menjual jasanya dan menarik minat klien.
Fotografer sekaligus alumni Kelas Pagi, Irfan Hartanto, mengungkapkan kesulitannya saat mulai berkarir sebagai seorang fotografer. Sejak awal, ia tertarik fotografi model. Namun, lulusan arsitektur ini berkali-kali ditolak oleh pihak agensi model. Irfan harus membayar biaya yang cukup besar.
Ada beberapa tips yang dilakukan Irfan dalam perlahan-lahan membuat portofolionya.
"Misalnya aku lihat toko roti, terus aku foto dan aku tawarkan ke mereka mau dibikinin iklan atau enggak. Kalau dapet kan lumayan," ujarnya.
Irfan menambahkan, bisa juga melakukan jasa foto ke mahasiswa desainer di Jakarta. Sebab mahasiswa desainer membutuhkan jasa seorang fotografer dan akan terjadi hubungan timbal balik antara keduanya.
Menurut fotografer dan alumni Kelas Pagi yang lain, Shakti Siddarta, untuk pemula juga sebaiknya mencari bantuan dari Production House (PH). Tujuannya untuk menghindari trik yang diberikan oleh agensi model kepada seorang fotografer.
"Untuk pemula sih, lebih baik mencari Production House (PH) yang pintar. Karena kalau enggak, bisa kena trik-trik yang merugikan kita," ujar Shakti.
Irfan bercerita, ia pernah kena trik agensi yang menawarkan pembayaran jasa berupa cicilan. Hasilnya, pelunasan cicilannya hampir bertahun-tahun lamanya dan Irfan enggak bisa melawannya dengan hukum.
"Tapi, kalau punya dana sendiri sih lebik baik jalan sendiri (tanpa PH), karena untungnya akan lebih besar," ujar Shakti.
Sebagai pemula, seorang fotografer akan menerima semua pekerjaan. Biasanya akan mengikuti maunya klien dan kemauan pasar.
"Karena hidup jadi fotografer ada dua pilihan. Idealis atau mengikuti pasar," ujar Irfan. "Kalau idealis langsung diterima itu bagus. Tapi kalau idealismu enggak diterima, terpaksa ngikutin pasar," lanjutnya.
Namun jika namanya sudah mulai dikenal, biasanya klien akan meminta jasa karena memang sudah cocok dengan apa yang diinginkan. Sehingga perdebatan mengenai idealisme satu sama lain lebih sedikit.
"Kalau foto brand biasanya kita lebih nurut sama klien karena teknikal. Tapi kalau foto editorial, cover album, dan lainnya akan melewati proses yang lebih panjang karena mereka punya guideline-nya sendiri dan fotografer punya idenya sendiri," ujar Shakti.
Terkadang, enggak menutup kemungkinan juga ide seorang fotografer yang akhirnya digunakan ketimbang permintaan klien.
"Kalau begini baiknya setelah foto permintaan klien, minta waktu sebentar untuk foto buat diri sendiri. Kalau disukai klien jadinya kan bagus, kita lebih dipercaya lagi," ujar Irfan.
Jadi, sudah seberapa yakin kamu ingin menekuni karier sebagai seorang fotografer?
Penulis: Lavira Andaridefia
