Mengintip Sistem Peringatan Dini terhadap Bencana Alam di Jepang

Nutrisionis, ASN Balai Besar Rehabilitasi BNN, ASNation Indonesia I S2 Manajemen Bencana Universitas Pertahanan RI, S1 Gizi Kesehatan Universitas Gadjah Mada, D3 Gizi Politeknik Kesehatan Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Miratul Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta (25/06/2021) – Tak terasa hari ini adalah hari terakhir kegiatan Kuliah Kerja Luar Negeri (KKLN) secara online bagi mahasiswa Program Studi S2 Manajemen Bencana Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan RI (Unhan RI). Mereka menimba ilmu dari National Research Institute for Earth Science and Disaster Resilience (NIED) yang membahas tentang “Development Of Early Warning System and Disaster Information Sharing System Technology Adaptation After The 2011 Sendai Earthquake and Tsunami.”
Sambutan hari ini disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Keamanan Nasional Laksamana Pertama TNI Dr. Endro Legowo, S.E., M.A.P. Dan jalannya acara dipandu oleh moderator Dina Subagia, S.Pd., M.Han yang merupakan alumni mahasiswa dari Manajemen Bencana Unhan RI, sementara Master of Ceremony (MC) yaitu Lexi Jalu Aji, mahasiswa S2 Manajemen Bencana Unhan RI.
Sebagai narasumber, Satoru Yusa, M.Sc. dari NIED. Beliau adalah ahli di bidang geografi sekaligus peneliti di NIED. NIED merupakan Badan Penelitian dan Pengembangan Nasional Jepang yang bertujuan untuk melindungi kehidupan dan penghidupan masyarakat dari bencana alam serta mempersiapkan masyarakat agar tangguh menghadapi bencana alam. Hal tersebut dilakukan NIED melalui penelitian tentang bencana yang disebabkan oleh gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor dan perubahan iklim.
Pemanfaatan Teknologi untuk Sistem Peringatan Dini Terhadap Bencana
Jepang mengalami berbagai macam bencana alam dari tahun ke tahun, seperti halnya dengan Indonesia. Bencana gempa bumi, tsunami, banjir, erupsi gunung berapi merupakan bencana alam yang sering menghampiri Jepang. Pemerintah Jepang melakukan banyak upaya untuk memperkuat fungsi ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana, salah satunya melalui NIED . NIED melaksanakan banyak kegiatan dalam upaya untuk membangun wadah berbagi informasi bencana yang efektif khususnya dalam membangun masyarakat tangguh bencana.
Pemerintah Jepang mengembangkan beberapa sistem peringatan dini (early warning system) terhadap bencana. Mereka mempunyai MOWLAS untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi sebenarnya dari bahaya secara real time. MOWLAS juga membantu untuk melakukan respon yang lebih tepat terhadap bencana. Data yang ada pada MOWLAS terkumpul di pusat data, dan dipublikasikan serta disebarluaskan melalui situs website mereka. Sehingga semua orang dapat mengakses, kapanpun dan dimanapun. Selain itu terdapat pula “Kyoshin Monitor” atau monitor gerakan kuat yang menggambarkan dan menyiarkan langsung semua aktivitas seismik di kepulauan Jepang. Mereka juga mempunyai sistem peringatan dini terhadap tsunami berupa S-net, N-net dan DONET.
Next Step
Teknologi dan sarana prasarana lain dalam upaya penyediaan informasi dalam upaya manajemen bencana akan lebih bermanfaat jika disebarluaskan kepada pihak-pihak terkait sesuai dengan tujuan. Informasi terkait bencana dan penanggulangannya khususnya sebagai upaya peringatan dini sangatlah penting disebarluaskan. Hal tersebut untuk membangun kesadaran bersama mengenai kondisi bencana yang ada dan bagaimana upaya-upaya mengurangi resikonya. Kesadaran masyarakat agar lebih tangguh bencana pun tidak lepas dari kerjasama berbagai pihak.
Mereka juga mengembangkan Shared Information Platform for Disaster Management (SIP4D) atau platform untuk berbagi informasi manajemen bencana. SIP4D adalah platform pertama untuk manajemen bencana di Jepang. Information Support Team (ISUT) pun diluncurkan pada tahun 2018, hal tersebut terinspirasi dari NIED dan SIP4D. ISUT bertujuan untuk mendukung pengorganisasian informasi bencana bagi pemerintah daerah terdampak khususnya pada saat bencana besar terjadi.
Kondisi pandemi COVID-19 pun dirasakan dampaknya oleh Jepang. Bencana datang dengan tiba-tiba tidak bisa kita hindari. Pemerintah Jepang pun menyiapkan semua penanggulangan bencana disesuaikan dengan upaya pengurangan resiko penularan dan penyebaran COVID-19. Protokol kesehatan dijalankan, dan mereka menyiapkan tempat evakuasi yang lebih aman dengan menghindari tiga hal yaitu ruang tertutup dengan ventilasi kurang bagus, tempat yang ramai dengan banyak orang, dan jarak yang terlalu dekat untuk berinteraksi.
Dari uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penyediaan dan pengembangan sistem peringatan dini terhadap bencana. Sistem peringatan dini pun harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan bisa diakses oleh semua masyarakat, kapanpun dan dimanapun. Selain itu, penyebaran informasi dalam upaya pengurangan risiko bencana pun sangat dibutuhkan. Sinergitas semua pihak menjadi kunci penting dalam membangun masyarakat tangguh bencana. Penanggulangan bencana disesuaikan dengan upaya pengurangan resiko penularan dan penyebaran COVID-19. [MA]
