BBMKG: Aki dan Kabel Sirene Tsunami di Selat Sunda Sering Dicuri

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi peringatan Tsunami. Foto: Mang Kelin/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peringatan Tsunami. Foto: Mang Kelin/Shutterstock

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II (BBMKG Wilayah II) mengungkapkan beberapa sirene tsunami yang memantau perairan Selat Sunda kerap tidak berfungsi karena aki dan kabelnya dicuri.

“Ada juga perangkat atau sirene yang berada di sekitar masjid. Di beberapa lokasi, kita sering mengalami kehilangan aki dan kabel. Itu yang cukup sering terjadi,” ujar Kepala Stasiun Geofisika, Margiono, Rabu (7/10).

Margiono mengungkapkan kehilangan tersebut terjadi sekitar tiga bulan lalu. Namun, saat ini perangkat sudah kembali normal setelah diperbaiki.

“Sekitar tiga bulan lalu. Kita mengganti aki karena memang sudah beberapa kali hilang. Di lokasi tersebut bukan hanya peralatan kita, tetapi perangkat milik operator telekomunikasi seperti Telkomsel juga pernah mengalami kehilangan,” katanya.

“Memang sekarang apa pun yang dianggap bisa diambil, terutama kabel dan aki, rawan dicuri,” tambah Margiono.

Margiono mengatakan pihaknya selalu melakukan uji coba sirene setiap bulan untuk memastikan perangkat tersebut dalam kondisi baik.

“Setiap tanggal 26 kita melakukan uji coba sirene. Dari pengecekan tersebut kita bisa mengetahui apakah kondisinya masih menyala atau tidak. Selain itu, kondisi peralatan juga kita pantau secara rutin. Kalau diketahui dalam kondisi mati atau tidak berfungsi, kita segera melakukan pengecekan ke lokasi,” katanya.

Tidak hanya sirene, sebelumnya sejumlah perangkat pemantauan tsunami, seperti buoy atau pelampung pemantau tsunami yang berada di tengah laut, juga hilang dicuri.

“Kalau buoy, itu sudah lama hilang. Posisi buoy memang berada di laut dan tidak ada yang menjaga secara langsung. Masyarakat mungkin tidak mengetahui bahwa benda tersebut merupakan peralatan pemantauan, sehingga bisa saja diambil, dibongkar, atau bahkan dijual,” ujarnya.

Margiono mengatakan alat-alat yang berada di tengah laut sangat rentan hilang atau dicuri.

“Untuk peralatan yang berada di laut, memang risikonya seperti itu. Ada juga peralatan lain yang bentuknya mirip buoy dan digunakan untuk memantau kondisi gelombang,” katanya.