BLDF dan UNJANI Bangun Green Campus, Siapkan 150 Titik Pemilah Sampah

Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) bersama Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) memperkuat kolaborasi untuk mewujudkan konsep Green Campus di lingkungan kampus.
Kolaborasi tersebut mencakup pengelolaan sampah, penghijauan, hingga pengembangan living laboratory yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk riset dan pengembangan berbagai model pengelolaan lingkungan.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan kolaborasi dengan UNJANI diharapkan dapat membangun sinergi dalam menjaga dan mengembangkan lingkungan kampus secara berkelanjutan.
"Intinya memang kolaborasi ini diharapkan agar terjadi sinergitas di antara BLDF dan UNJANI untuk membangun Green Campus. Green Campus itu artinya dari apa yang dilakukan di kampus, baik itu pengelolaan sampah, baik itu penghijauannya," kata Mutiara seusai kegiatan BLDF: Green Campus Sadar Lingkungan di Kampus UNJANI, Senin (21/9).
Menurut Mutiara, kolaborasi tersebut juga mencakup penyediaan sarana living laboratory atau laboratorium hidup. Fasilitas itu dapat dikembangkan melalui kegiatan riset bersama maupun kegiatan lainnya.
"Termasuk tadi juga disampaikan sarana terkait dengan living laboratory atau laboratorium hidup yang bisa kita lakukan bersama, baik itu riset maupun bentuk-bentuk yang nanti semoga bisa misalnya apabila model itu bisa direplikasi nanti ke depannya untuk bisa juga dilakukan di komunitas di sekitarnya," ujarnya.
Mutiara menilai kampus memiliki posisi penting dalam mendorong kepedulian terhadap lingkungan. Terlebih, perubahan iklim saat ini telah menjadi realitas yang dampaknya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
"BLDF kami percaya bahwa kampus sendiri adalah salah satu episentrum yang sangat diperlukan untuk memelihara lingkungan sendiri. Karena perubahan iklim itu adalah realita, adalah nyata," katanya.
Karena itu, generasi muda perlu dipersiapkan untuk melanjutkan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
"Generasi muda adalah betul-betul tongkat estafet selanjutnya yang kita harus berikan agar bumi ini bisa berkelanjutan dan lestari," tutur Mutiara.
Ia menegaskan kolaborasi antara BLDF dan UNJANI tidak hanya dilakukan dalam jangka pendek. Program tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi generasi muda untuk melanjutkan berbagai upaya pelestarian lingkungan.
"Tapi kolaborasi ini memang adalah kolaborasi jangka panjang yang memang kami harapkan bisa juga menjadi suatu titik tolak bagi generasi muda yang ke depan untuk bisa terus melanjutkan perjalanan ini," ujarnya.
Dalam program tersebut, BLDF dan UNJANI berencana menyediakan 150 titik fasilitas pemilahan sampah di lingkungan kampus. Selain itu, kegiatan penghijauan yang sebelumnya dilakukan pada April lalu akan kembali dilanjutkan.
Program Green Orientation juga direncanakan berlangsung setiap tahun sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program lingkungan di lingkungan kampus.
Mutiara juga menjelaskan dukungan bagi mahasiswa yang memiliki kontribusi atau gagasan nyata dalam mewujudkan Green Campus. Menurutnya, Djarum Foundation memang memiliki program beasiswa melalui Bakti Pendidikan yang diperuntukkan bagi mahasiswa di seluruh Indonesia.
Namun, untuk program lingkungan di UNJANI, dukungan yang tengah dibicarakan lebih diarahkan pada Green Impact Project.
"Kalau beasiswa dari Bakti Pendidikan Djarum Foundation, itu sudah ada di semester 5 memang diluncurkan untuk seluruh Indonesia," kata Mutiara.
Sementara itu, program yang berkaitan dengan lingkungan masih dalam tahap pembahasan awal. Bentuk dukungannya bukan berupa beasiswa, melainkan pembiayaan untuk menjalankan proyek lingkungan.
"Kalau untuk ini yang terkait dengan lingkungan, tadi saya kebetulan ngobrol dengan Prof. Silvy. Baru terjadi tadi pembicaraan. Tapi masih sangat dini, tapi yang kita bicarakan tadi lebih kepada Green Impact Project," ujarnya.
Mutiara menjelaskan Green Impact Project merupakan bagian dari rangkaian program yang sebelumnya diawali dengan Green Orientation, kemudian Green Narrative, Green Leadership Conference, hingga tahap implementasi melalui Impact Project.
"Impact Project itu nanti adalah Impact Project yang bukan beasiswa, tapi ada suatu biaya atau financing yang diberikan untuk melakukan project," katanya.
Nantinya, proyek yang berhasil diimplementasikan juga akan mendapatkan penghargaan sebagai bentuk apresiasi terhadap gagasan dan aksi yang dilakukan mahasiswa.
"Jadi intinya lebih itu agar itu bisa dijalankan," ujar Mutiara.
UNJANI Arahkan Kampus Berwawasan Lingkungan
Rektor UNJANI Prof. Agus Subagyo mengatakan pihaknya menyambut baik kolaborasi bersama BLDF. Menurutnya, kerja sama tersebut sejalan dengan visi UNJANI yang salah satunya berwawasan lingkungan.
"Yang pertama kami menyambut baik kolaborasi antara Bakti Lingkungan Djarum Foundation bekerja sama dengan UNJANI. Ini Bu Mutiara Diah dari Djarum Foundation mendukung sekali terkait dengan program ini," kata Agus.
Agus menyebut kerja sama tersebut bukan pertama kalinya dilakukan. Pada pembukaan Dies Natalis UNJANI pada April lalu, Mutiara Diah Asmara juga hadir dalam kegiatan penanaman pohon di lingkungan kampus.
"Dan ini tidak pertama kali, ini kemarin pada saat pembukaan Dies Natalis di bulan April dari Djarum Foundation, Bu Mutiara Diah juga hadir di sini, melaksanakan penanaman pohon dan sebagainya," ujarnya.
Menurut Agus, kolaborasi dengan BLDF merupakan bagian dari implementasi visi UNJANI yang berwawasan lingkungan.
"Ini merupakan wujud kolaborasi antara perguruan tinggi dengan salah satu entitas yang ada di kelompok bisnis dan sebagainya. Sehingga ini bagian dari melaksanakan misi dari UNJANI. Jadi di dalam salah satu visi UNJANI itu ada berwawasan lingkungan," katanya.
Ia menjelaskan mahasiswa perlu diperkenalkan dengan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Hal tersebut berkaitan dengan tantangan global seperti pemanasan global dan perubahan iklim.
"Perkembangan dunia global, global warming, climate change luar biasa, sehingga kita ingin berkontribusi untuk menurunkan global warming, climate change, dengan peran-peran kecil, langkah-langkah kecil," tutur Agus.
Langkah tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui penanaman pohon, pengenalan, sosialisasi, serta upaya melestarikan lingkungan.
"Apalagi mereka ini semua para pemimpin nanti ke depannya, sehingga mereka harus punya visi-misi dan juga kepemimpinan yang berorientasi pada green leadership," katanya.
Agus berharap ketika para mahasiswa kelak menjadi pemimpin, prinsip lingkungan dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam setiap kebijakan yang dibuat.
"Diharapkan mereka semuanya dalam membuat keputusan pada saat mereka jadi pemimpin, itu membuat keputusan, keputusan apapun itu, harus berbasis pada green, lingkungan hidup dan ramah lingkungan," ujarnya.
Menurut Agus, penerapan kebijakan yang berorientasi pada lingkungan memiliki manfaat luas. Ia mengatakan kondisi alam sangat dipengaruhi oleh cara manusia memperlakukannya.
"Alam bisa menjadi teman, tapi alam juga bisa menjadi ancaman bagi kita. Tentu apakah alam itu jadi ancaman atau jadi teman, itu tentu tergantung dari kita manusia," katanya.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk memahami sekaligus menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan atau sustainable development.
BLDF Serahkan 30 Fasilitas Pemilah Sampah
Dalam kegiatan tersebut, BLDF secara simbolis menyerahkan 30 fasilitas pemilah sampah kepada UNJANI. Jumlah tersebut nantinya akan dikembangkan hingga mencapai 150 titik.
"Bu Mutiara Diah juga menyerahkan 30 fasilitas pemilah sampah dan sebagainya, dan rencananya memang tidak 30, tapi 150 titik yang akan diberikan ke Universitas Jenderal Achmad Yani," kata Agus.
Ia mengatakan penyediaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari proses UNJANI menuju kampus yang berkonsep Green Campus.
"Karena kita kampusnya ini memang sengaja ke depannya kita arahnya ke Green Campus. Memang sekarang ini karena dibangun, mungkin ada banyak pohon tapi memang masih panas. Ini kan berproses," ujarnya.
Selain penghijauan dan pemilahan sampah, UNJANI juga tengah mengembangkan sarana pengelolaan sampah.
Agus menyebut pihaknya telah mengembangkan sejumlah alat yang nantinya dapat digunakan dalam proses pemilahan dan pengelolaan sampah di lingkungan kampus.
"Kita semuanya akan terus berkolaborasi dengan Djarum Foundation agar supaya ini semuanya, termasuk juga pengelolaan sampah. Pak WR 2 juga sudah mengembangkan alat-alat, nanti proses pemilahan, pengelolaan sampah dan sebagainya, itu akan bermanfaat bagi kita semuanya yang ada di sini," pungkasnya.
