Cerita Warga Riau Dikepung Asap Karhutla: Takut Bayi Kena ISPA-Masker 2 Lapis

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Riau. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan keluhan kesehatan, mulai dari sakit tenggorokan hingga kekhawatiran terhadap dampak buruk kualitas udara.
Salah seorang warga Kabupaten Kampar, Trya Ayu, mengaku mengalami sakit tenggorokan akibat kondisi udara yang memburuk. Ia bahkan berencana membeli obat di apotek untuk meredakan radang yang dirasakannya.
"Ini sudah masuk sepekan. Sebelum berangkat kerja, mau singgah ke apotek beli obat untuk radang tenggorokan," kata Trya kepada kumparan, Rabu (14/10).
Menurut Trya, kabut asap di Kabupaten Kampar saat ini cukup tebal. Ia menduga paparan asap turut menjadi salah satu penyebab tenggorokannya terasa sakit.
"Asap di sini memang sudah sangat tebal, mungkin karena itu juga salah satu penyebab radang tenggorokan," ujarnya.
Untuk mengurangi paparan asap saat beraktivitas di luar rumah, Trya mengaku menggunakan masker berlapis. Ia bahkan harus mengganti maskernya hingga tiga kali sehari.
"Ini aja setiap hari masker dipakai tiga lapis. Kalau hanya satu, bisa tembus. Dan itu cuma sekali pakai aja. Siang kalau pergi makan dan sore pulang kerja, diganti lagi," ungkapnya.
Curhat Warga Rokan Hulu
Keluhan serupa dirasakan warga Pasir Pengaraian, Kabupaten Rokan Hulu, Dyah Anggraini. Ia mengatakan kabut asap telah menyelimuti wilayah tersebut selama hampir tiga bulan.
"Ini sudah masuk bulan ketiga kabut asap, setiap hari harus menghirup udara asap yang baunya sangat menyengat," kata Dyah kepada kumparan melalui telepon WhatsApp.
Dyah mengaku aktivitasnya di luar rumah menjadi terbatas karena khawatir kondisi udara yang buruk akan berdampak pada kesehatannya. Saat ini, ia hanya keluar rumah untuk bekerja.
"Sebenarnya bisa saja, tapi takut kalau ujungnya nanti akan sakit. Ini saja keluar rumah hanya untuk pergi ke kantor," ujarnya.
Curhat Warga Dumai
Sementara itu, Rina, warga Kota Dumai, juga mengeluhkan kabut asap yang semakin tebal. Ia khawatir kondisi tersebut berdampak pada kesehatan kedua bayinya.
"Saat buka pintu, asapnya terlalu banyak. Ditambah saya memiliki dua bayi, yang membuat khawatir akan membuat bayi rentan terserang penyakit ISPA," kata Rina.
Keluhan lainnya datang dari Mustika, warga Kabupaten Rokan Hilir. Ia mengaku khawatir kondisi kabut asap akan mengganggu persiapan pernikahannya yang akan digelar dalam waktu dekat.
"Kan enggak mungkin ya kita buat acara dengan kondisi udara yang tidak sehat, bisa mengganggu acara," ujarnya.
Mustika berharap kondisi udara di kampung halamannya segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman tanpa terganggu kabut asap.
Di Kota Pekanbaru, Rahmadi juga merasakan perubahan kualitas udara dalam beberapa hari terakhir. Ia yang sehari-hari beraktivitas di luar rumah untuk berbelanja ke pasar kini mengurangi kegiatan tersebut karena asap yang menyengat.
"Biasanya setiap pagi pergi belanja ke pasar bersama istri. Tapi sekarang sudah enggak, menyengat di hidung. Sudah pakai dua lapis masker pun masih terasa," kata Rahmadi.
Rahmadi berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas untuk mengatasi kabut asap yang semakin mengganggu aktivitas masyarakat.
"Pemerintah harusnya cepat tanggap dengan kondisi seperti ini, jangan ditunda-tunda untuk mengatasi kabut asap. Kalau dilihat dari indeks udara, sudah sangat tidak sehat, bahkan malam tadi sudah mencapai berbahaya," pungkasnya.
